<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tabligh Ahmadiyah</title>
	<atom:link href="http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Nov 2009 13:44:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>bm</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tabahmadiyahjf.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tabligh Ahmadiyah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/osd.xml" title="Tabligh Ahmadiyah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Khalifah Ahmadiyah : Hamba-hamba Allah yang Pemurah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/khalifah-ahmadiyah-hamba-hamba-allah-yang-pemurah/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/khalifah-ahmadiyah-hamba-hamba-allah-yang-pemurah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 13:44:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Jum&#039;at]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[KHUTBAH JUM’AH HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba. Tanggal 25 September 2009 dari Baitul Futuh London UK` TENTANG : KEISTIMEWAAN IBADUR RAHMAN (HAMBA-HAMBA ALLAH YANG MAHA PEMURAH) &#8220;Hamba-hamba yang sejati dari Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan diatas muka bumi dengan merendahkan diri dan apabila orang-orang jahil menegur mereka, mereka menghindari mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=34&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KHUTBAH JUM’AH<br />
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.<br />
Tanggal  25 September 2009  dari Baitul Futuh London UK`<br />
TENTANG : KEISTIMEWAAN IBADUR RAHMAN<br />
(HAMBA-HAMBA ALLAH YANG MAHA PEMURAH)</p>
<p>    &#8220;Hamba-hamba yang sejati dari Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan diatas muka bumi dengan merendahkan diri dan apabila orang-orang jahil menegur mereka, mereka menghindari mereka itu dengan anggun seraya mengucapkan: “Selamat Sejahtera !!” Dan mereka yang melewatkan  malam untuk bersujud dan berdiri sembahyang dihadapan Tuhan mereka. Dan mereka berkata: “ Ya Tuhan kami, hindarkanlah dari kami azab neraka jahannam, karena azabnya itu penderitaan yang sangat hebat sekali. Sesungguhnya neraka itu seburuk-buruk tempat istirahat dan seburuk-buruk tempat menetap. Dan mereka, yang apabila membelanjakan harta tidaklah boros dan tidak pula kikir, melainkan mengambil jalan tengah diantara kedua keadaan itu. Dan mereka yang tidak berseru kepada suatu tuhan lain selain Allah, dan tidak membunuh jiwa, yang telah dilarang oleh Allah, kecuali dengan alasan tepat, dan tidak pula berzina, dan barangsiapa berbuat demikian ia akan menerima hukuman atas dosanya itu. Akan digandakan azab pada hari qiamat dan dia akan tinggal didalamnya terhina. Kecuali mereka yang bertobat dan beriman dan beramal saleh, karena mengenai orang-orang itulah Allah akan mengubah kejahatan-kejahatan mereka dengan kebaikan-kebaikan, dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. Dan barangsiapa yang bertaubah dan beramal saleh sesungguhnya ia kembali kepada Allah dengan taubah yang sebenarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka melalui sesuatu hal yang sia-sia mereka berlalu dengan sikap yang agung. Dan orang-orang yang, apabila ayat-ayat Tuhan mereka dibacakan dihadapan mereka, tidak memperlihatkan perangai sebagai orang-orang tuli dan buta, melainkan mereka mendengarkannya dengan penuh perhatian. Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami agar isteri-isteri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertaqwa.” Orang-orang demikianlah yang akan dianugerahi kamar-kamar kebebasan di Surga, karena mereka bersabar, dan mereka akan disambut didalamnya dengan penghormatan dan doa selamat, Mereka akan tinggal kekal didalamnya. Itulah sebaik-baik tempat istirahat dan tempat menetap&#8221;. (Al Furqan : 64-77)</p>
<p>Bulan Ramadhan tiba dan sudah pergi lagi. Ucapan-ucapan Ied Mubarak masih terus berdatangan, sejak akhir bulan Ramadhan sampai sekarang. Semoga demi meraih keridhaan Allah swt kita betul-betul sudah berusaha mengadakan perubahan kesucian pada diri kita selama bulan Ramdhan itu, dan jika betul-betul sudah memperoleh perubahan suci pada diri kita, smoga Allah swt memelihara dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Perasaan dan pikiran kearah itu yang timbul didalam hati kita adalah tujuan utama dari ibadah bulan Ramadhan itu.</p>
<p>Allah swt telah memberitahukan didalam Alqur’an beberapa tanda-tanda dan keistimewaan amal saleh jika hal itu semua diterapkan didalam kehidupan sehari-hari manusia bisa menjadi Ibadur Rahman (Hamba Tuhan Yang Maha Pemurah). Didalam ayat yang saya tilawatkan itu terdapat semua tanda-tanda dan keistimewaan yang patut diamalkan oleh manusia. Diantaranya untuk mengingatkan manusia terhadap kewajiban-kewajiban diri sendiri, kewajiban terhadap masyarakat, dan kewajiban terhadap hak-hak Allah swt. Jika manusia berusaha untuk mengamalkan itu semua dan menghasilkan peringkat amal yang tinggi, maka Allah swt akan memanggil mereka Ibadur Rahman dan memberi khabar suka tentang keridhaan yang akan dianugerahkan kepada mereka, yakni akan dianugerahkan surga sebagai tempat tinggal yang tetap bagi mereka.</p>
<p>Jadi, setelah Bulan Ramadhan berlalu, jika kita tetap berjalan diatas petunjuk-petunjuk yang telah diberitahukan Tuhan, maka kita akan menjadi orang-orang berjaya meraih keridhaan-Nya, kita akan mendapat izin memasuki surga-surga-Nya dan akan mendapat bagian dari kenikmatan surga-surga-Nya itu. Itulah sebabnya Allah swt sangat senang dan ridha kepada kita, jika kita telah berhasil mengadakan perubahan suci pada diri kita, dan keadaan kita tetap demikian selamanya.</p>
<p>Keistimewaan pertama Ibadur Rahman, adalah   ?????????? ????? ????????? ???????  &#8211; yamsyuuna alal &#8216;ardhi hawnan &#8211; yakni mereka yang berjalan diatas muka bumi dengan merendahkan diri. Didalam setiap keputusan tentang sesuatu mereka selalu mengambil jalan tengah. Tabi’at mereka tidak menunjukkan kekerasan atau kemarahan tanpa alasan yang kadang-kadang membawa manusia terpeleset kepada perbuatan takabbur. Dan tidak pula menunjukkan sifat kelemahlembutan tanpa alasan atau dibuat-buat sehingga membawa kesan orang lain tidak menaruh hormat kepada mereka. Keistimewaan yang telah disebutkan itu tujuannya bukan hanya diingatkan kepada perseorangan saja, namun ditujukan kepada orang ramai secara Jema’at juga. Jadi, telah diperintahkan kepada orang-orang Jema’at juga untuk menimbulkan keistimewaan seperti itu pada diri masing-masing. Selain itu didalamnya terkandung nubuwatan juga bahwa orang-orang yang termasuk Ibadur Rahman itu akan dianugerahi kemenangan oleh Allah swt. Dan apabila kemenangan telah diraih pada waktu itu mereka jangan menunjukkan perasaan takabbur dan sombong. Pada waktu itu jangan timbul keinginan untuk melakukan pembalasan terhadap lawan-lawan yang pernah berlaku aniaya sebelumnya. Pada waktu jangan menjadi orang-orang yang melupakan Tuhan, melainkan harus berbuat lemah-lembut sambil terus-menerus memantau diri masing-masing apakah hak-hak kewajiban terhadap Allah dan terhadap hamba-hamba-Nya dilaksanakan atau tidak.</p>
<p>Keistimewaan kedua adalah ???????? ??????????? ????????????? ???????? ??????? &#8211; wa idza khootobahumul jaahiluun qoolu salaama &#8211; yakni: dan apabila orang-orang jahil menegur mereka selalu menghinndar dari mereka itu dengan anggun seraya mengucapkan: “Selamat Sejagtera!!” Perlu diulangi, bahwa setiap orang Ahmadi harus mempunyai keistimewaan masing-masing. Menjauhkan diri dari perkelahian dan pertengkaran, memberi pengertian dan nasehat kepada orang-orang yang berbuat jahil, yang berbuat berlebihan dan berbuat kekerasan. Keduanya perlakuan merendahkan diri yang telah dimiliki setiap orang Ahmadi sesuai dengan perintah Allah swt, suasana damai yang telah ditegakkan ditengah masyarakat secara Jema’at, hal itu semua harus selalu diingat. Syaitan akan siap menghadang kalian dengan berbagai macam cara, ia akan menciptakan medan perlawanan yang akan membakar perasaan marah kalian. Dan syaitan akan menuduh kalian: “Tengoklah betapa zalimnya orang-orang ini”. Mendengar perkataan demikian kalian harus bisa mengawal perasaan yang bergolak didalam dada kalian, sambil menampilkan uswah hasanah Rasulullah saw yang telah beliau tampilkan dihadapan para sahabah beliau. Didalam hal itu juga terdapat suatu nubuwatan tentang keadaan Jema’at dimasa depan. Akan tetapi pada zaman ini juga di beberapa negara Islam terutama di Pakistan orang-orang Ahmadiyah menjadi sasaran penganiayaan yang kejam dan perasaan  mereka tengah di iris-iris kesakitan. Pemerintahan disana telah mengeluarkan undang-undang anti Ahmadiyah dan berdasarkan undang-undang itu orang-orang Ahmadiyah dijadikan sasaran penganiayaan dan pembunuhan. Menghadapi perlakuan-perlakuan syaitani semacam itu hamba-hamba Allah Yang Pemurah akan berkata: “Apabila memang kami dianggap berlawanan dengan undang-undang yang kalian buat dengan tangan kalian sendiri lakukanlah sesuai dengan itu, akan tetapi kami tidak akan menjawab perbuatan jahat kalian dengan perbuatan jahat lagi, sebab kami tahu dengan cara demikian akan mengundang keburukan yang lebih parah lagi”.</p>
<p>Melihat keadaan demikian saya akan menasihatkan kepada orang-orang Ahmadi: Jadilah Ibaadur Rahman yang berjaya meraih bagian dari pada keridhaan Allah swt. Sebagaimana telah saya katakan bahwa didalam hal itu mengandung nubuwatan dari Allah swt bahwa pada suatu waktu situasi akan berubah sehingga pada waktu itu kalian akan mengungguli mereka dalam segala segi. Pada waktu itu kalian akan memberi tahu kepada dunia, apa sebenarnya yang dimaksud dengan keadilan, dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan menjaga perasaan orang lain dan mengendalikan perasaan pribadi sendiri, sekalipun kekuatan sepenuhnya sudah ada ditangan kalian. Apa yang tengah terjadi di Pakistan, para penentang disana berusaha dengan berbagai macam cara untuk mengobarkan anti Ahmadiyah dimana-mana, dan sedapat mungkin mereka berusaha melakukan kejahatan yang merugikan orang-orang Ahmadi. Diberbagai tempat mereka tengah menyusun rencana untuk melakukan kekejaman terhadap orang-orang Ahmadi. Oleh sebab itu perkara ini harus dipecahkan oleh Jema’at disana dengan sangat berhati-hati, dan mohonlah bantuan serta pertolongan Allah swt dalam menghadapi suasana demikian dengan sabar dan tabah.</p>
<p>Dalam menjelaskan arti Ibadur Rahman Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Orang-orang yang disebut Ibadur Rahman hakiki adalah mereka yang berjalan diatas bumi dengan lemah-lembut dan apabila orang-orang jahil bertemu mereka dengan muka kasar dan sombong, mereka tampil dengan kata-kata lembut sambil mengucapkan selamat sejahtera kepada mereka. Perkataan kasar dan sombong mereka tidak dijawab dengan perkataan kasar lagi namun dengan lemah-lembut, dan penghinaan mereka dijawab dengan doa bagi mereka, menyerupai sifat Allah sawt Yang Rahman, sebab perlakuan Allah Yang Rahman tidak pilih kasih terhadap siapapun, seperti Dia memberikan faedah dari Matahari, Langit dan Bumi ciptaan-Nya kepada semua makhluk-Nya. Jadi, didalam ayat tersebut Allah swt telah mendedahkan dengan terang sekali bahwa perkataan Rahman dipergunakan bagi Tuhan Yang kemurahan-Nya meliputi semua makhluk yang baik maupun yang buruk.</p>
<p>Jadi, sekarang maupun pada masa yang akan datang kita akan selalu berlaku baik sesuai dengan sifat Tuhan Yang Rahman terhadap manusia yang baik atau manusia yang tidak baik atau buruk, terhadap kawan maupun lawan sekalipun, dan akan berlaku pemaaf terhadap orang-orang yang telah berlaku sangat kejam sekalipun terhadap kita, dan akan memohon pertolongan dengan doa kepada Allah swt untuk diri sendiri juga dan bagi mereka juga agar mereka memperoleh petunjuk dan hidayah dari Allah swt, supaya kita semua selalu termasuk golongan Ibadur Rahman.</p>
<p>Keistimewaan ketiga Ibadur Rahman, adalah ???????????? ??????????? ???????? ???????????  yabituuna lirobbihim sujjadawwaqiyaama &#8211;  mereka yang melewatkan malam untuk bersujud dan berdiri sembahyang dihadapan Tuhan mereka. Beberapa hari yang lalu dalam bulan Ramadhan hal itu telah diamalkan oleh banyak sekali anggota Jema’at. Akan tetapi Allah swt tidak berfirman Ibadur Rahman melewatkan beberapa hari saja melainkan secara dawam, selamanya secara berterusan melewatkan malam untuk bersujud dan berdiri sembahyang dihadapan Tuhan mereka. Maka hal itu merupakan kewajiban yang sangat besar bagi setiap anggota Jema’at khasnya didalam situasi sekarang ini, dimana di beberapa negara orang Muslim para anggota Jema’at tengah dijadikan sasaran berbagai macam kezaliman dan penganiayaan. Para anggota Jema’at bukan hanya harus meningkatkan kepatuhan salat-salat lima waktu namun juga harus meningkatkan salat-salat nafal di malam hari yaitu salat tahajjud dan banyak-banyak memanjatkan doa kehadirat Allah swt. Sebab bangun tengah malam menimbulkan potensi kekuatan untuk menaklukkan diri pribadi.</p>
<p>Demikianlah firman Allah swt, jika kita dengan ikhlas bangun setiap malam menjadi hamba Allah swt yang senantiasa beribadah kepada-Nya, hal itulah yang akan menjadi sarana untuk menjauhkan berbagai macam kesulitan yang dihadapi oleh Jema’at, insya Allah. Maka, perhatikanlah dengan sungguh-sungguh bahwa bangun tengah malam sembahyang tahajjud jangan hanya untuk kepentingan pribadi saja, melainkan panjatkanlah doa  untuk meraih keridhaan Allah swt dan untuk kemajuan Jema’at juga. Jika setiap Ahmadi diseluruh dunia sambil mengharapkan keridhaan-Nya setiap malam sekurang-kurangnya salat tahajjud dua rakaat saja untuk kemajuan Jema’at, maka bisa kita saksikan bagaimana pertolongan Allah swt akan turun kepada kita. Dan bagaimana perlawanan musuh-musuh terhadap Jema’at bisa diatasi karena doa-doa itu. Hazrat Rasulullah saw bersabda bahwa Tuhan telah berfirman kepada beliau, “Aku menjadi begitu dekat kepada hamba-Ku karena ibadah salat nawafil hamba-Ku sehingga Aku manjadi kupingnya dengan itu ia mendengar, Aku menjadi matanya dengan itu ia melihat, Aku menjadi tangannya dengan itu ia memegang, Aku menjadi kakinya dengan itu ia berjalan.” Demikianlah Allah swt menjadi sangat dekat dengan orang yang patuh menunaikan salat tahajjud tengah malam. Dan hal itu menjadi tanggung jawab kita semua untuk meraih qurub Allah swt itu. Berlalunya bulan Ramadhan bukan berarti sudah bebas, boleh bercengkerama atau bergadang sesuka hati sampai tengah malam, atau berbual-bual sampai larut malam, sehingga bangun untuk salat subuh-pun terasa berat sekali. Bukan demikian, bahkan kita harus lebih giat mencari malam-malam itu yang bisa membawa posisi kita lebih dekat lagi kepada Allah swt</p>
<p>Cara-cara untuk menjadi Ibaadur Rahman yang telah Tuhan ajarkan kepada kita didalam bulan Ramadhan, harus selalu kita amalkan yaitu bangun tengah malam dan tunaikan salat tahajjud dan panjatkan banyak doa kepada Tuhan. Amalan-amalan itulah yang akan membawa banyak perubahan besar didalam diri kita dan di dalam Jema’at, insya Allah. Para sahabah Hazrat Rasulullah sawt telah menyempurnakan hak kewajiban mereka seperti itu, sehingga dunia menyaksikan betapa hebatnya perubahan yang ditimbulkan berkat pengamalan nawafil beliau-beliau itu. Jika waktu siang para sahabah harus menghadapi peperangan melawan musuh, maka beliau-beliau r.a. tidak tidur sepanjang malam tenggelam didalam lautan ibadah dan doa sambil menangis dengan rintihan yang memilukan dihadapan Allah swt. Selama ibadah malam seperti itu tetap dilaksanakan oleh orang-orang Islam, mereka akan memperoleh kemajuan secara berkesinambungan. Sekarang hal itu menjadi kewajiban orang-orang Ahmadi untuk mengamalkan-nya secara konsisten dan harus banyak-banyak memanjatkan doa bagi keselamatan dan kemajuan Jema’at. </p>
<p>Hazrat Masih Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Keadaan dunia bangsa Arab ketika Hazrat Rasulullah saw datang ke dunia, bukan rahasia umum lagi, mereka betul-betul jalang dan buas. Mereka tidak tahu berbuat apa-apa selain makan-minum, mereka tidak tahu sama sekali tentang hak-hak Allah swt dan tidak juga tahu apa yang dimaksud dengan hak-hak kewajiban sesama-manusia. Sehingga disalah satu segi Allah sawt menggambarkan mereka seperti firman-Nya:<br />
???????????? ????? ????????????  ????????????   &#8211; ya&#8217;kuluuna kama ta&#8217;kuluunal an&#8217;aam &#8211; artinya mereka makan seperti binatang makan. Maksudnya mereka makan seperti binatang memakan makanan. Setelah itu berkat tarbiyyat Hazrat Rasulullah saw yang sangat membawa kesan terhadap akhlaq mereka sehingga Allah swt berfirman tentang mereka: ???????????? ??????????? ???????? ???????????‏  &#8211; yabituuna lirobbihim sujjadawwaqiyaaman &#8211; mereka yang melewatkan malam untuk bersujud dan berdiri sembahyang dihadapan Tuhan mereka, yakni pada malam hari mereka tidak tidur  tekun bersujud dan berdiri beribadah dihadapan Tuhan mereka. Betapa hebatnya perubahan yang timbul pada mereka berkat tarbiyyat Hazrat Rasulullah saw sehingga telah terjadi perubahan yang agung dan luar biasa sehingga sejarah tidak bisa membuktikan tandingannya. Beliau-beliau itu telah menegakkan cara bagaimana untuk memenuhi hak kewajiban terhadap Allah sawt dan terhadap sesama manusia. Dan beliau saw telah menjadikan kaum biadab yang sudah mati hidup kembali dengan cemerlang. Didalam diri mereka terdapat dua macam kelebihan yang menonjol yaitu, ilmu pengetahuan dan prilaku amal perbuatan. Amal perilaku mereka itu digambarkan dengan firman-Nya :<br />
???????????? ??????????? ???????? ???????????‏  &#8211; yabituuna lirobbihim sujjadawwaqiyaaman &#8211; mereka yang melewatkan malam untuk bersujud dan berdiri sembahyang dihadapan Tuhan mereka. Keadaan pengetahuan mereka adalah demikian banyaknya sehingga telah dilakukan penerbitan buku-buku yang mengandungi ilmu pengetahuan, dan perluasan bahasapun terus berkembang sehingga tidak ada tara bandingannya.</p>
<p>Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi: “Tanpa ruhaniyyat dan tanpa kesucian tidak ada suatu agamapun yang bisa bergerak maju. Didalam Kitab Suci Alqur’an digambarkan bagaimana keadaan dunia sebelum kebangkitan Hazrat Rasulullah saw kedunia. Pada waktu itu orang-orang yang menerima dan masuk Islam adalah orang-orang yang disebut : ???????????? ????? ????????????  ????????????  &#8211; ya&#8217;kuluuna kama ta&#8217;kuluunal an&#8217;am &#8211; artinya mereka makan seperti binatang memakan makanan,  namun sekarang telah digambarkan dengan firman-Nya : ???????????? ??????????? ???????? ???????????‏  ‏  mereka yang melewatkan malam untuk bersujud dan berdiri sembahyang dihadapan Tuhan mereka. Selama belum diperoleh obat penawar dari langit maka kalbu manusia tidak bisa mulus. Langkah manusia selalu bergerak maju, namun ia kadangkala mundur juga. Jika manusia yang bersifat qudsi dan berfitrat suci masih ada, agama bisa maju sebab tanpa itu suatu agama tidak akan bisa maju. Jika ia memperoleh kemajuan juga maka kemajuan itu sifatnya hanya untuk sementara tidak akan bisa tegak untuk selamanya”.</p>
<p>Jadi, kita yang menginginkan Jema’at ini segera mendapatkan kemajuan, kesulitan dan kesengsaraan yang tengah dihadapi oleh sebagian para anggota Jema’at dibeberapa negara, semoga Allah bswt segera menjauhkan-nya. Untuk itu diperlukan obat penawar dari langit. Obat penawar dari langit itu bisa diterima dengan jalan hadir setiap malam dihadapaan Allah swt dan memohon kepada-Nya sesuai dengan hidayat yang telah Dia berikan kepada kita. Untuk itu semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang keempat yang telah dijelaskan oleh Allah swt adalah bahwa Ibadurr Rahman selalu memohon doa kepada Allah swt ???????? ??????? ?????? ??????? ??????????‌ ????? ?????????? ????? ????????‌?‏- ???????? ???????? ???????????? ???????????  &#8211; robbanashrif &#8216;anna &#8216;adzaaba jahannama inna &#8216;adzaabahaa kaana ghorooma &#8211; innahaa saat mustaqorrowwa muqooman &#8211;  “Ya Tuhan kami, hindarkanlah dari kami azab neraka jahannam, karena azabnya itu penderitaan yang sangat hebat sekali. Sesungguhnya neraka itu seburuk-buruk tempat istirahat dan seburuk-buruk tempat menetap. Dia setiap waktu memohon ampun kepada Allah swt, berusaha agar senantiasa berada dibawah naungan-Nya. Setiap orang Ahmadi harus berdoa kepada Allah swt agar kita diselamatkan dari kehinaan didunia maupun diakhirat nanti, semoga Dia menyelamatkan kita dari setiap kesulitan duniawi jahannam, semoga Dia tidak menjadikan kita hamba-hamba keindahan dan kesemarakan dunia, dan semoga Dia menyelamatkan kita dari terbenamnya pikiran kearah dunia semata. Semua perkara dunia yang menjauhkan kita dari kehidupan ukhrawi akan menjadi penyebab terperosoknya kita kedalam lembah neraka jahannam.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang kelima, adalah ?????? ??????????? ???? ???????????  &#8211; idzaa anfaquu lam yusrifuu &#8211; apabila mereka membelanjakan harta tidaklah boros. Mereka tidak berlebihan dalam perbelanjaan, dan tidak pula mereka membelanjakan harta mereka untuk pamer atau ria dan tidak pula membelanjakan harta Jema’at tanpa pikir dahulu. Disini (di Eropa) kebiasaan dalam membelanjakan harta pribadi sudah banyak diketahui dan masih terus berjalan, misalnya membelanjakan harta berlebihan didalam pesta perkawinan. Disini dan di Pakistan juga karena melihat kanan kiri teman-teman telah merayakan perkawinan cukup meriah, hati mereka terpicu ingin mengadakan lebih baik dan lebih banyak lagi jenis makanan yang disajikan didalam perayaan perkawinan. Diwaktu pernikahan juga diadakan jamuan dan diwaktu walimah juga diadakan jamuan yang berlebihan, padahal jamuan bisa saja disediakan secara sederhana. Sebelum berlangsung pernikahan telah berjalan satu macam adat kebiasaan yaitu mengirim surat undangan kepada teman-teman untuk mendi legwana (mewarnai telapak tangan dan jari jemari dengan warna daun (didaerah Sunda disebut daun paca, pentr). Dari pihak perempuan mengundang banyak teman-teman untuk berkumpul mewarnai jari-jemari atau telapak tangan dengan warna mendi. Dibuat berbagai macam cara dan alasan untuk menjadikan perkawinan itu lebih meriah dan lebih dikenal orang. Dari pihak lelaki juga mengadakan keramaian yang berlebihan, mengundang teman-teman dalam jumlah banyak supaya pesta perkahwinan nampak sangat ramai dan meriah. Orang-orang yang datang dari luar juga disebabkan mempunyai banyak uang, mereka membelanjakan harta mereka untuk membuat perhiasan dan membuat jamuan yang sangat berlebihan semata-mata untuk memeriahkan pesta perkawinan. Perbuatan demikian benar-benar israf atau berlebihan yang tidak ada gunanya, padahal biaya sebanyak itu bisa dipergunakan untuk membantu orang-orang miskin, atau bisa untuk membantu orang miskin yang mau kawin namun tidak mampu menyediakan belanja perkawinan yang diperlukan walaupun sederhana. Atau biaya sebanyak itu bisa dipergunakan untuk membantu memelihara anak-anak yatim. Atau dengan biaya sebanyak itu bisa dipergunakan untuk pekerjaan penting lainnya lagi. Perkara-perkara seperti itulah juga jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh dan dihindari sebaik-baiknya bisa membuat manusia menjadi Ibadur Rahman.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang keenam, ialah : ?????? ???????????  &#8211; lam yaqtsuruu &#8211; dan tidak pula kikir atau tidak kedekut. Kebanyakan orang-orang kikir tidak mau membelanjakan harta mereka sekalipun untuk keperluan Jema’at yang penting sekali. Mereka menunjukkan sifat kikir yang amat berlebihan. Apa yang dilakukan orang kikir, biasanya menghitung-hitung uang dan mengkhayal untuk memperbanyak wang dengan berbagai macam cara. Orang kikir jangankan untuk kepentingan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiripun ia tidak mau membelanjakan hartanya. Dia tidak mau menolong sekalipun terhadap saudara-maranya sendiri dan tidak pula ia bersedia menolong orang-orang miskin bahkan ia tidak bersedia untuk membantu keperluan Jema’at. Maka, jika orang yang berharta tidak bersedia membelanjakan hartanya itu dijalan kebaikan, ia tidak akan bisa menjadi Ibadur Rahman. Disatu pihak Allah swt membenci orang yang membelanjakan hartanya secara berlebihan dan dia keluar dari kelompok hamba-hamba-Nya yang Ibadur Rahman, dipihak lain Allah swt tidak menyukai orang yang kedekut atau kikir yang tidak mau membelanjakan hartanya demi kebaikan. Ia kumpul-kumpulkan hartanya untuk kepentingan pribadi, sehingga menjadi penghalang bagi kemajuan dan perkembangan masyarakat sekitar. Jadi, Allah swt menjelaskan bahwa Ibadur Rahman adalah dia yang tidak membelanjakan hartanya secara berlebihan dan tidak pula berbuat kedekut atau kikir yang melampaui batas, melainkan harus mengambil jalan tengah, tidak boros dan tidak pula kikir. Ibadur Rahman dalam membelanjakan harta dan menahan harta mereka juga dilakukan semata-mata karena Allah swt.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang ketujuh adalah : ??? ?????????? ???? ??????? ??????? ??????  &#8211; laa yad&#8217;uuna ma&#8217;allaahi ilaahan aakhoro &#8211; mereka yang tidak berseru kepada suatu tuhan lain  selain Allah. Yakni mereka tidak mendekat kepada sesuatu yang berbau syirik, sebab syirik adalah perbuatan zalim yang paling besar. Allah swt berfirman: “Semua dosa bisa diampuni tetapi syirik tidak bisa diampuni.” Menghindarkan diri dari syirik bagi Ibadur Rahman bukan hanya syirik secara zahiriyah yang nampak wujudnya, seperti memuja patung-patung atau benda-benda lainnya, namun mereka juga menjauhkan diri dari syirik khafi (yang tidak nampak). Ibadah mereka dan kewajiban memenuhi hak-hak Allah swt dan hak-hak hamba-hamba-Nya dilakukan sesuai dengan perintah Allah swt. Dan mereka sangat berhati-hati sekali didalam gerak-gerik mereka atau didalam amal perbuatan mereka sampai kepada perkara yang sangat halus sekali, mereka takut kalau-kalau apa yang mereka lakukan itu menjadi penyebab kepada perbuatan syirik khafi. Pekerjaan mereka atau kegiatan bisnis mereka tidak menjadi penghalang terhadap kewajiban ibadah mereka kepada Tuhan.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang kedelapan adalah : ????? ???????????? ????????? ???????? ??????? ??????? ?????   ???????????  &#8211; wa laa yaqtuluunannafsallati harromallahu illa bilhaqqi &#8211; artinya : dan tidak membunuh jiwa, yang telah dilarang oleh Allah, kecuali dengan alasan tepat. Apabila Hazrat Rasulullah saw atau para sahabah beliau berperang di medan perang, selalu berpegang kepada asas taqwa. Beliau dan para sahabah beliau berperang untuk menghentikan perbuatan zalim musuh-musuh beliau, bukan bertujuan untuk menumpas atau membunuh mereka. Didalam peperangan beliau beserta para sahabah beliau melarang membunuh anak-anak, orang-orang perempuan, pemimpin agama atau padri dan sebaginya yang tidak ikut berperang. Akan tetapi keadaan sangat terbalik diwaktu terjadi perang dunia kedua, beratus ribu nyawa orang tak berdosa telah dibunuh oleh tentera Jepang. Pada zaman sekarang juga dengan alasan demi menegakkan keamanan, telah terjadi penyerangan-penyerangan membabi buta menggunakan pesawat-pesawat tempur atau pesawat-pesawat pengintai tak berawak sehingga beribiu-ribu nyawa penduduk yang tidak berdosa telah terbunuh. Demikianlah buktinya perbuatan orang-orang atau bangsa-bangsa yang selalu melemparkan kritikan atau objection terhadap Islam. Akan tetapi orang-orang atau bangsa yang menganggap diri mereka sebagai Ibadur Rahman juga, tengah melakukan penyerangan-penyerangan secara zalim dan biadab sehingga orang-orang yang bersih tidak berdosa-pun telah mereka bunuh. Ini-pun merupakan sebuah kisah lagi yang sangat mengerikan pembunuhan yang dilakukan mengatas namakan Agama Islam. Maka keputusan terakhir dari Allah swt terhadap orang-orang semacam itu adalah mereka itu tidak akan bisa menjadi Ibadur Rahman. </p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang kesembilan adalah ????? ??????????‌ &#8211; wa la yaznuuna &#8211; artinya : mereka tidak melakukan zina. Zina termasuk perbuatan secara fisik dan juga melihat pemandangan lucah yang tidak patut dilihat juga termasuk zina. Pada zaman sekarang gambar-gambar lucah yang diperlihatkan melalui TV atau melalui Internet, semuanya termasuk zina melalui pikiran atau khayalan dan juga melalui pemandangan mata. Maka setiap orang Ahmadi harus menjauhkan diri secara khas dari perbuatan dan pemandangan serupa itu.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang kesepuluh adalah : ??? ???????????? ?????????  &#8211; wa laa yasyhaduunazzauro &#8211; tidak berkata dusta dan tidak pula memberi kesaksian yang palsu atau kesaksian dusta. Berkata dusta adalah keburukan yang sangat besar yang mempunyai peranan untuk menjatuhkan suatu bangsa kepada kehancuran. Sedangkan hamba-hamba Allah swt dan Jema’at Ilahi selalu membawa kearah kemajuan dan kemuliaan. Bagi mereka sudah ada janji dari Allah swt bahwa mereka akan diberi kemajuan sampai keperingkat yang paling tinggi. Jika mereka terlibat dalam kedustaan, tentu dengan sendirinya mereka akan keluar dari kedudukan sebagai hamba-hamba Allah swt yang khas, yang kepada mereka telah dijanjikan untuk diberi kedudukan sampai keperingkat yang paling tinggi. Maka, setiap orang Ahmadi apabila mengemukakan suatu permasalahan atau suatu kesaksian dengan orang lain harus 100 % bersih dari kedustaan. Misalnya didalam urusan keluarga diwaktu berlangsung pernikahan diikat oleh suatu perjanjian sesuai firman Tuhan  ????????? ??????? ?????????  &#8211; quuluu qowlan syadiidan &#8211; ucapkanlah perkataan yang jujur, artinya kedua belah pehak akan berkata jujur dan akan berkata benar, tidak ada keraguan didalamnya, perkataan mereka bersih dan jelas. Akan tetapi setelah berlangsung perkawinan terjadilah penilaian-penilaian yang salah dari pihak perempuan kepada pihak lelaki atau sebaliknya pihak lelaki mengeluarkan pernyataan yang salah terhadap pihak perempuan. Atau dari mertua kedua belah pihak keluar pernyaan yang salah, sehingga hubungan keluarga menjadi kacau dan lambat laun keluarga menjadi berantakan. Disebabkan pengaruh ego pribadi atau disebabkan pengaruh kepentingan sendiri ikatan pernikahan menjadi putus. Jika sudah mempunyai anak, anakpun terkena dampak akhirnya ia menjadi anak jalanan yang rusak. Saya sudah berulang kali berkata mengenai keadaan rumah tangga seperti ini. Jadi, untuk melaksanakan hak-hak Allah swt dan hak sesama manusia harus menjauhkan diri dari perkataan dusta.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang kesebelas adalah : ?? ????? ???????? ??????????? ???????? ????????  &#8211; wa idzaa marrow billaghwi marrow kirooma &#8211; apabila mereka berjalan melewati sesuatu hal yang sia-sia mereka beralalu disana dengan sikap yang agung. Tidak melibatkan diri didalam suatu urusan yang semata-mata dipengaruhi oleh kelezatan dunia. Melalui Internet banyak sekali tayangan program-program dunia yang menyilaukan mata. Demikian juga melalui TV banyak program-program yang menggiurkan dunia. Para mahasiswa perguruan tinggi-pun secara berkelompok laki-perempuan pergi bersama-sama kedalam Club-club dimana diselenggarakan dansa-dansi atau program pertunjukan consert dan sebagainya. Semua perkara itu adalah barang-barang permainan atau hiburan yang sia-sia bagi orang-orang mukmin. Dari satu segi kita telah mengucapkan janji diwaktu menyatakan bai’at kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahkan kita telah berjanji untuk menjadi Ibadur Rahman juga. Maka setiap orang Ahmadi harus menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan buruk seperti itu yang semata-mata perbuatan yang menghancurkan moral atau akhlaq. Perbuatan sia-sia termasuk juga perkelahian dan pertengkaran, dan perkara-perkara yang bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, semuanya termasuk perbuatan laghuw atau sia-sia.</p>
<p>Hazrat Masih Mau’ud a.s. dalam membahas ayat ini:   ?? ????? ???????? ??????????? ???????? ???????? &#8211; wa idzaa marrow billaghwi marrow kirooma &#8211; bersabda: “Siapapun jika mendengar perkataan-perkataan yang membuka kesempatan untuk bertengkar atau perkelahian, jangan dilayani dan hendaklah pergi dari padanya dengan sikap yang anggun. Janganlah terpancing untuk berkelahi disebabkan perkara kecil saja. Orang yang tahu dan paham betul kepada nilai-nilai perdamaian tidak akan cepat terpengaruh atau terpancing oleh perkara-perkara kecil. Jadi, tanda orang yang suka perdamaian adalah sentiasa menutup mata terhadap suatu perkara kecil yang dianggap tidak mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat dan selalu menjauhi ketegangan mental dan phisik antar sesama manusia, dan mengamalkan perilaku orang-orang tua.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang kedua belas adalah : ???????????? ????? ?????????? ???????? ????????? ???? ?????????? ????????? ?????? ????????????? &#8211; walladziina idzaa dzukkiruu biaayaati robbihim lam yakhirruu &#8216;alaiha shummawwa &#8216;umyaanan &#8211; Dan orang-orang yang, apabila ayat-ayat Tuhan mereka dibacakan dihadapan mereka, tidak memperlihatkan perangai sebagai orang-orang tuli dan buta, melainkan mereka mendengarkannya dengan penuh perhatian. Nasihat Alqur’an yang dijelaskan kepada mereka, mereka berusaha untuk memahaminya dan mengamalkannya dan berusaha untuk meningkatkan keruhanian mereka. Maka untuk menjadi Ibadur Rahman manusia harus berusaha untuk mengamalkan setiap nasihat Alqur’an yang dijelaskan kepadanya. Jangan memandang siapa orangnya yang bercakap atau memberi nasihat itu. Melainkan dia harus memandang kepada perkara yang disampaikan itu berasal dari firman Allah swt dan dari sabda-sabda Rasul-Nya, supaya diamalkan. Jika tidak diamalkan hal itu akan menjadi penyebab kesesatan bagi manusia. Dan dia bukan hanya akan terkeluar dari kedudukan Ibadur Rahman bahkan ia akan semakin menjauh dari Jema’at Allah swt ini.</p>
<p>Keistimewaan Ibadur Rahman yang ketiga belas adalah:  mereka berdoa untuk isteri-isteri dan anak keturunan mereka seperti ini : ???????? ???? ?????? ???? ???????????? ??????????????? ??????? ????????  &#8211; robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a&#8217;yunin &#8211; Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami agar isteri-isteri kami dan anak keturunan kami menjadi penyejuk mata kami. Masalah ini sangat penting sekali bagi kelestarian anak-anak keturunan, yakni sejauh mana usaha dan upaya tengah dilakukan untuk kemajuan zahiriyah dan ruhaniyah anak-anak, disana doa juga harus dipanjatkan kepada Allah swt, sebab segala natijah dan hasil usaha manusia berada ditangan Allah swt. Jika ada orang berpikir bahwa dengan segala kekuatannya sendiri ia telah berhasil memberi bimbingan dan pelajaran terhadap anak-anak-nya, maka pikiran demikian tidak bisa dibenarkan. Orang-orang kaya yang sibuk hanya dalam urusan duniawi saja, jika mereka melihat usaha pendidikan anak-anak mereka sudah memperoleh kemajuan, maka kemajuan itu sebetulnya sebagai anugerah dari Tuhan Yang Rahman juga kepadanya. Namun kemajuan yang diperolehnya itu berkaitan dengan keduniawian semata bukan berkaitan dengan keruhanian. Oleh karena kemajuannya itu sifatnya berupa duniawi semata, maka sekalipun telah sukses ia tidak bisa dikatakan sebagai Ibadur Rahman. Sebab Allah swt tidak memberikan kedudukan kepadanya sebagai imam orang-orang bertaqwa. Dan perhatiannya tidak dicurahkan untuk meraih kedudukan sebagai imam orang-orang bertaqwa.</p>
<p>Akan tetapi orang yang berdoa bagi anak-anaknya untuk menjadi orang-orang bertaqwa, dia tidak memohon hanya untuk kemajuan duniawinya saja, melainkan dia memohon kepada Allah swt demi kemajuan kedua-duanya, yaitu kemajuan duniawi dan ruhani juga. Dan dia sendiri berusaha meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah swt. Sehingga ia menjadi peraih nikmat-nikmat Allah swt.</p>
<p>Pada zaman sekarang ini para orang tua sangat giat dalam usaha memajukan anak-anak mereka disekolah. Namun perhatian mereka terhadap pendidikan keruhanian sangat kurang sekali. Di negara-negara Barat ini masyarakat yang menganut hidup bebas membuat anak-anak menjadi berani dan lancang kepada orang tua mereka, sehingga anak-anak tidak mau mendengar nasihat-nasihat orang tua mereka. Dan sekarang orang tua mereka mulai merasa prihatin dengan munculnya program-program TV yang menayangkan aksi-aksi bebas dan melampaui batas diberikan kepada anak-anak sekolah. Bagaimana orang tua menjadi imam bagi mereka, sedangkan anak-anak sendiri berani berdiri dengan lancang di hadapan orang tua, tidak menaruh hormat sama sekali terhadap mereka. Sekarang banyak peristiwa terjadi anak-anakpun berani mengayunkan tangan memukul orang tua mereka. Sekarang mulai timbul beberapa usulan, jika ingin mengurus anak-anak ini demi kemaslahatan masa depan bangsa, maka harus ditentukan batasan-batasan hukum keatas mereka. Sampai dimana orang tua harus bersabar menghadapi anak-anak ini dan hukuman apa yang harus dikenakan kepada mereka. Sebab apabila orang tua melakukan hukuman terhadap anaknya, sekalipun disebabkan kesalahan anak itu, ia akan mengadu kepada sebuah komisi yang memberi perlindungan terhadap anak-anak. Komisi itu membawa anak-anak itu untuk dilindungi, dan anak-anakpun bertambah berani dan lancang memberi peringatan terhadap orang tua mereka sambil mengancam. Hal seperti itu meningkatkan anak-anak menjadi semakin berani dan bertambah arrogan terhadap orang tua. Mereka tidak bisa tinggal tenteram bersama orang tua mereka. Kelakuan dan perangai mereka sangat buruk sekali.</p>
<p>Salah satu sebab mengapa anak-anak menjadi demikian? Karena ruang pikiran orang tua sudah kosong tidak diisi dengan doa. Orang tua mereka sendiri sudah melupakan doa. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Berilah tarbiyat yang pantas dan baik kepada anak-anak sambil memperbanyak doa kepada Allah swt. Tapi jangan lupa bahwa orang tua juga harus menegakkan contoh prilaku yang baik dihadapan anak-anak”. Selanjutnya beliau bersabda: “Ada satu lagi hal yang patut direnungkan, yakni banyak orang-orang tua mendambakan anak keturunan, namun setelah mendapat anak keturunan tidak dipikirkan sebaik-baiknya bagaimana mendidik mereka agar menjadi anak yang taat kepada agama, menjadi anak yang beradab dan berkelakuan baik, dan tidak pernah pula memanjatkan doa bagi mereka dan tidak pula memikirkan untuk memberi tarbiyyat kepada mereka.</p>
<p>Tarbiyyat juga mempunyai tingkatan, sejak umur berapa tarbiyyat dimulai, masalah apa yang harus diajarkan lebih dahulu, mereka tidak tahu karena tidak ada perhatian sama sekali ke arah itu. Saya tidak pernah lupa untuk mendoakan kawan-kawan Jema’at, anak-anak, isteri dan kerabat juga. Banyak orang tua yang secara tidak sadar mengajarkan adat kebiasaan yang buruk. Mula-mula anak-anak berbuat suatu keburukan yang dianggap kecil, lalu dibiarkan tidak ditegur, lama-kelamaan akhirnya anak-anak semakin nakal dan berani berbuat tidak sopan terhadap orang tua sendiri. Orang-orang menghendaki anak keturunan, namun tidak menginginkan anak-anaknya menjadi khadim-khadim bagi agama dan Jema’at, melainkan menghendaki agar anak-anak mereka menjadi pewaris-pewaris kekayaan dunia. Apabila mereka sudah punya anak-anak tidak dipikirkan bagaimana cara untuk memberi tarbiyyat kepada mereka, dan tidak pula berusaha untuk mengajarkan akidah-akidah Jema’at kepada mereka. Orang tua tidak berusaha mengajarkan masalah-masalah asas di dalam agama maupun Jema’at kepada anak-anak. Dan tidak pula berusaha memperbaiki akhlak mereka. Jika sejak kecil diajarkan akhlak yang baik kepada anak-anak, tentu mereka tidak akan berani berdiri melawan atau menentang nasihat orang tua. Jika sejak kecil anak-anak belajar memakai pakaian yang baik dan anggun atau sopan tentu semakin besar mereka akan terus mempertahankan diri mereka dengan pakaian yang anggun dan sopan itu. Jika anak-anak tidak mengenal akhlak yang baik sejak kecil, apa yang bisa diharapkan dari mereka apabila mereka sudah dewasa dan bagaimana mereka bisa diharapkan untuk menjadi orang-orang baik.</p>
<p>Allah swt telah menjelaskan bahwa mereka yang mengharap-harapkan anak-keturunan selalu memanjatkan doa seperti berikut ini:  ???????? ???? ?????? ???? ???????????? ??????????????? ??????? ???????? ????????????? ??????????????? ????????‏ robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a&#8217;yunin artinya: “Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami agar isteri-isteri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertaqwa.” Hal ini baru akan diperoleh apabila mereka sendiri menjalani kehidupan diatas jalan orang-orang bertaqwa, bahkan mereka sendiri menjadi Ibadur Rahman dan menjadi orang-orang yang selalu melangkahkan kaki mereka diatas jalan yang diridhoi oleh Allah swt. Bagi mereka selanjutnya dijelaskan bahwa ????????????? ??????????????? ???????? &#8211; waj&#8217;alnaa lil muttaqiina imaaman &#8211; apabila mendapat anak keturunan tentu mereka akan menjadi imam orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt. Didalam doa ini juga tercantum doa untuk diri sendiri agar menjadi orang yang bertaqwa.” Jadi untuk mendapatkan anak keturunan yang bertaqwa orang tua juga harus berusaha agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Untuk diri sendiri juga harus berdoa agar menjadi muttaqi. Apabila kita sendiri berusaha menjadi orang yang bertaqwa maka kita akan menjadi penyandang sifat-sifat istimewa yang telah dijelaskan tentang sifat-sifat atau keistimewaan Ibadur Rahman.</p>
<p>Diantara manusia yang paling patut dihormati disisi Tuhan dan yang dijamin mendapat perlindungan Allah swt adalah mereka yang menjalin hubungan erat dan hakiki dengan Allah swt dan mereka menjaga kebersihan dan kesucian ruhani mereka. Dan dalam pergaulan dengan masyarakat mereka selalu menunjukkan perangai yang ramah dan sopan-santun. Dan mereka menjadi orang-orang yang benar-benar taat kepada hukum-hukum Allah swt. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua agar kita mampu menjalin hubungan erat dan hakiki dengan-Nya dan semoga keadaan ruhani kita selalu suci dan bersih. Dan semoga kita bisa memperoleh keistimewaan-keistimewaan hakiki yang diperlukan untuk menjadi Ibadur Rahman, dan semoga Dia menjadikan kita semua pewaris-pewaris nikmat Surga-Nya. Amin !! </p>
<p>Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=34&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/khalifah-ahmadiyah-hamba-hamba-allah-yang-pemurah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khalifah Ahmadiyah : SEORANG MUKMIN TETAP TEGUH DIDALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/khalifah-ahmadiyah-seorang-mukmin-tetap-teguh-didalam-menghadapi-ujian-dan-kesulitan/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/khalifah-ahmadiyah-seorang-mukmin-tetap-teguh-didalam-menghadapi-ujian-dan-kesulitan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 13:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Khalifah Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Jum&#039;at]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/khalifah-ahmadiyah-seorang-mukmin-tetap-teguh-didalam-menghadapi-ujian-dan-kesulitan/</guid>
		<description><![CDATA[HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba. 2 Oktober 2009 dari Masjid Baitul Futuh London UK TENTANG : ORANG-ORANG MUKMIN TETAP TEGUH DALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN “Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan mati tentang orang-orang yang terbunuh dijalan Allah itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=33&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.<br />
2 Oktober 2009  dari Masjid Baitul Futuh London UK<br />
TENTANG : ORANG-ORANG MUKMIN TETAP TEGUH DALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN</p>
<p>    “Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan mati tentang orang-orang yang terbunuh dijalan Allah itu. Tidak, bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadari. Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali. Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158)</p>
<p>Didalam Ayat Alquran yang baru saya tilawatkan, Allah taala berfirman tentang orang-orang beriman yang mendapatkan cobaan atau ujian yang bagaimanapun kerasnya iman mereka tetap teguh dan tidak goyah. Bahkan keimanan mereka semakin bertambah maju dan bertambah teguh dan kuat dan mereka semakin mendekat dan menyerahkan diri kepada Allah taala.</p>
<p>Dari ayat pertama sangat jelas sekali bahwa Allah taala telah menasihatkan untuk berlaku sabar sambil tetap menunaikan shalat. Maka kita bisa mengatakan bahwa kedua sifat ini harus dimiliki oleh orang-orang beriman, terutama diwaktu menghadapi banyak cobaan dan banyak kesulitan.</p>
<p>Ayat ini begitu ringkas namun maksud dan kandungan tafsirnya sangat luas sekali. Salah satu arti dari perkataan sabar adalah apabila seseorang mendapat suatu kemalangan tetapi dia tidak mengeluh melainkan tabah sambil menunjukkan perangai cerah. Ujian atau cobaan harus dipikul dengan tabah tanpa mengeluh, tanpa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tidak boleh mengeluh atau menyatakan kesusahan, harus betul-betul menjaga perasaan, yang kadang-kadang karena terdesak keluarlah dari mulut kata-kata tidak patut, sehingga merupakan keluhan terhadap Tuhan Yang Maha Perkasa. Perkara demikian harus dijauhi.</p>
<p>Yang kedua artinya adalah: Harus tetap dan teguh dalam pendirian. Yang ketiga adalah: Perintah Allah Yang Maha Kuasa harus tetap dipegang erat-erat dan harus berbuat sesuai dengan itu semua. Arti lain lagi ialah, kalian harus tetap teguh tidak boleh menyimpang dari apa yang telah Tuhan melarangnya.</p>
<p>Jadi perkataan sabar telah dijelaskan, yaitu bila saja menghadapi cobaan dan ujian atau kesulitan apapun harus dihadapi dengan tabah dan tahan mental serta keteguhan hati tidak bimbang, jika tidak maka akan membawa kegoncangan dan kelemahan iman. Yang kedua ialah harus selalu memperhatikan dan mentaati hukum-hukum Allah taala dan harus berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh tawakkal kepada-Nya.</p>
<p>Untuk memperkuat keimanan, keteguhan hati, perkataan shalat juga sudah difirmankan didalam ayat tersebut. Artinya Allah taala telah mengarahkan dan memerintahkan kita untuk tidak melupakan shalat dan harus banyak memanjatkan doa kepada-Nya didalam menghadapi ujian atau cobaan dan kesulitan itu.</p>
<p>Pengertian shalat yang telah dijelaskan oleh berbagai pihak ringkasannya adalah: “Memusatkan penuh perhatian kepada kewajiban shalat, disamping shalat fardu kita harus menaruh perhatian terhadap shalat-shalat nawafil lainnya juga disertai dengan banyak memanjatkan doa-doa untuk mempertahankan iman yang kokog, banyak-banyak membaca istighfar &#8211; memohon ampun kepada Allah Yang Maha Perkasa dan juga harus banyak berzikir mengingat Allah taala dan harus banyak mengirim darood atau selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.</p>
<p>Jadi, itulah sifat-sifat orang mukmin sejati telah dijelaskan bahwa diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan dia selalu tabah dan sabar sehingga ia selamat. Diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan seorang mukmin tidak boleh menunjukkan lemah iman atau bimbang, ia harus meningkatkan lebih banyak berdoa dan menjalin hubungan lebih erat dengan Tuhan dan lebih banyak berzikir dan mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.</p>
<p>Apabila kalian mencari perlindungan dan pertolongan Allah taala harus dilakukan dengan penuh sabar dan istiqamah yang sungguh-sungguh. Dan harus selalu diingat bahwa cobaan apapun yang dihadapi sifatnya hanya sementara. Setelah itu apabila suasana telah berubah kemenangan pasti akan berada ditangan kalian. Penolong utama orang-orang mukmin adalah Allah taala Yang Maha Kuasa. Harus diingat dalam keadaan bagaimanapun seorang Ahmadi tidak boleh mengatakan: “Aku tidak percaya kepada Allah.” Bilamana saja timbul kelemahan iman pada seseorang terhadap Allah maka orang itu bukan lagi sebagai orang Ahmadi. Dengan mengucapkan demikian habislah riwayat dia sebagai orang Ahmadi, bahkan dia sudah keluar dari Islam. Jika seorang Ahmadi mempunyai kepercayaan dan keyakinan kuat terhadap Allah taala Yang Maha Kuasa, dia telah mendapat iman bil ghaib yang sesungguhnya kepada Allah taala. Dan dia juga harus yakin bahwa yang menolong dan membantu segala urusan dia adalah Allah taala. Jadi, dalam menghadapi setiap kesulitan dan kesusahan yang ditimbulkan oleh lawan-lawan yang memusuhi Jemaat dari waktu ke waktu, kita harus meningkatkan hubungan yang lebih erat lagi dengan Zat Yang Maha Kuasa Yang mampu membantu kita didalam situasi yang genting seperti itu. Dan didalam situasi seperti itu orang mukmin harus selalu siap menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Perkasa Yang mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada yang lain. Yang kecintaan-Nya lebih dari pada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Dia Yang Maha Kuasa mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada itu. Dan Allah dengan firman-Nya: ????? ??????? ???? ????????????? (Allah bersama orang-orang yang sabar) memperkuat keadaan seperti itu. Dan Firman-Nya lagi: “Yakinlah kalian bahwa Aku akan menolong kalian.” Mereka yang berdoa dengan iman yang teguh, dan mereka yang mempunyai kesabaran akan Aku tolong semuanya. Jika kalian ingin mendapatkan pertolongan dari-Ku kalian harus menujukkan ketetapan dan keteguhan iman. Kalian harus beramal sesuai dengan kedudukan sebagai hamba-hamba-Ku. Bagaimana caranya yang harus kalian lakukan ? Yaitu disaat menghadapi kesulitan dan cobaan, pendirian kalian harus tetap jangan berubah-ubah. Pendirian kalian harus betul-betul mantap. Kalian harus rujuk kepada Allah taala Yang Maha Kuasa dengan penuh dedikasi. Itulah tanggung jawab setiap orang Ahmadi pada masa ini.</p>
<p>Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya di Pakistan, di beberapa negara Arab dan juga dibeberapa daerah di negara India orang-orang Ahmadi tengah dijadikan sasaran kekerasan dan kezaliman. Suasana yang mereka timbulkan sangat mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi disana. Terdapat beberapa kasus yang mereka hadapi semakin memburuk. Dan keadaan disana sangat mencekam dan semakin tegang karena timbul tindakan-tindakan diluar keadilan terhadap mereka. Para Mullah yang didukung oleh pemerintahan setempat disana mulai membuat isu-isu (pernyataan-pernyataan) nonsense. Di beberapa tempat para penguasa dan pejabat-pejabat pemerintah disana mencari-cari jalan untuk melancarkan berbagai macam gerakan untuk mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan bagi orang-orang Ahmadi disana.</p>
<p>Di beberapa negara tertentu telah dilancarkan batasan dan larangan untuk menunaikan ibadah shalat dan menunaikan shalat Jumah di mesjid mereka, dan orang-orang Ahmadi disana tidak boleh berkumpul bersama untuk menunaikan shalat Jum’ah. Bagaimanapun sudah saya jelaskan tentang firman Allah taala bahwa di dalam situasi semacam itu posisi keimanan kalian harus jauh lebih kuat dan lebih teguh dari pada sebelumnya. Sambil memperkokoh keimanan kalian harus meningkatkan mutu ibadah kalian kepada Allah taala. Lalu lihatlah hasilnya bagaimana Allah taala Yang Maha Perkasa akan datang menolong kalian.</p>
<p>Sehubungan dengan peristiwa seperti ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kalian harus berusaha untuk menjadi orang-orang yang bersih dan suci-murni, dan kalian harus menjalin hubungan lebih erat lagi dengan Tuhan. Sebab pertolongan Allah taala akan kalian peroleh jika diri kalian sudah suci murni.” Beliau a.s. bersabda lagi: “Bagaimana caranya kalian untuk memperoleh berkat dari pada Tuhan? Jawabannya Tuhan sendiri berfirmaan:  ?????????????? ??????????? ????????????? yakni: Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Apa yang dimaksud dengan shalat disini? Yaitu selain ibadah shalat, juga membaca tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), membaca istighfar dan juga membaca shalawat bagi Junjungan Nabi Besar Muhammad saw, dibaca dengan penuh rasa cinta dan dedikasi terhadap Allah taala. Jadi, kalian harus menunaikan shalat dengan penuh konsentrasi dan kekhusyuan. Jangan seperti orang yang shalat dengan mulut komat-kamit mengucapkan kata-kata namun hati kalian ingat kemana-mana. Orang-orang yang tidak tahu bahasa Arab mereka boleh berdoa didalam bahasa sendiri khususnya diwaktu sujud. Doa yang diajarkan Tuhan didalam Alquran atau doa yang diajarkan Hazrat Rasulullah saw dari firman Tuhan, tidak boleh dibaca diwaktu ruku atau diwaktu sujud. Selain itu doa boleh dipanjatkan didalam bahasa yang kita pahami sendiri diwaktu sujud atau ruku. Panjatkanlah doa sambil menangis dan merintih dan merendahkan diri sedemikian rupa dihadapan Tuhan sehingga kekhusyuannya itu sangat berkesan di dalam hati kalian. Apabila doa itu dipanjatkan dengan rintihan dan perasaan yang luluh maka kesannya sangat melekat didalam hati sanubari.”</p>
<p>Jadi, dewasa ini sangat diperlukan doa-doa yang dipanjatkan oleh semua orang Ahmadi diseluruh dunia dengan penuh kekhusyuan sambil menangis dan merintih dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga menggetarkan pintu Arasy Ilahi. Apabila doa-doa ini dipanjatkan dengan penuh kegelisahan dan rintihan yang memilukan tentu Allah taala akan segera menerima dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya itu. Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya: ??????? ????????? ???????????? ????? ??????? ?????????? ?????????? ?????????????? ?????????? ?????????‌?</p>
<p>Artinya: Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang tak berdaya apabila ia berdoa kepada-Nya dan Tuhan Yang melenyapkan keburukan, dan pada suatu hari akan menjadikan kamu pewaris-pewaris bumi ? (An Namal : 63)</p>
<p>Jadi doa yang dipanjatkan dengan perasaan sangat istimewa, dengan rasa gelisah dan suasana prihatin itulah yang bisa membangkitkan perubahan dan revolusi besar diatas muka bumi. Dan mereka yang tengah dianiaya dijalan Allah taala, mereka yang menanggung penderitaan dan kesusahan karena Allah taala, mereka akan menerima khabar suka dari Allah taala melalui kesabaran dan shalat. Pada suatu hari kalian akan menjadi pewaris-pewaris bumi diatas dunia ini, insya Allah !</p>
<p>Jadi kesusahan dan penderitaan yang tengah dihadapi oleh orang-orang Ahmadi pada hari ini khususnya di Pakistan dan pengorbanan apapun yang mereka lakukan, tidak akan dibiarkan sia-sia oleh Allah taala. Pengorbanan yang tengah dilakukan hari ini oleh orang-orang Ahmadi akan mendatangkan buah yang ranum pada hari esok. Hal itu semua adalah tugas kewajiban orang-orang Ahmadi tanpa mengeluh dan tanpa berkecil hati mereka harus terus maju kedepan dalam menghadapi cobaan dan ujian ini.</p>
<p>Dan Allah taala berfirman: “Orang-orang yang terus maju dalam menghadapi masa kesulitan dan cobaan ini demi meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya mereka rela menyerahkan jiwa-raga dan nyawa mereka dijalan Allah taala. Ingatlah, bahwa mereka yang menyerahkan jiwa-raga mereka karena Allah Yang Maha Perkasa, pengorbanan jiwa mereka ini bukanlah pengorbanan orang biasa, melainkan seperti pengorbanan para sahabah pada zaman permulaan Islam. Sekarang sejarah berulang kembali. Apabila kita lihat sejarah masa lalu banyak sekali orang-orang mukmin yang telah menyerahkan kehidupan mereka, mengorbankan jiwa raga dan nyawa mereka demi kepentingan agama Allah taala dan demi tegaknya Tauhid Ilahi dimuka bumi. Allah mengabulkan pengorbanan mereka sebab pengorbanan jiwa dan nyawa mereka itu demi maksud dan tujuan yang sangat mulia dan agung sekali.</p>
<p>Orang-orang yang terbunuh dijalan Allah demi membela agama Allah dan tegaknya Tauhid Ilahi tidak boleh disebut sungguh-sungguh mati. Mereka tetap hidup, sebab kematian mereka sangat objective, sangat tepat dan terarah demi Agama Allah dan demi kekalnya tauhid Ilahi dimuka bumi. Ganjaran mereka akan terus mengalir kepada mereka setiap saat. Pengorbanan demikian menjadi simbol bagi kehidupan orang-orang mukmin sejati lainnya dan mengundang semangat untuk menyerahkan pengorbanan apapun yang diperlukan oleh Agama ataupun Jema’at. Suatu bangsa yang selalu menyadari pentingnya pengorbanan demi membela tanah airnya tidak pernah mengalami kematian. Orang-orang yang selalu siap memberikan pengorbanan demi tegaknya agama Allah mereka pasti mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah taala.</p>
<p>Pada zaman sekarang zaman Masih Mau’ud a.s. peperangan sudah berakhir, tidak boleh melakukan peperangan lagi. Apakah sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mengorbankan jiwa raga demi agama Allah, yang akan mendapat kehidupan kekal setelah meninggal dunia? Dan juga menjadi sarana kehidupan hakiki bagi orang-orang beriman? Apabila kaum akhirin diakhir zaman ini harus menjalani kehidupan seperti standar kehidupan kaum awwalin dizaman Hazrat Rasulullah saw tentu mereka harus mengorbankan jiwa raga atau nyawa mereka. Para syuhada kaum akhirin dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka seperti yang telah terjadi di Kabul, Afganistan demi mempertahankan kebenaran. Melalui pengorbanan jiwa raga dan nyawa mereka itu Allah taala telah menunjukkan jalan kepada kita untuk memperoleh kehidupan yang kekal-abadi. Dan sampai sekarang banyak para anggota Jema’at yang tengah memberi contoh bagaimana caranya mereka telah menegakkan semangat dan keikhlasan dalam mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka karena Allah taala. Tetesan darah setiap orang Ahmadi yang syahid dimana telah memberi martabat dan kedudukan tinggi didalam kehidupan mereka dialam akhirat, disana juga tersedia sarana untuk kehidupan dan kemajuan Jema’at yang semakin meningkat terus dimuka bumi ini.</p>
<p>Jika para penentang berpikir bahwa dengan banyaknya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ahmadi mukhlisin akan memberi kesan kemunduran dan kelemahan iman terhadap para anggota Jema’at, khayalan mereka itu semata-mata penipuan dan kosong dari kenyataan sebenarnya. Allah taala berfirman: Kamu tidak menyadari ! Mereka tidak melihat bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membangkitkan suatu revolusi ruhani yang luar biasa, Ahmadiyah tidak bisa berhenti disebabkan banyaknya pengorbanan jiwa raga atau nyawa serta harta mereka demi mempertahankan kebenaran. Akhirnya taqdir Allah taala akan memutuskan bahwa melalui Jema’at Ahmadiyah ini Islam akan ditegakkan diseluruh permukaan bumi.”</p>
<p>Jadi sekarang juga setiap orang Ahmadi yang mati syahid demi Jema’at baik laki-laki, perempuan tua muda ataupun anak-anak telah menciptakan sebuah gelombang semangat hidup baru. Setiap terjadi peristiwa pensyahidan terhadap orang Ahmadi timbul dikalangan orang-orang Jema’at semangat yang bergelora untuk mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka demi membela Jema’at ini. Tentang hal itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kami sangat kagum menyaksikan keikhlasan dan kesetiaan para anggota Jema’at seperti itu.”  Jadi sangat keliru sekali anggapan para penentang yang memusuhi Jemaat bahwa dengan terjadinya kerugian harta mereka, jiwa raga dan nyawa mereka akibat serangan musuh, iman orang-orang Ahmadi akan menjadi berkurang dan lemah. Sama sekali tidak!! Sebagaimana telah saya katakan berulang kali bahwa dengan terjadinya serangan dan penganiayaan dan pembunuhan, keimanan orang-orang Ahmadi justru semakin bertambah kokoh-kuat. Atau para penentang mengira dengan perlawanan mereka terhadap Jemaat, orang-orang Ahmadi akan habis dan lenyap? Pendapat mereka itu sungguh batil dan sangat keliru. Disebabkan telah dikeluarkannya undang-undang anti Ahmadiyah di Pakistan dan di beberapa negara Islam lainnya orang-orang Ahmadi telah dilarang melakukan tabligh. Akan tetapi  disebabkan makin maraknya perlawanan  dan terjadinya peristiwa-peristiwa kezaliman terhadap orang-orang Ahmadi, kesempatan tabligh disana dengan sendirinya menjadi lebih terbuka. Banyak orang-orang yang penasaran ingin tahu apa sebenarnya Ahmadiyah itu. Sehingga setelah jelas kedudukan yang sebenarnya banyak sekali orang-orang yang mengirim surat kepada kami menyatakan ingin bai’at masuk Ahmadiyah, baik dari Pakistan sendiri maupun dari negara-negara lainnya di dunia setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa kezaliman lawan-lawan Ahmadiyah itu. Jadi sesungguhnya dengan timbulnya perlawanan itu justru menjadi sarana kemajuan bagi Jema’at Ahmadiyah.</p>
<p>Jadi para penentang memang bisa melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang Ahmadi, mereka bisa melakukan penjarahan terhadap harta  orang-orang Ahmadi, bangunan dan gedung-gedung orang-orang Ahmadi bisa mereka hancurkan, pembangunan mesjid kami bisa dihalang-halangi akan tetapi kalian tidak akan bisa membuat iman kami jadi lemah. Sebab ujian dan cobaan ini menjadi bukti kebenaran firman Tuhan bahwa Dia bersama kami orang-orang beriman. Sebagaimana Allah taala telah menjelaskan dengan rinci didalam ayat berikutnya tentang khabar suka yang diberikan kepada orang-orang yang sabar. Firman-Nya: “ Kalian akan diuji dengan ketakutan, jika kalian menghadapi ujian yang menakutkan itu dengan sabar, maka terimalah khabar suka dari pada-Ku, bahwa kalian akan mewarisi nikmat-nikmat dari pada-Ku”. Seperti apa perasaan takut itu? Yaitu rasa takut yang dibuat oleh musuh-musuh kalian, misalnya takut berupa kejahatan para Mullah, menghadapi mukaddimah di pengadilan juga termasuk rasa takut, takut terhadap undang-undang blasphemy pemerintah, takut ancaman dari para petinggi negara. Akan tetapi orang-orang mukmin tidak mensia-siakan iman mereka disebabkan berbagai macam desakan atau intimidasi dari pihak golongan tertentu atau dari pihak pemerintah sekalipun. Dan tidak pula mereka menunjukkan sebarang kelemahan.</p>
<p>Setelah itu orang-orang mukmin diuji dengan kelaparan. Sebagai contoh telah terjadi dihadapan kita dalam jumlah yang sangat besar. Yaitu pada tahun 1974 telah terjadi peristiwa kerusuhan anti Jema’at yang ditimbulkan lawan-lawan yang memusuhi Jema’at pada tahun itu, banyak kesulitan dan kesusahan ditimpakan kepada orang-orang Ahmadi. Pada waktu itu siapapun tidak pula diizinkan untuk menyampaikan makanan ke rumah seorang Ahmadi dan tidak pula orang-orang Ahmadi diizinkan keluar dari rumah mereka pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Jika mereka bisa keluar juga maka para pemilik kedai dilarang menjual bahan-bahan makanan atau benda apapun yang diperlukan kepada orang-orang Ahmadi. Disamping itu banyak barang-barang kekayaan orang-orang Ahmadi dirampas dan dijarah dan secara paksa mereka menguasai hak milik orang-orang Ahmadi. Dan apabila seorang Ahmadi berusaha menuntut hak milik mereka secara hukum di Pengadilan, mereka membuat-buat alasan dengan mengatakan ini orang-orang Qadiani, mereka enggan melayani. Dengan menyebut nama Qadiani atau Ahmadi saja orang-orang yang duduk dikursi pengadilan-pun merasa enggan dan tidak mau menghiraukan atau menangani apa lagi menghormati tuntutan hak-hak mereka lagi.</p>
<p>Pada tahun 1974 sebidang tanah milik Jema’at di Rabwah telah diserahkan kepada para Mullah oleh Town Committee, dan sampai sekarang mereka menguasainya dan telah memberi nama tempat itu Muslim Colony. Begitu juga tanah yang sangat luas berdekatan dengan Ta’limul Islam New Campus milik Jema’at dan Rabwah Open Space yang terletak di Daarun Nasir telah dirampas dan dikuasainya secara tidak sah. Dan pemerintah telah memutuskan bahwa tanah ini milik pemerintah.</p>
<p>Selain itu orang-orang mukmin diuji dan dicoba melalui anak-anak keturunan. Pihak lawan sengaja berusaha untuk menghancurkan karier anak-anak Ahmadi. Di sekolah-sekolah anak-anak Ahmadi dijadikan sasaran penghinaan agar semangat belajar mereka hilang hingga putus sekolah. Dizaman saya kuliah di University Faisal Abad beberapa mahasiswa Ahmadi dilarang kuliah. Di Leyyah beberapa orang anak Ahmadi ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara atas tuduhan yang tidak benar dan palsu. Jika orang tua anak-anak tersebut mengumumkan telah bertaubah dari Ahmadiyah, maka pengadilan dimana para Mullah telah menuduh anak-anak telah menghina Hazrat Rasulullah saw, secepat mungkin mereka dibebaskan dari tahanan penjara. Sebab itulah yang mereka inginkan agar para Ahmadi dengan cara bagaimanapun karena takut melepaskan iman mereka dan bertaubah meninggalkan Ahmadiya. Begitulah trick jahat mereka lakukan dengan menimpakan berbagai macam kesulitan dan kesusahan diatas orang-orang Ahmadi berusaha untuk melepaskan mereka dari Ahmadiyah. Namun orang-orang bernasib malang itu tidak tahu kedudukan orang-orang Ahmadi adalah orang-orang mukmin sejati. Mereka yakin betul bahwa setiap huruf yang tertulis didalam Kitab suci Alquran adalah firman Allah taala. Sejak semula Allah taala telah memberitahukan kepada mereka didalam AlAlquran bahwa iman mereka akan diuji dengan kesusahan dan kesulitan seperti itu.</p>
<p>Jadi teguh didalam pendirian dan menanti akhir kesudahan yang baik dan mengucapkan Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) adalah sifat atau prilaku orang-orang Ahmadi. Kesusahan dan kesulitan yang ditimpakan kepada mereka dihadapi dengan penuh kesabaran, sebab itulah yang selalu diperlihatkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka Ahmadi. Sabar artinya setiap kesulitan atau kesusahan memang dirasakan, akan tetapi tidak kehilangan keseimbangan perasaan dan pikiran disebabkan kesulitan atau kesusahan itu. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah berkecil hati, melainkan pada setiap cobaan dan pada setiap penderitaan yang dihadapi selalu menghadapkan muka kearah Allah taala. Mereka berdiri tegak sambil bertahan bahwa biarlah ujian berupa kesulitan itu berlaku sebab ia sifatnya hanya sementara, bukan untuk selama-lamanya. Sebagai natijahnya Allah taala akan memberikan yang lebih baik lagi kepada mereka. Pada setiap musibah selalu berfikir bahwa nyawa-ku juga, anak-anak-ku juga, harta kekayaan-ku juga hanyalah barang-barang titipan yang sifatnya sementara. Apabila hal itu semua dikurbankan karena Allah taala maka tentu aku akan menjadi pewaris karunia Tuhan yang jauh lebih baik dari semula. Apabila manusia berucap “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) maka harus berdiri tegak dengan yakin bahwa kami juga adalah milik Allah taala. Dan harta kami serta anak-anak kami juga semuanya adalah kepunyaan Allah taala.</p>
<p>Jadi, jika Dia menginginkan bahwa nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada kami itu hendak diambil kembali oleh-Nya, maka kami rela sepenuhnya tidak perlu kecil hati atau menangis. Sebab kami berkata “Inna ilaihi raaji’un” kami juga akan kembali kepada-Nya. Apabila kita akan kembali kepada-Nya maka Allah taala telah berjanji bahwa Dia akan memberi barang-barang yang jauh lebih baik dari pada barang-barang yang ada didunia ini. Jadi, jika seorang mukmin berfikir seperti itu maka kerugian berupa barang-barang duniawi apapun yang ditimpakan oleh pihak lawan, memang bisa mendatangkan kesusahan yang sifatnya sementara, akan tetapi hal itu tidak akan menjadi kendala bagi kehidupan yang masih terus berlanjut. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sebagai orang mukmin kalian jangan menganggap buruk terhadap cobaan atau ujian. Hanya orang mukmin yang tidak sempurna yang akan menganggapnya buruk. Allah taala berfirman didalam AlAlquran:  ??????????????????? ???????? ????? ????????? ??????????? ???????? ????? ????? ??????? ????????????? ?????????????? ????????? ??????????????‏&#8211;?????????? ?????? ????????????? ??????????? ? ????????? ?????? ??????? ????????? ???????? ???????????‏<br />
Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali.”</p>
<p>Kesusahan dan kesulitan apapun yang mereka hadapi tidak menimbulkan kesengsaraan dan kesusahan hati mereka. Dan mereka selalu gembira dengan keridhaan Allah taala. Dan mereka menyukai tinggal dalam suasana seperti itu. Mereka itu betul-betul sabar. Dan Allah taala memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar tanpa perhitungan. Demikianlah reaksi yang harus ditimbulkan oleh setiap orang Ahmadi. Dan dengan karunia Allah taala sampai sekarang para anggota Jema’at telah menzahirkan keadaan demikian. Dan reaksi itulah sebagai tanda untuk memperoleh kemajuan. Untuk itu kita harus selalu memanjatkan doa kepada Allah taala. Memang kewajiban kita untuk berdoa demi keselamatan dari ujian dan cobaan, Allah taala sendiri telah berfirman demikian. Akan tetapi jika turun suatu cobaan dan ujian dari Allah taala, maka untuk menghadapi hal itu keteguhan iman dan ketabahan sangat penting sekali. Dan hal itulah yang boleh membuat turunnya pembalasan yang tidak terhingga dari Allah taala.</p>
<p>Setelah menyebutkan hal itu, selanjutnya dikatakan bahwa Allah taala bersama orang yang sabar, orang yang meraih kedudukan syahid disisi Allah taala, akan mendapat kehidupan yang kekal. Terdapat khabar-khabar gembira bagi orang-orang yang sabar, dan banyak sekali khabar-khabar gembira itu mereka terima. Dan suasana gembira yang meluap-luap itu telah-pun mereka wakafkan demi patuh dan setia kepada Allah taala. Tentang kesulitan yang biasa timbul ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tidak pernah datang seorang-pun Utusan Tuhan yang tidak menghadapi ujian atau cobaan. Hazrat Masih Israili a.s. telah dipenjarakan dan telah dihadapkan kepada berbagai macam siksaan oleh orang Israil. Selanjutnya bagaimana perlakuan kaum terhadap Nabi Musa a.s, Nabi Muhammad saw sendiri pernah dikepung dan diserang, akhirnya sesuai sunnah Allah taala semua kesulitan itu berakhir diganti dengan kemudahan yang jauh lebih baik. Jika memang sunnah Allah taala seperti itu adalah kesenangan dan kemudahan bagi kehidupan Utusan Allah taala dan para pengikutnya, maka setiap hari pesta-pora makan-makanan yang lezat, tentu bisa dilihat apa bedanya para ahli dunia dengan para Utusan Allah taala? Jika setiap waktu hanya menjalani kehidupan yang senang sejahtera dan tidak pernah menderita kesulitan, apa bedanya orang-orang dunia dengan Utusan Allah taala? Setelah kenyang memakan makanan yang lezat mengucapkan alhamdulillah wa syukru lillah memang mudah sekali. Mudah sekali menyatakan rasa syukur seperti itu kepada Allah taala jika setiap hari menjalani kehidupan yang baik dan senang, makanan dan minuman setiap waktu bisa diperoleh dengan mudah. Jadi dalam menghadapi keadaan musibah juga harus kita harus mengucapkan perkataan seperti itu dengan sungguh hati, seperti diwaktu menerima nikmat dari Allah taala.” </p>
<p>Beliau bersabda lagi: “Para utusan Tuhan dan Jema’at beliau sering ditimpa oleh berbagai macam ujian, ditimpa rasa takut dengan kehancuran, menghadapi berbagai macam mara bahaya dan sebagainya. Itulah arti dari pada Kazzabu mereka mendustakan. Dari peristiwa kesulitan itu ada manfaatnya? yaitu untuk membedakan diantara orang yang kuat iman-nya dan yang lemah iman. Sebab orang yang imannya lemah, hanya sampai waktu yang menguntungkan mereka saja bisa bertahan, namun apabila masa ujian dan cobaan tiba, mereka berhenti tidak mau bergerak maju. Sedangkan orang yang kuat imannya mereka terus maju kedepan, sekalipun sedang dalam masa cobaan dan ujian seperti itu. Dan itulah sunnah Allah taala yang berlaku kepada saya. Selama tidak ada ujian atau cobaan tidak pernah timbul suatu tanda yang zahir dari Allah taala. Apabila Allah taala mencintai hamba-hamba-Nya maka Dia menimpakan ujian kepada mereka.  Sebagaimana Tuhan berfirman: ????????? ??????????????‏-?????????? ?????? ????????????? ??????????? ? ????????? ?????? ??????? ????????? ???????? ?????????? Yakni setiap mendapat kesulitan dan kesusahan mereka selalu rujuk dan runduk kepada Allah taala. Dan orang-orang itulah yang menerima nikmat-nikmat Allah taala, yaitu orang-orang yang selalu berusaha menegakkan istiqamah, tetap didalam pendirian yang teguh, sekalipun mereka menyaksikan kegembiraan duniawi itu nampaknya sangat senang serta lezat untuk dinikmati namun akhir natijahnya tidak ada kesan apa-apa. Dengan menjalani kehidupan bergemarlapan kemewahan yang penuh dengan kesenangan akhirnya hubungan dengan Allah taala menjadi terputus.</p>
<p>Kecintaan Allah taala terhadap hamba-Nya dibuktikan dengan menimpakan suatu ujian kepadanya sehingga dengan ujian itu Dia menzahirkan kemuliaan hamba-Nya itu. Dengan ujian itu kebesarannya, keimanannya yang kukuh kuat akan zahir. Misalnya jika Kisra Iran tidak memerintahkan seorang jenderalnya untuk menangkap Hazrat Rasulullah, maka bagaimana bisa terjadi mukjizat yaitu kematian Kisra Iran itu pada malam itu juga. Dan jika orang-orang Mekah tidak mengusir Hazrat Rasulullah saw, bagaimana mukjizat Allah taala akan zahir pada hari-hari sesudahnya. Setiap mukjizat sangat erat kaitannya dengan suatu ujian atau cobaan yang menyusahkan. Kehidupan berfoya-foya dan bergembira-ria bisa membuat manusia lengah tidak ada kaitannya sama sekali dengan Allah taala. Jika kejayaan duniawi yang melimpah ruah telah diperoleh seseorang, kehidupan merendahkan diri dan merunduk dihadapan Tuhan menjadi hilang. Padahal Allah taala mencintai orang-orang yang menjalani kehidupan dengan merendahkan diri dan mencurahkan perhatian kepada-Nya. Oleh sebab itu manusia haruslah menghadapi suatu peristwa yang manakutkan.  Jadi Allah taala berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang berlaku sabar dan menyerahkan jiwa raga serta nyawanya dijalan Allah taala demi meraih keridhaan-Nya.</p>
<p>Pada akhir ayat Allah taala berfirman :  &#8211;?????????? ?????????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ??????????? ???? ???????????????‏<br />
Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158). Dan orang-orang itulah yang menjadi pewaris barkat-berkat, mereka itulah yang menjadi penerima hidayah dan rahmat dari Allah taala. Dan orang-orang yang menjadi pewaris rahmat dan barkat dari Allah  taala itulah orang-orang yang menerima petunjuk dari Allah taala. Karena dipergunakan  perkataan solawatun mirrabihim maka hal itu bisa diterjemahkan: barkat-barkat dan maghfirat. Jadi orang-orang yang sabar dan banyak memanjatkan doa akan menyaksikan pemandangan turunnnya berkat dan maghfirat (pengampunan) dari Allah taala yang membuat martabah ruhani mereka semakin tinggi. Perkataan solawatun mirrabihim ini bukan Allah taala yang memanjatkan doa itu, melainkan berkat-berkat dan maghfirat dari Allah taala turun kepada orang-orang mukmin yang sabar dan banyak memanjatkan doa itu. Apabila rahmat Tuhan turun kepada mareka maka martabah ruhani mereka itu semakin meningkat terus.</p>
<p>Kerugian duniawi mereka juga bisa diganti sepenuhnya oleh Allah taala, sebab mereka setiap saat siap mengorbankan apa yang mereka miliki demi kepentingan agama Allah taala. Bisa diperiksa, siapapun orang Ahmadi yang mengorbankan sesuatu di jalan Allah taala, keinginan musuh tidak pernah berhasil membuat orang-orang Ahmadi menjadi miskin sehingga menjadi pengemis. Bahkan yang menjadi miskin dan menjadi pengemis adalah mereka sendiri yang telah berbuat zalim terhadap orang-orang Ahmadi dan yang telah merampas dan menjarah harta benda mereka. Dan demi konstitusi undang-undang, orang-orang Ahmadi telah dinyatakan sebagai non-Muslim. Maka setelah demikian jelasnya pertolongan Allah taala terhadap Jemaat ini, orang-orang bernasib buruk dan sangat malang itu tidak mau paham juga, atau memang sengaja mereka tidak mau paham. Sedangkan kami selalu berdoa kepada Allah taala semoga Allah taala memberi taufiq kepada mereka untuk memahaminya.</p>
<p>Pada akhir ayat in Allah taala berfirman :  ??????????? ???? ???????????????yakni orang-orang yang meraih rahmat dan maghfirat dari Allah taala mereka itulah yang memperoleh hidayah dari Allah taala. Oleh sebab itu disebabkan telah memperoleh hidayat maka mereka terus meningkat didalam meraih hidayat itu dari Allah taala. Dan Allah taala memperlihatkan jalan-jalan baru kepada mereka untuk mencapai kemajuan. Sehingga mereka selalu menjadi peraih qurub dan kecintaan Allah taala. Dan kita harus selalu memohon doa kepada Allah taala agar Dia menjaga dan melindungi setiap orang Ahmadi dari setiap bala atau musibah. Akan tetapi jika sesuai dengan kehendak Allah taala seseorang harus mendapat ujian dan cobaan dari Allah taala, semoga Allah taala memberi taufik kepadanya untuk melewati masa ujian itu dengan tabah, mudah dan selamat. Dan semoga Allah taala selalu memberi bimbingan  kepada kita semua.</p>
<p>Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Apabila saya melihat kesulitan yang tengah kalian alami dan disamping itu saya melihat kudrat Allah taala yang maha mulia yang secara pribadi saya sendiri telah mengalaminya dan yang telah berlaku pada diri saya, sedikitpun saya tidak merasa gelisah. Sebab saya paham bahwa Allah taala adalah Dia Yang Karim (Maha Mulia) dan Qadir Qudrat, Yang Maha Kuasa. Dan Dia Yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah yang besar. Siapa yang ingin memperoleh banyak makrifat maka Allah taala pasti menurunkan musibah sebagai ujian kepadanya. Supaya mereka paham bahwa Tuhan memberi harapan positif kepada mereka bahwa dari tidak ada harapan sama sekali timbul hasrat dan keinginan yang baik. Pendeknya Dia sungguh Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya. Dengan adanya ujian dan cobaan itu jangan sampai Allah taala menjadi jauh dari kita. Dalam memberi ujian dan cobaan juga Allah taala Maha Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Penyayang.”</p>
<p>Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Jalan untuk memperoleh karunia dan rahmat-Nya selamanya terbuka selalu. Oleh sebab itu kita harus selalu menaruh harapan positif terhadap Rahmat-Nya. Dan diwaktu menghadapi kegelisahan perlu sekali bertaubah dan membaca istighfar sebanyak-banyaknya.”  Harus diingat selalu bahwa orang yang diwaktu turun bala dan musibah dia tinggalkan usaha untuk bertaubah dari keburukan atau dosa, yang sebetulnya untuk meninggalkan taubah dengan segera itu tidak ada maksud sebelumnya, maka hal itu merupakan siksaan besar bagi orang itu. Dan jika musibah dan kemalangan serta kesusahan tengah terjadi, lalu ia tinggalkan dosa atau kebiasaan buruknya itu, maka hal itu akan menjadi sebuah kaffarah yang besar baginya. Bersamaan dengan terbukanya hati dia itu untuk bertaubah terbukalah juga kegelapan musibah itu baginya. Dan datangnya nur cahaya menjadi suatu harapan yang pasti baginya. Apabila hati manusia telah terbuka mata kegelapan yang disebabkan timbulnya bala atau musibah itu akan berubah menjadi cahaya terang baginya. Dan akan timbul harapan untuk mendapatkan nur dari allah taala. </p>
<p>Jadi keadaan dunia sekarang ini seperti telah saya katakan bahwa para Ahmadi diseluruh dunia sangat perlu sekali untuk menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap doa. Mengingat-ingat kelemahan dan dosa yang ada pada dirinya sangat diperlukan sekali. Dan harus berusaha keras untuk berjumpa dengan Allah taala. Usaha pribadilah yang harus dilakukan oleh Jemaat, apabila seseorang berbuat baik mudah-mudahan membawa faedah untuk semuanya. Dalam suasana sekarang ini setiap Anggota Jemaat dimanapun berada sangat perlu sekali untuk meningkatkan  banyak doa untuk saudara-saudara kita itu. Mengingat keadaan yang tengah terjadi pada masa sekarang ini, nampaknya akan terjadi ujian-ujian yang lebih berat lainnya yang akan dihadapi oleh para Ahmadi di Pakistan. Oleh sebab itu dengan perantaraan doa-doa semoga hal itu bisa diatasi dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Setelah itu Huzur mengumumkan empat orang Ahmadi yang telah mati syahid dan beliau akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk keempat orang syuhada itu.</p>
<p>Alihbhasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=33&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/khalifah-ahmadiyah-seorang-mukmin-tetap-teguh-didalam-menghadapi-ujian-dan-kesulitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Definisi Muslim &amp; Pendirian Jemaat Ahmadiyah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/definisi-muslim-pendirian-jemaat-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/definisi-muslim-pendirian-jemaat-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 13:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Ghulam Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Masih Mau&#039;ud]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendiri Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyya Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Di seluruh dunia, ini suatu hal yang telah diakui bahwa sebelum menetapkan kategori seseorang atau suatu kelompok, maka terlebih dahulu ditentukan definisi lengkap tentang kategori tersebut, yang akan berfungsi sebagai ukuran. Selama definisi itu tegak, maka akan mudah untuk memutuskan apakah seseorang atau suatu kelompok dapat dimasukkan dalam kategori itu atau tidak. Dari segi ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=31&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di seluruh dunia, ini suatu hal yang telah diakui bahwa sebelum menetapkan kategori seseorang atau suatu kelompok, maka terlebih dahulu ditentukan definisi lengkap tentang kategori tersebut, yang akan berfungsi sebagai ukuran. Selama definisi itu tegak, maka akan mudah untuk memutuskan apakah seseorang atau suatu kelompok dapat dimasukkan dalam kategori itu atau tidak. Dari segi ini permohonan kami adalah, sebelum menelaah persoalan ini lebih lanjut, hendaknya ditetapkan suatu definisi maksimal dan minimal yang disepakati, tentang Muslim. Yaitu suatu definisi yang tidak hanya disepakati oleh segenap golongan di kalangan umat Islam, melainkan juga disepakati oleh umat Islam di segala zaman. Dalam kaitan itu adalah penting untuk memperhatikan persoalan-persoalan yang tertera di bawah ini:</p>
<p>A: Apakah dari Kitabullah atau Rasulullah saw. ada suatu definisi tentang Muslim yang tanpa kecuali telah disampaikan pada masa Rasulullah saw. sendiri? Jika ada, apa definisi itu ?</p>
<p>B: Di luar definisi itu – yang telah diuraikan oleh Kitabullah dan Rasulullah saw., dan yang terbukti telah disampaikan pada masa Rasulullah saw. sendiri – apakah dibenarkan atau tidak untuk menetapkan suatu definisi lain pada zaman tertentu ?</p>
<p>C: Selain definisi tersebut di atas, jika ada definisi-definisi lain tentang Muslim yang berasal dari berbagai ulama atau golongan-golongan di berbagai zaman, apa saja definisi-definisi itu?  Dan bagaimana kedudukan definisi-definisi itu secara syariat di hadapan definisi yang telah diuraikan pada bagian pertama ? </p>
<p>D: Di zaman Abu Bakar Shiddiq r.a., pada masa terjadi pergolakan kemurtadan, apa-<br />
 kah  Abu Bakar Shiddiq r.a. ataupun para sahabah Rasulullah saw. telah merasa perlu untuk mengadakan suatu perubahan pada definisi yang sudah ditetapkan di zaman  Rasulullah saw. ?</p>
<p>E: Apakah di zaman Nabi saw. atau di zaman Khilafat Rasyidah ada suatu contoh di mana walaupun seseorang itu mengikrarkan Kalimah “Laa ilaaha illallaah Muhammadur  Rasulullah” dan mengimani keempat Rukun Islam lainnya – yakni shalat, zakat, puasa dan haji – lalu dia tetap saja telah dinyatakan sebagai non-Muslim ?</p>
<p>F: Jika hal ini diizinkan, yakni seseorang walau mengimani kelima Rukun Islam lalu tetap saja dinyatakan keluar dari Islam karena dia menafsirkan beberapa ayat Qur’an Karim yang tidak dapat diterima para ulama dari golongan-golongan lain, atau dia dinyatakan keluar dari Islam karena dia menganut suatu akidah yang menurut beberapa golongan lain bertentangan dengan Islam, maka adalah penting untuk juga menetapkan penafsiran-penafsiran dan akidah-akidah seperti itu. Supaya, hal-hal itu dimasukkan ke dalam definisi Muslim yang sudah dikukuhkan, yakni selain kelima Rukun Islam, jika di dalam akidah-akidah suatu golongan terdapat hal-hal tersebut maka golongan itu dapat  dinyatakan keluar dari Islam.</p>
<p>G: Walau mengimani kelima Rukun Islam, jika pintu untuk mengkafirkan golongan-golongan Muslim tertentu dibukakan, yang disebut pada bagian E, maka memperhatikan hal-hal semacam itu secara logika dan secara adil adalah penting. Yaitu hal-hal yang dengan mempertimbangkannya berbagai ulama secara telak telah menyatakan golongan-golongan lain, di luar golongan mereka, sebagai kafir, murtad, atau keluar dari Islam. Sebagai contoh dipaparkan beberapa hal di bawah ini:</p>
<p>1. Akidah mengenai Al-Qur’an sebagai makhluk atau non-makhluk. (Asyaa’arah  &#8212; Hanabalah).</p>
<p>2. Tidak meyakini Rasulullah saw. sebagai manusia, melainkan sebagai cahaya. (Brelwi).</p>
<p>3. Tidak meyakini Rasulullah saw. sebagai cahaya, melainkan sebagai manusia. (Ahli Hadits).</p>
<p>4. Mengimani Rasulullah saw. sebagai sesuatu yang selalu ada (haadhir) dan melihat (naazhir), dan juga sebagai ‘aalimul-ghaib. (Brelwi).</p>
<p>5. Mengimani bahwa meminta pertolongan kepada orang-orang suci yang sudah wafat adalah sah, dan banyak sekali para wali yang telah wafat itu memiliki kekuatan untuk memenuhi permintaan siapapun bila dimohonkan. (Brelwi).</p>
<p>6. Menganut akidah bahwa di dalam Syariat tidak ada yang dapat dipercaya selain Al-Qur’an. Oleh karena itu kita tidak terikat untuk menuruti Sunnah Rasul saw. dan Hadits-hadits Rasul saw., tidak perduli betapapun riwayat-riwayat itu mutawatir dan qawi sampai ke tangan kita. (Chakralwi – Parwezi)</p>
<p>7. Menganut akidah bahwa selain surah-surah yang tertera di dalam 30 juz Al-Qur’an terdapat beberapa surah yang di dalamnya disebutkan tentang Ali r.a., tetapi surah-surah itu sudah dibuang. Dengan demikian Al-Qur’an yang telah turun kepada Rasulullah saw. itu tidak sampai kepada kita dalam bentuk yang lengkap. (Ghali Syi’ah).</p>
<p>8. Menganut akidah bahwa di tempat-tempat pertemuan, selain shalat lima waktu, dibenarkan untuk bermunajat di hadapan foto tokoh suci tertentu. Dan bukannya menujukan kepada Tuhan, melainkan dengan menujukan kepada foto tokoh suci itu adalah dibenarkan untuk memanjatkan doa. Dan doa ini adalah pengganti shalat. (Firqah Ismaili).</p>
<p>9. Menganut akidah bahwa selain lima wujud suci dan enam sahabah lainnya, segenap sahabat Rasulullah saw. – termasuk tiga tokoh Khulafa Rasyidin, Abu Bakar r.a., Umar r.a., dan Usman r.a. – telah menyimpang dari Islam dan, na’udzubillaah, mereka berstatus munafik. Kemudian berakidah bahwa ketiga khalifah pertama, na’udzubillaah, merampas kedudukan secara paksa. Oleh karena itu mengutuk dan mencerca mereka tidak hanya dibenarkan, melainkan suatu keharusan. (Syi’ah).</p>
<p>10. Menganut akidah mengenai tokoh suci tertentu bahwa Tuhan secara sementara atau permanen telah merasuk di dalam dirinya. (Firqah Hululi).</p>
<p>Memperhatikan hal-hal tersebut di atas adalah penting, sebab dari kesaksian-kesaksian yang telak dan kuat, telah terbukti bahwa mengenai setiap akidah dari yang dipaparkan itu, para ulama dan mujtahidin dari berbagai golongan umat Islam telah mengeluarkan fatwa tegas bahwa penganut akidah semacam itu adalah keluar dari Islam walaupun mereka mengimani unsur-unsur penting lainnya dalam agama.  Dan orang yang meragukan kekufuran merekapun tidak disangsikan lagi akan dinyatakan keluar dari Islam. Beberapa fatwa mengenai hal itu, silahkan simak suplemen no. 4.</p>
<p>Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, kami dengan sangat tegas menyerukan, jika pada hakikatnya yang dimaksud adalah menelaah kedudukan Jemaat Ahmadiyah dalam Islam dengan mempertimbangkan tuntutan-tuntutan akal dan keadilan, atau yang dimaksud adalah mengambil ketetapan tentang seseorang atau suatu golongan dalam Islam yang menganut penafsiran tertentu mengenai ayat Khaataman Nabiyyiin, maka tetapkanlah suatu standar ukuran sedemikian rupa yang dengan itu kekufuran setiap pihak yang menganut akidah bertentangan dengan Islam akan dapat ditemukan. Dan dalam bentuk apapun tidak ada hal yang memberatkan Jemaat Ahmadiyah dalam standar ukuran tersebut.</p>
<p>Mengenai segenap persoalan tersebut di atas, ringkasan pendirian Jemaat Ahmadiyah adalah sebagai berikut.</p>
<p>Pertama, menurut Jemaat Ahmadiyah, definisi Muslim satu-satunya yang dapat diterima dan patut diterapkan hanyalah definisi yang secara jelas terbukti berasal dari Rasulullah saw., dan yang secara jelas diriwayatkan dari Rasulullah saw., dan terbukti diterapkan pada zaman Rasulullah saw. dan Khulafa Rasyidin. Tetapi dengan bergeser dari prinsip ini, apapun upaya yang dilakukan untuk mendefinisikan Muslim, hal itu tidak akan kosong dari kekurangan-kekurangan dan keburukan. Khususnya segenap definisi yang ditetapkan pada zaman-zaman belakangan (ketika Islam telah terpecah-pecah menjadi 72 golongan), juga sangat pantas untuk ditolak karena definisi-definisi itu satu sama lain saling bertentangan, dan tidak mungkin dalam satu waktu yang sama  kesemua definisi itu dapat diterima. Dan tidak mungkin pula untuk mengambil satu definisi manapun, sebab dengan demikian maka seseorang itu akan dinyatakan non-Muslim berdasarkan definisi-definisi lainnya.  Dan tetap tidak akan mungkin dapat keluar dari rawa lumpur ini dalam bentuk apapun. Hakim Muhammad Munir, pada waktu pemeriksaan tahun 1953, ketika memintakan kepada berbagai ulama untuk memberikan penjelasan mengenai definisi Muslim, maka disesalkan bahwa tidak ada dua orang ulamapun yang dapat sepakat mengenai satu definisi manapun. Mengenai hal itu, dengan mengungkapkan penyesalan beliau, Hakim Munir mengatakan:</p>
<p> “Dengan memperhatikan berbagai definisi yang telah dilakukan oleh para ulama, tidaklah perlu bagi kami untuk memberikan komentar apapun, kecuali bahwa, tidak ada dua orang ulamapun yang sepakat atas masalah dasar ini. Jika kami juga seperti seorang ulama memberikan satu definisi dari pihak kami, dan definisi itu berbeda dari segenap definisi lainnya, maka kami dengan sendirinya akan menjadi keluar dari Islam. Dan jika kami memakai definisi yang dilakukan oleh salah seorang dari antara ulama-ulama itu, maka kami memang akan tetap sebagai Muslim pada pandangan ulama tersebut, tetapi akan menjadi kafir berdasarkan setiap definisi lainnya.” (Report of The Court of Inquiry Constituted Under Punjab Act II of 1954  to Enquire into the Punjab Disturbances of 1953, h.218).</p>
<p>Dari kesimpulan yang dicapai oleh Hakim Munir itu hal ini secara tegas terbukti bahwa mengenai definisi Muslim, sampai pada penyusunan laporan (Report) itupun tidak pernah terjadi ijma’ yang darinya didapat suatu kesepakatan para shalihin terdahulu. Oleh karena itu, jika pada masa sekarang ini dipaparkan suatu definisi yang secara zahir tampaknya disepakati, maka definisi itu sama-sekali tidak dapat dinyatakan sebagai definisi hasil ijma’ umat, dan darinya tidak diperoleh kesepakatan para shalihin terdahulu.</p>
<p>Jadi, pendirian Jemaat Ahmadiyah adalah, mengambil definisi yang mengandung hukum dan bersifat pokok tentang Muslim, yang telah disabdakan dari lidah Yang Mulia Khaatamul Anbiyaa shallallaahu ‘alaihi wasallam. Definisi ini merupakan suatu piagam mulia bagi negara Islam.  Untuk itu kami memaparkan tiga buah Hadits Nabi saw..</p>
<p>(1) Jibril a.s. dalam bentuk manusia datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya kepada beliau:</p>
<p>Artinya: “’Hai Muhammad! Beritahukanlah kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Islam, ialah hendaknya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan beribadah haji di Baitullah jika engkau mampu menempuh di jalannya.’ Orang itu berkata: ‘Engkau benar!’ Perawi mengatakan: ‘Kami merasa heran kepada orang itu.  Dia bertanya dan sekaligus membenarkannya.’ Kembali orang itu berkata: ‘Beritahukanlah kepadaku tentang Iman’. Rasulullah saw. bersabda: ’Hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada takdir, baik dan buruknya takdir.’  Orang itu berkata: ‘Engkau benar.’”                (Shahih Muslim, Kitabul Iman)</p>
<p>(2) Artinya: “Seorang laki-laki penduduk Najd datang kepada Rasulullah saw., tidak teratur rambut kepalanya. Kami mendengar suaranya tetapi tidak memahami apa yang dikatakannya sampai dekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Rasulullah saw. bersabda: ‘Shalat lima kali dalam sehari semalam.’ Lalu dia berkata, &#8216;Apakah ada kewajiban lain atasku ?&#8217; Beliau bersabda: ‘Tidak, kecuali engkau ingin melakukannya secara nafal! Rasulullah saw. bersabda: ‘Dan puasa Ramadhan.’ Ia bertanya: &#8216;Apakah ada kewajiban lainnya atasku ?&#8217; Beliau bersabda: ‘Tidak, kecuali engkau ingin melakukannya secara nafal.’ Dan Rasulullah menuturkan kepadanya tentang zakat. Ia bertanya: ‘Apakah ada kewajiban lainnya atasku ?’ Beliau bersabda: ‘Tidak, kecuali engkau ingin melakukannya secara nafal.’ Lalu laki-laki itu berpaling seraya berkata: ‘Demi Allah, saya tidak menambah atas ini dan tidak pula menguranginya.’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Berbahagialah dia, jika dia terbukti benar dalam ucapanya.” (Shahih Bukhari, Kitabul Iman, Bab Az-Zakatu minal Islam).</p>
<p>(3) Artinya: “Barangsiapa yang shalat seperti shalat kita, berkiblat pada kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka ia adalah orang Muslim yang mempunyai jaminan dari Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu mengecoh Allah dalam hal jaminan-Nya. (Shahih Bukhari, Kitabul Shalat, Bab Fadhlistiqbaalil Qiblah).</p>
<p>Merupakan suatu ihsan agung Junjungan Suci kita saw. bahwa melalui definisi tersebut Rasulullah saw. dalam kata-kata yang sangat lengkap telah meletakkan fondasi antara bangsa-bangsa di dalam kesatuan dunia Islam. Dan merupakan kewajiban setiap pemerintahan Islam untuk mengakui fondasi/prinsip ini dalam pandangan mereka dengan sangat jelas. Jika tidak, maka tatanan umat Islam senantiasa akan hancur, dan pintu-pintu kekacauan tidak akan pernah dapat ditutup.<br />
Setelah kurun pertama, selama 14 abad silam, apapun fatwa kufur yang telah dikeluarkan oleh berbagai ulama di berbagai zaman yang didasarkan pada definisi rancangan mereka sendiri, telah menimbulkan bentuk yang begitu mengerikan sehingga tidak ada tokoh suci agama, ulama-ulama, para sufi dan waliullah dari abad manapun yang keislamannya dapat bertahan selamat berdasarkan definisi-definisi tersebut. Dan tidak ada satu golonganpun dapat dikemukakan yang status kekufurannya tidak dinyatakan oleh sebagian golongan lainnya. Dalam kaitan ini dilampirkan suplemen nomor 5.</p>
<p>Kedudukan Fatwa Kafir</p>
<p>Di sini timbul pertanyaan, apa kedudukan fatwa-fatwa kafir itu? Dan apakah seorang ulama secara pribadi ataupun sebagai wakil dari golongannya memiliki otoritas atau tidak untuk memberi fatwa kafir terhadap seseorang atau golongan lainnya? Dan apa dampak yang akan timbul dari fatwa-fatwa semacam itu terhadap umat Islam secara keseluruhan?</p>
<p>Menurut Jemaat Ahmadiyah, kedudukan fatwa-fatwa semacam itu tidak lebih dari sekedar bahwa menurut sebagian ulama tertentu beberapa akidah adalah bertentangan dengan Islam karena penganut akidah-akidah tersebut kafir pada pandangan Allah, dan di Hari Kiamat mereka tidak akan dibangkitkan di tengah-tengah umat Islam. Dari sudut ini, fatwa-fatwa tersebut di dunia hanya memiliki kedudukan sebagai suatu peringatan. Dan sejauh yang berkaitan dengan urusan-urusan dunia, kepada seseorang atau suatu golongan tidak dapat diberikan hak atau otoritas untuk mengeluarkan [mengeluarkan pihak-pihak tertentu] dari batas-batas Islam yang paling jauh sekalipun. Itu adalah urusan antara Allah dengan manusia. Dan keputusannya hanya dapat berlangsung pada hari pembalasan di Hari Kiamat. Dalam urusan-urusan dunia, keberadaan fatwa-fatwa tersebut dapat terbukti sangat berbahaya bagi kesatuan umat Islam. Dan seseorang atau suatu golongan lainnya tidak dapat dinyatakan keluar dari Islam dengan menggunakan fatwa ulama-ulama dari golongan tertentu sebagai landasan.</p>
<p>Pendirian yang mengatakan bahwa jika segenap golongan sepakat mengenai kekufuran suatu golongan sehingga golongan itu dapat dinyatakan keluar dari Islam, dari segi ini adalah salah dan tidak dapat diterima akal, sebabnya ialah (sebagaimana terbukti dari penelaahan terhadap fatwa-fatwa yang tercantum di dalam suplemen) secara amalan, dalam setiap golongan umat Islam sedikit banyak pasti terdapat akidah-akidah yang mengenainya kebanyakan golongan tersebut menyepakatinya sebagai akidah-akidah yang membuat para penganutnya keluar dari Islam. Dan kondisi demikian menuntut kedatangan seorang hakim adil dari Langit.</p>
<p>Jika pada hari ini berdasarkan beberapa pertentangan ternyata sangat mungkin terjadi kesepakatan segenap golongan lainnya menentang Jemaat Ahmadiyah, maka besokpun mungkin saja akan terjadi seperti itu menentang golongan Syi’ah mengenai beberapa akidah khusus yang mereka anut. Dan hal yang sama juga dapat terjadi pada Ahli Qur’an seperti Chakralwi atau Parwezi. Dan mengenai beberapa akidah Ahli Hadits, Wahabi atau Deobandi juga secara amalan terjadi kesepakatan para ulama dari golongan-golongan lainnya. Jadi, kata mayoritas adalah suatu gambaran yang melampaui batas. Cobalah simak satu golongan secara khusus, maka sebagai lawannya segenap golongan lain akan tampil sebagai kelompok mayoritas. Dan dengan demikian, secara bergiliran, terhadap masing-masing golongan akan berlakulah fatwa kafir dari kelompok mayoritas lainnya.<br />
 Menurut kami, fatwa-fatwa itu berpijak pada hal-hal zahir. Dan pada substansinya fatwa-fatwa itu tidak dapat dinyatakan sebagai surat panggilan untuk masuk surga ataupun neraka. Sejauh yang berkaitan dengan hakikat Islam, kami menuliskan definisi Muslim sejati, dalam kata-kata Pendiri Jemaat Ahmadiyah:</p>
<p>“Secara istilah, arti Islam adalah apa yang diisyaratkan oleh ayat suci ini, yakni:</p>
<p>Yakni, Muslim adalah dia yang menyerahkan segenap wujudnya di jalan Allah Ta’ala. Yakni, mewakafkan wujudnya untuk Allah Ta&#8217;ala dan untuk mengikuti kehendak-kehendak-Nya, serta untuk meraih keridhaan-Nya. Kemudian dia berdiri teguh di atas perbuatan-perbuatan baik demi Allah Ta’ala. Dan dia mengerahkan segenap kekuatan amaliah wujudnya di jalan Allah. Artinya, secara akidah dan secara amalan, dia telah menjadi milik Allah Ta’ala semata.</p>
<p>Secara akidah adalah demikian, yakni dia memahami segenap wujudnya secara hakikat sebagai sesuatu yang telah diciptakan untuk mengenali Allah Ta’ala, untuk mentaati, dan untuk meraih kecintaan serta keridhaan-Nya. Sedangkan secara amalan adalah demikian, yakni murni demi Allah dia melakukan kebaikan-kebaikan hakiki yang berkaitan dengan segenap kemampuannya dan yang berhubungan dengan segenap karunia anugerah Allah. Namun, dengan penghayatan dan pendalaman sedemikian rupa seolah-olah pada pandangan keitaatannya dia sedang menyaksikan wajah Sang Ma’bud Haqiqi itu….</p>
<p>Sekarang dengan menelaah ayat-ayat tersebut di atas, setiap orang berakal dapat memahami bahwa hakikat Islam baru dapat merasuk ke dalam diri seseorang apabila wujudnya bersama segenap kemampuan batiniah dan zahiriahnya hanya diwakafkan untuk Allah Ta&#8217;ala dan untuk jalan-Nya. Dan amanat-amanat yang dia terima dari Allah Ta’ala, dia serahkan kembali kepada Sang Penganugerah Sejati itu. Dan tidak hanya secara akidah saja, melainkan secara amalanpun dia memperlihatkan seluruh bentuk Islamnya serta hakikat sempurna Islam tersebut. Yakni, seorang yang mengaku Islam, membuktikan bahwa tangannya, kaki, kalbu, otak, akalnya, pemahamannya, kemarahannya, rasa kasihnya, kelembutan hatinya, ilmunya, segenap kekuatan rohani dan jasmani yang ia miliki, kehormatannya, hartanya, ketenteraman dan kebahagiaannya, dan apa saja yang ada secara zahir maupun batin mulai dari rambut-rambut di kepalanya hingga ke kuku-kuku di kakinya, bahkan sampai niat-niatnya, partikel-partikel kalbunya, dorongan-dorongan nafsunya, kesemuanya itu telah mengikuti Allah Ta’ala sedemikian rupa sebagaimana anggota-anggota tubuh yang dimiliki seseorang taat mengikuti orang itu. Ringkasnya, hal ini harus terbukti bahwa langkah kebenaran itu telah mencapai suatu derajat di mana apa saja yang dia punyai sudah tidak lagi menjadi miliknya, melainkan telah menjadi milik Allah Ta’ala. Dan segenap bagian tubuh serta kemampuan, telah dikerahkan untuk mengkhidmati Ilahi, seakan-akan semua itu menjadi bagian tubuh Al-Haq .</p>
<p>Dan dengan menelaah ayat-ayat itu, hal inipun tampil dengan jelas dan nyata bahwa mewakafkan hidup di jalan Allah Ta’ala, yang merupakan hakikat Islam, ada dua macam. Pertama, menyatakan hanya Allah Ta’ala itulah Dzat yang disembah, dituju dan dicinta. Serta tidak menyekutukan apapun dalam penyembahan, kecintaan, takut, dan harapan terhadap-Nya. Dan hal-hal yang berkaitan dengan pengkudusan-Nya, pemujian terhadap-Nya, penyembahan-Nya, dan segenap tata-krama penyembahan-Nya, hukum-hukum-Nya, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, serta hal-hal yang berkaitan dengan keputusan dan taqdir Samawi, kesemuanya itu diterima dengan sepenuh hati. Kemudian sepenuhnya menggali segenap kebenaran suci dan makrifat-makrifat suci yang merupakan sarana untuk mengetahui qudrat-qudrat-Nya yang maha luas, dan yang merupakan perantara untuk mengetahui derajat tinggi pemerintahan dan kerajaan-Nya, serta yang merupakan suatu penuntun kokoh untuk mengenali kemurkaan-kemurkaan dan anugerah-anugerah-Nya.</p>
<p>Jenis kedua mewakafkan hidup di jalan Allah Ta’ala adalah mewakafkan hidup dalam mengkhidmati, bersikap solider sependeritaan, membantu mencarikan jalan, membantu memikul beban, dan benar-benar merasakan kepedihan hamba-hamba-Nya. Menanggung penderitaan untuk memberikan ketenteraman pada orang-orang lain, dan rela merasakan kepedihan atas diri sendiri demi kesejahteraan orang lain.</p>
<p>Dari pernyataan ini diketahui bahwa hakikat Islam sangat mulia. Dan seorang manusia tidak pernah dapat secara hakiki menyandang sebutan mulia sebagai warga Islam selama dia belum menyerahkan kepada Allah seluruh wujudnya bersama segenap kemampuan, keinginan, dan kehendaknya. Dan mencabut diri dari keakuannya (egoisme) serta dari segenap hal yang berkaitan dengan itu, dan menjauhi jalan keakuan tersebut.</p>
<p>Jadi, secara hakiki seseorang itu baru dapat dikatakan Muslim tatkala timbul suatu revolusi besar di dalam kehidupannya yang penuh kelalaian. Kemudian, eksistensi wujud nafs amarah yang dia miliki, beserta segenap dorongannya, serentak punah. Lalu, setelah maut tersebut, di dalam dirinya mulai timbul kehidupan baru sebagai orang yang berbuat kebaikan demi Allah. Dan itu adalah suatu kehidupan suci yang di dalamnya tidak terdapat apapun kecuali ketaatan terhadap Sang Khaliq dan sikap solider terhadap sesama makhluk.</p>
<p>Ketaatan terhadap Sang Khaliq adalah demikian, yakni dia siap untuk menerima kehinaan dan kenistaan demi menzahirkan kehormatan, keperkasaan, serta keesaan-Nya. Dan dia siap menerima ribuan kematian demi menghidupkan Tauhid-Nya. Dan dalam ketaatan terhadap-Nya, satu tangan bisa rela memotong tangan yang lain. Dan dalam kecintaan akan keagungan perintah-perintah-Nya serta dalam kehausan akan keridhaan-Nya, dia membenci dosa sedemikian rupa seakan-akan dosa itu adalah suatu api yang siap melahap, atau bagai racun yang mematikan, atau sebuah halilintar yang dapat menghanguskan, sehingga harus melarikan diri dari dosa itu dengan segenap kemampuannya. Ringkasnya, untuk mengikuti kehendak-Nya, kita harus meninggalkan segenap kehendak jiwa kita. Dan untuk melekat dengan-Nya, terimalah sayatan-sayatan luka yang sangat menyakitkan. Dan untuk memberikan bukti ikatan dengan-Nya, putuskanlah segenap ikatan nafsu.</p>
<p>Dan mengkhidmati makhluk Allah adalah demikian, yakni sekian banyak kebutuhan makhluk, dan sekian banyak faktor serta jalan yang telah diciptakan Sang Pembagi Azali untuk membuat sebagian membutuhkan sebagian lainnya, dalam segenap hal tersebut memberikan manfaat kepada makhluk semata-mata demi Allah dengan solidaritas hakiki dan tanpa maksud tertentu serta dengan solidaritas sejati yang dapat timbul dari dirinya. Dan membantu setiap yang membutuhkan bantuan, melalui kemampuan anugerah Allah. Dan mengerahkan semua kekuatan untuk mengadakan perbaikan dunia dan akhirat bagi [makhluk-makhluk].</p>
<p>Jadi, inilah ketaatan dan pengkhidmatan demi Allah yang sangat mulia, yang bercampur dengan kasih sayang dan kecintaan, serta yang dipenuhi oleh ketulusan dan sikap merendahkan diri. Inilah Islam dan hakikat Islam serta intisari Islam yang diraih setelah memperoleh kematian dari nafs, dorongan alami, nafsu, dan kehendak.” (Ainah Kamalaat-e-Islam, p. 57-62)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=31&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/definisi-muslim-pendirian-jemaat-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Khaataman Nabiyyiin saw. Dan Tulisan-tulisan Penuh Makrifat Dari Pendiri Jemaat Ahmadiyah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kedudukan-khaataman-nabiyyiin-saw-dan-tulisan-tulisan-penuh-makrifat-dari-pendiri-jemaat-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kedudukan-khaataman-nabiyyiin-saw-dan-tulisan-tulisan-penuh-makrifat-dari-pendiri-jemaat-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 13:02:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Tanggapan Terhadap Tuduhan Mengingkari Khatamun Nubuwwat “Inti dan saripati akidah saya adalah: Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullah. Kepercayaan yang saya anut dalam kehidupan di dunia ini, dan &#8212; atas karunia serta taufik Allah Ta&#8217;ala &#8212; dengannya saya akan meninggalkan alam tempat berlalu ini, ialah, bahwa Sayyidina wa Maulana Muhammad Mushthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah Khaataman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=26&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggapan Terhadap Tuduhan  Mengingkari  Khatamun Nubuwwat</p>
<p>“Inti dan saripati akidah saya adalah: Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rasuulullah. Kepercayaan yang saya anut dalam kehidupan di dunia ini, dan &#8212; atas karunia serta taufik Allah Ta&#8217;ala &#8212; dengannya saya akan meninggalkan alam tempat berlalu ini, ialah, bahwa Sayyidina wa Maulana Muhammad Mushthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah Khaataman Nabiyyiin dan Khairul Mursaliin. Melalui tangan beliaulah agama telah sempurna, dan nikmat/anugerah telah mencapai derajat paling lengkap, yang dengan perantaraan itu manusia menempuh jalan lurus lalu dapat mencapai Allah Ta&#8217;ala.” (Izalah Auham)</p>
<p>Tuduhan ini jelas-jelas keliru dan merupakan kedustaan. Yakni, na’udzubillaah, Jemaat Ahmadiyah mengingkari ayat Khaataman-nabiyyiin dan tidak mengakui Nabi Muhammad Mushthafa Khatamul Anbiya saw. sebagai Khaataman Nabiyyiin. Sungguh aneh, tuduhan ini dilontarkaan terhadap suatu Jemaat di antara seluruh golongan umat Islam, yang secara teguh meyakini bahwa jangankan satu ayat Al-Qur’an Suci, satu noktah atau satu titikpun tidak ada yang mansukh. Padahal sebaliknya, menurut para ulama dari golongan-golongan lain, sebagian ayat Al-Qur’an telah dimansukhkan melalui sebagian ayat lainnya, dan sekarang ayat-ayat itu bagaikan usus buntu dalam tubuh manusia. Jadi, bukankah ini suatu hal yang aneh ? Yakni golongan-golongan yang mempercayai bahwa di dalam Al-Qur’an Karim terdapat 5 hingga 500 ayat telah dimansukhkan, melontarkan tuduhan mengingkari satu ayat Al-Qur’an Karim terhadap sebuah golongan yang memiliki akidah bahwa jangankan satu ayat, satu noktahpun tidak ada yang mansukh.</p>
<p>Apalagi namanya kalau bukan keaniayaan dan kezaliman ? Di satu sisi Jemaat Ahmadiyah bersiteguh menyatakan bahwa begitulah akidah kami dan itulah yang berkali-kali ditekankan pendiri Jemaat Ahmadiyah kepada kami. Yakni, Al-Qur’an adalah kitab Allah yang terakhir dan sempurna; Muhammad Mushthafa saw. adalah rasul-Nya yang terakhir dan paling sempurna, serta merupakan Khaatamun Nabiyyiin. Di sisi lain, para ulama penentang, memberikan jawaban pada kami, “Walaupun kalian mengatakan demikian, dalam makna tertentu kalian tetap masih menganggap ada kemungkinan bagi kedatangan nabi. Oleh sebab itu kalian mengingkari makna ayat suci tersebut! Jadi, secara nyata kalian terhitung mengingkari ayat itu.”</p>
<p>Inilah alasan terbesar para penentang Jemaat, yang dengan kekuatannya mereka bangkit membawa tekad untuk mengeluarkan Jemaat Ahmadiyah dari Islam. Mari kita simak hakikat tuduhan ini dengan hati yang sejuk. Dan dengan tenang serta adil, kita simpulkan bahwa para penuduh itu jauh dari kebenaran. Jangan-jangan tuduhan itu berlaku pada diri mereka sendiri, dan mereka bakal terkena sangsi karena menuduh pihak lain mengingkari ayat tersebut.</p>
<p>Pendirian Jemaat Ahmadiyah adalah, kami mengimani seluruh makna ayat Khaataman-nabiyyiin yang bersesuaian dengan Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ orang-orang shaleh terdahulu, ungkapan-ungkapan dan bahasa Arab. Kami mengimani makna harfiah ayat ini, dan juga mengimani makna-makna hakikinya, yang intinya, Rasulullah saw. adalah paling sempurna dari seluruh nabi; stempel para nabi; dan merupakan perhiasan para nabi. Seluruh potensi nubuwwat telah berakhir pada beliau. Kunci setiap fadhilah/keunggulan telah diserahkan ke tangan beliau. Syariat beliau &#8212; yakni Al-Qur’an dan Sunnah &#8212; akan terus berlaku hingga kiamat, dan meliputi seluruh penjuru dunia. Setiap manusia berkewajiban untuk mempercayainya. Tidak ada seorangpun yang dapat memansukhkan Syariat ini barang setitikpun. Jadi, beliau adalah Rasul pembawa syariat terakhir dan Imam terakhir yang wajib ditaati. Beliau adalah penutup sekalian nabi, secara jasmani maupun secara rohani.  Tidak ada seorang nabi yang dapat terlepas dari lingkup ke-khatam-an beliau, dari sisi manapun. Setelah kedatangan beliau, tidak mungkin ada nabi terdahulu yang secara jasmani tetap hidup di dalam era beliau. Tidak mungkin, beliau telah berlalu dari dunia ini, kemudian ada nabi terdahulu lainnya yang masih hidup secara jasmani. Na’udzubillaah, nabi tersebut wafat setelah menyaksikan ke-khatam-an beliau secara jasmani.</p>
<p>Dalam makna-makna hakikipun beliau saw. merupakan penutup sekalian nabi. Tidak mungkin karunia nabi terdahulu masih berkelanjutan setelah kedatangan beliau, dan mampu menganugerahkan suatu kedudukan rohani yang terendah sekalipun kepada seseorang manusia. Beliau merupakan penutup bagi karunia-karunia segenap nabi lainnya. Namun, karunia-karunia beliau saw. tetap berlangsung hingga Kiamat. Segenap karunia dan anugerah rohani yang dahulu senantiasa diraih oleh umat manusia dengan cara mengikuti nabi-nabi sebelumnya, lebih besar dari itu akan dianugerahkan kepada umat manusia hingga hari Kiamat melalui beliau dan melalui khazanah beliau. Ringkasnya, kami mengakui Rasulullah saw. sebagai Khaataman Nabiyyiin dalam makna harfiah maupun hakiki. Dan kami secara hormat berani memaparkan kenyataan yang pahit ini, bahwa selain para pengingkar hadits, para ulama dari segenap golongan penentang kami, tidak mengakui Rasulullah saw. sebagai Khaataman Nabiyyiin dalam makna-makna tersebut. Walaupun mereka mengatakan Rasulullah saw. sebagai penutup sekalian nabi, mereka menganut kepercayaan yang berlawanan. Yakni, na&#8217;udzubillaah, Rasulullah saw. tidak mampu menjadi penutup bagi Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., secara jasmani maupun secara rohani. Ketika beliau saw. datang, hanya ada satu nabi lain yang masih hidup secara jasmani. Namun, disayangkan, dia tidak berakhir di masa hidup beliau saw.. Beliau telah wafat, tetapi dia masih tetap hidup. Rasulullah saw. telah berlalu 1400 tahun silam, tetapi Nabi Israili ini masih tetap hidup sampai sekarang. Cobalah bersikap adil sedikit. Dari segi makna-makna jasmani kata khaatam/penutup, menurut orang-orang yang percaya Almasih a.s. masih hidup, siapa yang telah menjadi penutup antara keduanya ?</p>
<p>Kemudian para ulama ini secara amalan juga mengakui Almasih a.s. sebagai khaatam dari segi rohani. Sebab, mereka percaya bahwa Rasulullah saw. tidak mampu menutup karunia Almasih. Karunia nabi-nabi lain telah habis sejak sebelumnya, dan segenap jalan keselamatan lain telah tertutup. Almasih sendiri yang masih hidup. Namun disayangkan, jalan bagi karunia Almasih tidak dapat ditutup. Tidak hanya itu, kekuatan karunianya telah menjadi sangat besar dibandingkan sebelumnya. Walaupun ada kekuatan suci Rasulullah saw. yang sangat agung, umat Islam tetap terkena penyakit-penyakit rohani yang berbahaya. Umat ini dikepung oleh berbagai macam penyakit rohani. Kekuatan suci Rasulullah saw. secara langsung tidak mampu menyelamatkan ini. Ya, seorang rasul Bani Israil, melalui semburan napas ke-masih-annya, dapat menyelamatkan umat ini dari cengkeraman maut serta menganugerahkan suatu kehidupan rohani baru. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Apakah dari itu tidak terbukti dengan jelas bahwa orang-orang yang percaya Almasih masih hidup, tidak menganggap Rasulullah saw. sebagai penutup sekalian nabi, dari segi karunia ? Bahkan mereka yakin pada saat ini hanya ada satu orang nabi yang masih hidup, dan Rasulullah saw. tidak mampu menutup karunia nabi itu. Bahkan, na&#8217;udzubillaah, Nabi Israili itu telah wafat ketika umat Islam sangat berhutang budi kepadanya.<br />
Perhatikanlah! Tidakkah Nabi Isa a.s. dianggap sebagai khaataman nabiyyiin dalam makna jasmani maupun rohani ? Tidakkah hal ini jelas-jelas menghina Rasulullah saw ? Tidakkah hal ini menghancurkan ruh ayat  Khaataman-nabiyyiin ? Dan tetap saja dinyatakan bahwa orang Ahmadi mengingkari Khaataman Nabiyyiin, sedangkan mereka mempercayai Khaataman Nabiyyiin, bahkan melindunginya. Apakah keadilan benar-benar telah hilang dari dunia ? Apakah segenap pertimbangan akal sehat akan diabaikan ? Apakah keputusan ini tidak akan ditimbang secara adil, melainkan kebenaran dan kebatilan serta keselamatan ukhrowi akan diputuskan hanya berdasarkan kekuatan mayoritas ? Semoga Allah tidak menjadikannya demikian. Semoga Allah benar-benar tidak menjadikannya demikian. Namun, jika terjadi seperti itu, mengapa yang digembar-gemborkan adalah takwa Ilahi. Kenapa hal itu tidak disebut saja hukum rimba ? Dan kenapa  untuk ketidakadilan ini digunakan nama suci Allah dan Rasul ? Apapun nama baik yang diberikan untuk suatu kehancuran, tetap saja ia merupakan kehancuran.</p>
<p>Kepada kami dikatakan, &#8220;Kalian sepenuhnya tidak mengakui Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir. Dan dengan cara penafsiran, kalian membuka jalan bagi kedatangan seorang nabi ummati dan zilli. Sehingga dengan itu kalian telah melanggar Khatamun Nubuwwat.&#8221;</p>
<p>Kami mengakui bahwa munculnya nabi ummati seperti itu dalam umat Islam &#8212; yang merupakan hamba kamil Rasulullah saw. dan sepenuhnya meraih karunia dari beliau saw. &#8212; sama sekali tidaklah menentang makna ayat Khaataman-nabiyyiin. Sebab, hamba yang fana dan kamil, tidak dapat dipisahkan dari majikannya. Kami bertanggung jawab untuk  membuktikan pendirian kami ini dari Al-Qur’an Hakim, sabda-sabda Nabi Muhammad saw., ucapan-ucapan para pemuka umat, dan dari ungkapan-ungkapan bahasa Arab. Dalam kaitan itu, pada halaman-halaman berikut ini akan dipaparkan suatu hasil pembahasan. Namun sebelumnya, kami akan meninjau orang-orang yang melontarkan tuduhan kepada kami sebagai penghancur segel/stempel kenabian. Yakni, bagaimana kedudukan akidah mereka. Mereka secara zahir menda’wakan bahwa mereka &#8212; secara mutlak, tanpa syarat, tanpa pengecualian dan dalam setiap makna &#8212; mengakui Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir. Dan sesudah beliau, mereka tidak mengakui kedatangan nabi jenis apapun. Namun, jika dipertanyakan kepada mereka, maka terpaksa mereka mengatakan, “…kecuali Nabi Isa a.s. yang  suatu hari nanti pasti akan turun  di tengah umat ini.”</p>
<p>Apabila anda mempersoalkannya kepada mereka &#8212; yakni, “Kalian telah mengatakan bahwa Rasulullah saw. secara mutlak, tanpa pengecualian, adalah nabi terakhir, dalam makna bahwa sesudah beliau tidak akan datang nabi jenis apapun; bagaimana pula kalian telah memperoleh hak untuk menimbulkan pengecualian ?” Maka sebagai jawabannya mereka paparkan penakwilan yang sangat tidak bermakna. Yakni, “Dikarenakan Nabi Isa adalah seorang nabi terdahulu, oleh sebab itu kedatangannya yang kedua kali, tidak akan memecahkan segel/stempel Khatamun Nubuwwat.” Apabila dipertanyakan kepada mereka, apakah beliau akan datang membawa syariat Musa ? Maka mereka mengatakan tidak, melainkan beliau akan datang tanpa syariat. Kemudian apabila ditanyakan, “Dalam bentuk demikian, apa jadinya tugas perintah dan larangan bagi beliau ? Hal-hal apa yang akan beliau nasihatkan,  dan hal-hal apa yang akan beliau larang ?” Maka mereka mengatakan, pertama-tama beliau akan menjadi anggota umat Islam, kemudian mengikuti Syariat Islam, lalu menjadi nabi. Lebih lanjut mereka tidak mampu menjawab berbagai macam pertanyaan. Yakni, apakah ulama-ulama yang akan mengajarkan Syariat Islam kepada Almasih ? Atau, kepada beliau akan diberikan pengetahuan tentang Al-Qur’an, Hadits, dan Sunnah melalui wahyu dari Allah Ta&#8217;ala secara langsung ? Namun, dari pemeriksaan ini terbukti dengan telak bahwa mereka sendiri tidak mempercayai Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir secara penuh. Bahkan mereka memberikan pengecualian bahwa sesudah Rasulullah saw. dapat saja datang seorang nabi lama, yang bukan pembawa syariat, ummati, mengikuti Syariat Islam kata demi kata, dan mengajarkannya, tanpa memecahkan segel kenabian.</p>
<p>Kami berhak menanyakan kepada orang berakal, bijak, dan adil. Apakah bagi penganut akidah semacam itu, dari sisi logika maupun keadilan, dapat dibenarkan untuk mengatakan bahwa sesudah Rasulullah saw. tidak akan dapat lagi datang nabi jenis apapun ?</p>
<p>Permasalahan yang sebenarnya adalah, berdasarkan sabda-sabda Sang Khaataman Nabiyyiin saw., kami dan orang-orang selain kami serta segenap pihak yang mengakui hadits, terpaksa menganut akidah bahwa “Isa Nabiullah”  memang akan turun di kalangan umat ini ?</p>
<p>Kami, berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Hadis yang jelas, mengetahui pula bahwa Isa Ibnu Maryam telah  wafat. Oleh sebab itu sabda tersebut di atas kami artikan sebagai berikut. Yakni “Isa Nabiullah” yang bakal datang itu, akan lahir di kalangan hamba-hamba Rasulullah saw. dalam umat Islam ini juga. Dan dari Al-Qur’an, Hadits, serta ucapan-ucapan para tokoh Agama Islam, kami membuktikan bahwa tokoh yang dijanjikan bakal datang itu, juga akan berkedudukan sebagai nabi Allah, serta sebagai ummati Rasulullah saw.. Dan akidah ini sama sekali tidak bertentangan dengan ke-khatam-an Nabi Muhammad saw..</p>
<p>Namun, para ulama lain  berusaha menenteramkan hati mereka dengan penakwilan berikut. Yakni, jika nabi terdahulu itu datang kembali &#8212; dikarenakan dia telah lahir terlebih dahulu, dan sejak sebelumnya telah dianugerahkan pangkat kenabian, sehingga dia tidak dapat dinyatakan sebagai yang terakhir &#8212; maka jalan kedatangan bagi nabi terdahulu itu masih tetap terbuka tanpa memecahkan segel kenabian.</p>
<p>Poin dasar dalam pemaparan dalil seperti itu adalah, nabi yang telah lahir terlebih dahulu tidak dapat dinyatakan sebagai nabi terakhir. Apabila kita menyimak dalil seperti itu, maka tampak sangat lemah dan sia-sia.</p>
<p>Pertanyaannya adalah, jika hari ini di hadapan seorang pemuda berusia 20 tahun lahir seorang bayi, lalu dalam beberapa hari  bayi itu meninggal, kemudian pemuda tersebut meninggal dunia 80 tahun berikutnya dalam usia 100 tahun, maka siapa yang akan ditulis terakhir oleh penulis sejarah ? Yakni, siapa yang akan dinyatakan terakhir oleh penulis sejarah yang memiliki pemahaman mendalam serta akal yang sehat ?</p>
<p>Apakah anak bayi itu, yang lahir belakangan, namun meninggal setelah hidup beberapa hari saja ? Ataukah pemuda yang telah lahir dahulu itu, yang wafat 80 tahun setelah kematian bayi tadi, dalam usia 100 tahun ?</p>
<p>Disayangkan, persis seperti itulah bentuk yang dipaparkan para ulama penentang kami. Dan mereka tidak melihat titik kelemahan logika tersebut. Mereka tidak memperhitungkan bahwa berdasarkan keterangan mereka, usia Nabi Isa a.s. kurang lebih 600 tahun ketika  Nabi Muhammad Mushthafa saw. dilahirkan. Dalam usia 63 tahun, Rasulullah saw. telah wafat di masa hidup Nabi Isa. Dan sampai sekarang lebih 1400 tahun Isa Nabiullah itu masih tetap hidup. Cobalah katakan, ketika nanti dia turun, lalu akhirnya akan wafat setelah melaksanakan tugasnya, maka siapa yang akan dinyatakan sebagai yang terakhir dari segi waktu oleh seorang penulis sejarah yang objektif?</p>
<p>Menurut para ulama zahir, ayat Khaataman-nabiyyiin dari segi zaman/waktu tidak memberikan hak kepada siapapun sesudah Rasulullah saw. untuk menjadi yang terakhir. Lalu apa pula hak para ulama zahir itu untuk menyatakan Nabi Isa a.s. sebagai nabi terakhir dari segi waktu ? Pengingkaran terhadap hakikat tersebut sekedar dari mulut saja, tidaklah mengandung makna apapun. Sebab, mereka secara amalan mengakui Nabi Isa a.s. sebagai nabi yang paling terakhir di dunia ini ratusan tahun setelah Rasulullah saw..</p>
<p>Pendiri Jemaat Ahmadiyah telah memaparkan gambaran yang lengkap dan menarik tentang ke-khatam-an Nabi Muhammad saw.. Gambaran itu benar-benar sangat langka dan tiada duanya. Beliau telah menguraikan tafsir ayat Khaataman-nabiyyiin dari berbagai aspek di dalam buku-buku beliau, berdasarkan Al-Qur’an Suci, dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap bagiannya menarik manusia ke arah iman dan irfan.</p>
<p>Beliau telah menggunakan istilah yang luar biasa dan sangat mengesankan. Yakni, Tuhan kita adalah Tuhan Yang Hidup; Kitab kita, Al-Qur’an Majid, adalah suatu kitab yang hidup; dan Rasul kita,  Yang Mulia Khaatamun Nabiyyiin Muhammad Mushthafa saw. adalah rasul yang hidup. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh beliau di dalam umat Islam. Dan secara benar beliau telah mempersiapkan kecintaan yang hakiki terhadap Muhammad Arabi saw., dalam kaitan dengan ke-khatam-an Nabi Muhammad.</p>
<p>Ketiga permasalahan pokok ini &#8212; yakni keimanan terhadap Allah, keimanan terhadap Kitab, dan keimanan terhadap Rasul &#8212; satu sama lain saling terkait dan saling berhubungan secara mendalam sehingga satu unsur tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur lainnya. Jadi, tidaklah mungkin dengan mengenyampingkan unsur-unsur lain, akidah-akidah dan pandangan-pandangan Pendiri Jemaat Ahmadiyah tentang suatu perkara dapat disimak. Jadi, tentang Khataman Nubuwwat, mutlak bagi kita untuk memperhatikan keimanan, akidah-akidah dan pandangan-pandangan beliau tentang Allah Ta&#8217;ala serta Al-Qur’an Karim. Sebab, jika tidak, penyimakan pemahaman beliau tentang Khatamun Nubuwwat, tidak dapat diketahui secara sempurna.</p>
<p>Kini kami mulai dengan masalah Allah Ta&#8217;ala. Kami paparkan beberapa kutipan dari pendiri Jemaat Ahmadiyah, yang insya Allah sesudah itu akan terbukti sangat membantu dalam memahami masalah Khatamun Nubuwwat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=26&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kedudukan-khaataman-nabiyyiin-saw-dan-tulisan-tulisan-penuh-makrifat-dari-pendiri-jemaat-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suatu Tinjauan Terhadap Resolusi-Resolusi Parlemen Pakistan</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/suatu-tinjauan-terhadap-resolusi-resolusi-parlemen-pakistan/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/suatu-tinjauan-terhadap-resolusi-resolusi-parlemen-pakistan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Ahmadiyah Pada waktu ini untuk pembahasan khusus telah diajukan dua resolusi di hadapan segenap anggota Parlemen Nasional negara kita yang tercinta ini, Pakistan, termasuk Komite Khusus. Satu di antaranya dari pihak pemerintah, dan satu lagi dari pihak oposisi. Sebuah Pertanyaan Dasar Sebelum melakukan tinjauan rinci terhadap persoalan-persoalan yang muncul dari kedua resolusi tersebut, kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=27&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jawaban Ahmadiyah</p>
<p>Pada waktu ini untuk pembahasan khusus telah diajukan dua resolusi di hadapan segenap anggota Parlemen Nasional negara kita yang tercinta ini, Pakistan, termasuk Komite Khusus. Satu di antaranya dari pihak pemerintah, dan satu lagi dari pihak oposisi.</p>
<p>Sebuah Pertanyaan Dasar</p>
<p>Sebelum melakukan tinjauan rinci terhadap persoalan-persoalan yang muncul dari kedua resolusi tersebut, kami dengan penuh hormat menilai perlu untuk memohon, agar pertama-tama pertanyaan dasar ini ditempuh terlebih dahulu, yakni apakah di dunia ada suatu parlemen nasional yang pada substansinya memiliki otoritas untuk melakukan hal ini.</p>
<p>Pertama: merampas hak azazi seseorang memeluk suatu agama yang dia kehendaki ?</p>
<p>Kedua: atau dengan melakukan campur-tangan pada masalah-masalah agama, parlemen itu memutuskan apa agama yang dianut suatu jemaat atau golongan atau seseorang ?        </p>
<p>Hak Azazi Manusia Dan Undang-undang</p>
<p>Kami memberikan jawaban “tidak” pada kedua pertanyaan itu. Menurut kami, dengan mengabaikan pembagian-pembagian berdasarkan warna, keturunan, letak geografis, dan bangsa, ini merupakan hak azazi setiap manusia untuk memeluk suatu agama yang dia kehendaki. Dan di dunia tidak ada seorang manusia, atau organisasi, atau majelis tinggi yang dapat mencabut hak azazi tersebut darinya. Di dalam piagam PBB, di mana telah dijamin hak-hak azazi manusia, di sanapun hak setiap manusia ini telah diakui, yakni hak untuk memeluk suatu agama yang diingini.</p>
<p>(Suplemen no. 1.)</p>
<p>Demikian pula di dalam Undang-undang Dasar Pakistan, pada pasal 20 telah diakui bahwa setiap warga Pakistan memiliki hak azazi tersebut. Oleh karena itu, perkara prinsipil ini hendaknya ditempuh, yakni berdasarkan UUD Pakistan apakah Komite ini mempunyai otoritas atau tidak, untuk membahas resolusi yang diajukan itu?</p>
<p>(Dalam kaitan itu, bersama ini dilampirkan suplemen no.2 berupa sebuah terjemahan bahasa Inggris khutbah Imam Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Nasir Ahmad, yang di dalamnya aspek tersebut telah dibahas secara rinci).</p>
<p>Fitrat dan akal manusiapun tidak memberikan otoritas kepada majelis tinggi manapun untuk dapat mencabut hak tersebut dari seseorang atau dari golongan tertentu, yakni hak untuk memeluk agama yang dikehendaki. Sebab, dalam bentuk demikian, berarti kepada setiap majelis tinggi di dunia ini terpaksa harus diberikan hak tersebut. Adapun bentuk-bentuk keburukan yang timbul dengan menerapkan prinsip itu, beberapa di antaranya ditampilkan di bawah ini sebagai contoh:</p>
<p>A  :          Setiap parlemen nasional di dunia ini pada substansinya akan mempunyai hak untuk menetapkan beberapa golongan Kristen sebagai non-Kristen, atau beberapa golongan Hindu sebagai non-Hindu, dan sebagainya.</p>
<p>B  :          Setiap golongan dalam setiap agama di setiap negara, akan mempunyai hak untuk menuntut kepada parlemen nasional agar golongan-golongan tertentu ditetapkan sebagai non-Kristen, atau non-Hindu, atau non-Muslim. Dan seterusnya.<br />
C  :          Jika Jemaat Ahmadiyah secara khusus diperiksa atas dasar kekacauan-kekacauan yang terjadi pada saat ini, maka berdasarkan dalil ini sekian banyak kekacauan yang ditimbulkan oleh golongan-golongan lain di Pakistan hingga saat ini  &#8212;  atau yang diperkirakan akan dapat terjadi  &#8212;  mengenai semua itu, dari aspek tersebut, adalah mutlak dan tepat untuk dilakukan pemeriksaan juga.</p>
<p>D  :          Parlemen-parlemen nasional lainnya di dunia, juga akan memperoleh hak untuk menetapkan beberapa golongan Muslim, berdasarkan beberapa akidah mereka, sebagai non-Muslim. Misalnya, terpaksa diakui bahwa Parlemen Nasional India akan mempunyai hak untuk menetapkan golongan-golongan Muslim satu demi satu sebagai non-Muslim, berlandaskan pada fatwa-fatwa yang dikeluarkan menentang mereka, lalu memasukkan mereka ke dalam kelompok mayoritas non-Muslim di India. (Harus diingat bahwa di kebanyakan negara, umat Islam merupakan minoritas).<br />
E  :          Demikian pula pemerintah-pemerintah Kristen, dengan menggunakan hak mereka sebagai kelompok mayoritas, juga akan memiliki otoritas untuk menetapkan orang-orang Islam sebagai minoritas lalu mencabut hak-hak mereka sebagai warganegara.</p>
<p>Ingatlah, pada waktu ini orang-orang Kristen di Pakistan mulai merasakan bahwa hak-hak mereka sebagai warganegara mulai dikurangi (Lihat Press Release Joshua Afzaluddin, suplemen no.3).</p>
<p>Jelaslah, bentuk-bentuk yang tertera di atas, secara logika tidak dapat diterima, dan akan mengakibatkan terbukanya pintu kekacauan serta keburukan yang tak terhingga banyaknya di berbagai negara di dunia, termasuk Pakistan.</p>
<p>Parlemen Nasional &amp; Kemampuan Mengambil Keputusan Masalah-masalah Agama</p>
<p>Suatu parleman nasional tidak dapat diberi otoritas untuk membahas persoalan-persoalan semacam ini. Sebab, mengenai anggota-anggota parlemen nasional itu tidak dapat dijamin, apakah mereka ahli atau tidak, untuk mengambil keputusan mengenai perkara-perkara agama ?</p>
<p>Para anggota di kebanyakan parlemen nasional di dunia ini pergi membawa piagam politik kepada para pemberi suara. Dan pemilihan mereka dilakukan berdasarkan keahlian politik. Di Pakistan sendiri mayoritas anggota Parlemen Nasional telah dipilih berdasarkan piagam politik dan tidak suka terhadap fatwa para ulama. Jadi, bagaimana Parlemen Nasional seperti ini dapat memperoleh hak untuk mengambil keputusan mengenai apa agama suatu golongan ? Atau untuk mengambil keputusan mengenai suatu akidah, yakni berdasarkan akidah tertentu apakah seseorang dapat dikatakan Muslim atau tidak? Jika mayoritas suatu parlemen nasional ditetapkan memiliki otoritas untuk membuat keputusan tentang agama suatu golongan atau suatu kelompok, hanya berlandaskan pada bahwa mereka merupakan perwakilan dari kelompok mayoritas, maka pendirian itupun berdasarkan akal, fitrat, maupun agama tidak layak diterima. Berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi sendiri, di seluruh dunia, hal-hal semacam itu dinyatakan keluar dari batas-batas demokrasi. Demikian pula dari aspek sejarah agama, kelompok mayoritas di masa tertentu tidak pernah diakui memiliki hak untuk menetapkan agama seseorang. Jika prinsip ini diakui, maka – na’udzubillaah – segala keputusan tentang seluruh nabi ‘alaihimussalaam dan kelompok-kelompok mereka, yang diambil oleh pihak mayoritas di masa mereka, terpaksa harus diakui.  Jelas, itu adalah pemikiran aniaya yang langsung akan mengadu-domba para pengikut seluruh agama di dunia.</p>
<p>Bukti Jelas dari Qur’an Karim dan Sabda-sabda Nabi</p>
<p>Berdasarkan Qur’an Karim dan sabda-sabda Nabi saw., hak ini juga tidak diberikan hak kepada siapapun untuk merubah agama seseorang secara paksa. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman:</p>
<p>(Insert arabic: 3)</p>
<p>Yakni, “Dalam urusan agama tidak ada [dibenarkan] pemaksaan jenis apapun” (Al-Baqarah:256). Seandainya agama seseorang telah dirubah dengan cara memberikan siksaan jasmani, dan di dalam hati dia tetap saja memegang teguh keimanannya yang lama, seperti yang diungkapkan oleh ayat:</p>
<p>(Insert arabic: 4)</p>
<p>[Artinya:…. Kecuali orang yang telah dipaksa, sedangkan hatinya tetap tenteram dalam keimanan[1]]. Maka tetap saja cara demikian itu bertentangan dengan ajaran “Laa ikraha fiddiin.” Dan jika seorang Muslim secara paksa dinyatakan non-Muslim, atau seorang Hindu dinyatakan Muslim, sedangkan orang pertama tadi tetap menganut agama Islam dan orang kedua tetap menganut agama Hindu, maka tetap saja sikap itu bertentangan dengan “Laa ikraha fiddiin.” Ayat yang lebih lanjut mendukung hal itu adalah:</p>
<p>(Insert arabic: 5)</p>
<p> Artinya: Orang yang seperti umat Islam mengucapkan “Assalamu’alaikum” kepada kalian, kalian tidak berhak mengatakan kepadanya, “Kamu bukan Mukmin.” (An-Nisa:94).</p>
<p>Sabda yang jelas dari Rasulullah saw. adalah, barangsiapa mengikrarkan Tauhid Allah Ta’ala, adalah melampaui batas ikhtiar kalian apabila kalian menuduh orang itu hanya melakukan ikrar di mulut saja sedangkan hatinya ingkar sehingga tidak berhak disebut Muslim.  Hadits Nabi saw. yang tertera di bawah ini dengan jelas menyatakan hal itu:</p>
<p>Usamah bin Zaid r.a. meriwayatkan: &#8220;Rasulullah saw. mengutus kami ke Huruqat (tempat kabilah Juhainah). Kami datang pagi hari kepada sekawanan orang [musyrik], lalu kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshar bertemu dengan seorang laki-laki dari kelompok mereka. Ketika kami mengepungnya, ia berkata: ‘Laa ilaaha illallaahu.’ Maka laki-laki Anshar itu menahan diri, lalu saya menikam lelaki [musyrik] itu dengan tombak, sehingga saya membunuhnya. Ketika kami tiba, maka berita itu telah sampai kepada Nabi saw., lalu beliau bertanya: ‘Wahai Usamah, apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan  &#8216;Laa ilaaha illallaah ?’ Saya berkata, &#8216;Ia hanya melindungi diri.&#8217; Maka beliau saw. mengulang-ulang kalimat [pertanyaan] itu sehingga saya berangan-angan seandainya saya belum masuk Islam sebelum hari itu’”.</p>
<p>Dalam riwayat lain dikatakan: “Rasulullah saw. bersabda, ’Ketika dia telah mengikrarkan Laaa ilaaha illallaah, tetap saja engkau membunuhnya ?’ Saya berkata, &#8216;Dia mengatakan itu karena takut pada senjata.’ Beliau saw. bersabda, ‘Mengapa tidak engkau belah dan periksa hatinya, apakah dia katakan itu dari hatinya atau tidak ?’ Beliau saw. mengulang-ulangi kalimat itu sehingga saya berangan-angan seandainya saya masuk Islam pada hari ini.”</p>
<p>(Lihat: Shahih Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab ba’tsi an- Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam Usamata ibna Zaid ila al-huruqaat min juhainah, h. 612).</p>
<p>Suatu Kritikan Dasar Dari Sudut Pandang Islam Terhadap Resolusi</p>
<p>Dalam kaitan ini, adalah sangat penting untuk disampaikan dengan sangat hormat, bahwa yang telah dikemukakan di hadapan Parlemen Nasional, atasnya berlaku sebuah kritikan sangat penting dan mendasar dari sudut-pandang Islam. Berlandaskan itu adalah penting untuk mengambil sikap mengenai pernyataan ini sebelum menyimak resolusi tersebut.</p>
<p>Yakni, Junjungan kita, Yang Mulia Khaatamul Anbiyaa Muhammad Mushthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menubuatkan: </p>
<p> Yakni: Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan.</p>
<p>Muhammad bin Abdul Wahab, yang menurut akidah mayoritas umat Islam di Hijaz dan menurut Yang Mulia Raja Faisal merupakan mujaddid abad ke-12, mengenai hadits tersebut di atas menyatakan:</p>
<p>Yakni, masalah masuknya 72 golongan dari 73 golongan tersebut ke dalam neraka dan satu golongan ke dalam surga, adalah suatu masalah penting. Barangsiapa memahaminya demikian berarti dia adalah faqih. Dan barangsiapa mengamalkannya, yakni secara amalan menyatakan 72 golongan itu masuk neraka dan satu golongan masuk surga, berarti dia itu Muslim. (Mukhtasar Sirat Rasul Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, Imam Muhammad bin Abdul Wahab, h. 13,14, cetakan Kairo).</p>
<p>Media terkenal dari Jemaat Islami, Tarjumaan Al-Qur&#8217;an, Januari 1945 menuliskan:</p>
<p>                &#8220;Di dalam Islam, sepakatnya suatu kelompok mayoritas mengenai suatu persoalan, merupakan dalil kebenarannya. Tidak pula berarti mayoritas itu sebagai suatu kelompok yang dominan. Dan tidak pula suatu kelompok dalam jumlah besar dapat disebut jemaah. Dan tidak pula sikap menerapkan suatu pendapat dari suatu kelompok di kalangan para maulwi/ulama di suatu tempat merupakan ijma’…. Makna ini didukung oleh Hadits Nabawi saw. yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar r.a.:</p>
<p> Yakni, ’Bani Israil telah terpecah dalam 72 golongan, sedangkan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Kesemuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan’. Orang-orang bertanya, ‘Siapa mereka itu wahai Rasulullah ?’ Beliau bersabda, &#8216;Mereka yang berada di atas jalan/tata-cara-ku dan para sahabatku.’</p>
<p>                Kelompok ini bukan mayoritas, dan tidak pula mereka menyatakan banyaknya jumlah mereka itu sebagai dalil kebenaran mereka. Melainkan, mereka merupakan satu dari 73 golongan dalam umat ini. Dan di dalam dunia yang penuh ini kedudukan mereka seperti kelompok asing dan seperti orang-orang dari pihak lain.  Sebagaimana dikatakan:</p>
<p> …. Jadi, suatu kelompok yang hanya berlandaskan pada jumlah mereka yang besar itu menyatakan diri mereka sebagai jama’ah yang di dalamnya terdapat tangan Allah…bagi mereka tidak ada secercah pancaran harapanpun di dalam hadits ini. Sebab, di dalam hadits ini ada dua tanda jama’ah yang telah diuraikan secara jelas. Yang pertama, mereka berada di atas jalan/tata-cara Rasulullah saw. dan para sahabah beliau. Kedua, mereka sangat sedikit (minoritas).&#8221;</p>
<p>(Tarjumaan Al-Qur’an, Januari, Februari 1945, h.175, 176, disusun oleh Abul A&#8217;laa Maududi).</p>
<p> Sama-sekali bertentangan dengan sabda Rasulullah saw. yang tertera di atas, justru resolusi yang telah diajukan oleh para ulama di pihak oposisi, menyatakan bahwa 72 golongan dalam umat Islam adalah ahli-surga, dan hanya satu yang masuk neraka. Resolusi itu secara jelas bertentangan dengan hadits suci Yang Mulia Khaatamul Anbiyaa saw., serta merupakan kelancangan yang nyata terhadap beliau saw..</p>
<p>Oleh karena itu, dalam bentuk demikian, melakukan penelaahan bahkan memaparkan resolusi ini, sama-sekali tidak patut bagi Parlemen Nasional Pakistan yang terhormat.  Namun, jika resolusi ini dipaparkan dalam warna bahwa sesuai Hadits Nabawi saw. [resolusi ini] menetapkan satu golongan yang selamat, yakni golongan yang di dalam dunia sesak ini akan dianggap sebagai pihak asing dan minoritas, maka berbuat demikian adalah sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Nabi saw..</p>
<p>Permohonan Agar Tuntutan-tuntutan Kebenaran Dipenuhi</p>
<p> Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, kami dengan hormat tetapi sangat tegas memohon supaya Parlemen Nasional Pakistan tidak melakukan penelaahan dan tidak mengambil keputusan terhadap permasalahan-permasalahan yang mengenainya bila diambil keputusan dan dilakukan penelaahan, berarti menentang hak-hak azazi manusia. Bertentangan dengan piagam PBB dan UUD Pakistan. Dan yang paling hebat lagi adalah bertentangan dengan ajaran Qur’an Karim serta sabda-sabda Nabi saw.. Dan hal itu dapat terbukti menjadi suatu batu pijakan yang mengundang banyak sekali keburukan serta kekacauan. Lebih lanjut, contoh yang telah ditegakkan oleh Parlemen Nasional Pakistan dapat mengakibatkan kesulitan-kesulitan besar bagi agama-agama minoritas maupun golongan-golongan minoritas yang hidup di negara-negara lain. Ringkasnya, jika Parlemen Nasional Pakistan dengan mengabaikan permohonan-permohonan di atas lalu menganggap dirinya memiliki otoritas untuk menetapkan suatu golongan yang menyatakan diri mereka Islam sebagai suatu golongan di luar Islam berlandaskan pada akidah tertentu atau berlandaskan pada berbagai uraian ayat tertentu dari Qur’an Karim, maka kami mengusulkan supaya dalam bentuk demikian semampu mungkin bersikap hati-hati, dan sejauh mungkin memenuhi tuntutan-tuntutan logika serta keadilan. Dan sama-sekali janganlah tangani masalah ini sedemikian rupa sehingga pada pandangan pihak-pihak lain di dunia ini yang tidak sependapat, persoalan itu menjadi bahan tertawaan serta dapat mengakibatkan jatuhnya martabat bangsa.</p>
<p> Pemimpin Bangsa, yang terhormat Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto juga telah berjanji dalam pidato beliau yang disiarkan tanggal 13 Mei, supaya persoalan ini diselesaikan dengan baik serta sesuai tuntutan-tuntutan keadilan. Berdasarkan janji teguh Pemimpin Bangsa ini maka tanggung-jawab Parlemen Nasional menjadi dua kali lipat, yakni ketika menyimak permasalahan ini jangan sampai tuntutan-tuntutan keadilan dan logika diabaikan.</p>
<p>[1] An-Nahl:106</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=27&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/suatu-tinjauan-terhadap-resolusi-resolusi-parlemen-pakistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Irfan Ilahi Dalam Ungkapan-ungkapan Pendiri Jemaat Ahmadiyah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/irfan-ilahi-dalam-ungkapan-ungkapan-pendiri-jemaat-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/irfan-ilahi-dalam-ungkapan-ungkapan-pendiri-jemaat-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Pendiri Jemaat Ahmadiyah di dalam buku beliau, Surmah Chasyam Ariyah menyatakan: “Di berbagai tempat dalam Alquran Suci, melalui isyarah-isyarah maupun penjelasan-penjelasan rinci, telah diuraikan bahwa Rasulullah s.a.w. merupakan manifestasi sempurna Ilahiyah. Kalaam beliau merupakan Kalaam Allah; kehadiran beliau merupakan penzahiran Allah; dan kedatangan beliau merupakan kedatangan Allah.” (Surmah Chasyam Ariyah) “Jadi, dikarenakan sejak qadim/awal dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=23&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendiri Jemaat Ahmadiyah di dalam buku beliau, Surmah Chasyam Ariyah menyatakan:</p>
<p> “Di berbagai tempat dalam Alquran Suci, melalui isyarah-isyarah maupun penjelasan-penjelasan rinci, telah diuraikan bahwa Rasulullah s.a.w. merupakan manifestasi sempurna Ilahiyah. Kalaam beliau merupakan Kalaam Allah; kehadiran beliau merupakan penzahiran Allah; dan kedatangan beliau merupakan kedatangan Allah.” (Surmah Chasyam Ariyah)</p>
<p> “Jadi, dikarenakan sejak qadim/awal dan semenjak dunia diciptakan, pengenalan terhadap Allah berkait erat dengan pengenalan terhadap nabi, oleh sebab itu dengan sendirinya tidaklah mungkin dapat meraih Tauhid tanpa perantaraan nabi. Nabi merupakan cermin untuk menyaksikan rupa Allah. Melalui cermin itulah wajah Allah kelihatan. Ketika Allah Ta&#8217;ala ingin menzahirkan diri-Nya di dunia, maka Dia mengutus nabi, yang merupakan manifestasi qudrat-qudrat-Nya, ke dunia. Dia menurunkan wahyu-Nya kepada nabi itu. Dan Dia memperlihatkan kekuatan-kekuatan Rabbubiyyat-Nya melalui nabi tersebut. Barulah dunia mengetahui bahwa Allah itu ada.</p>
<p>Jadi, wujud orang-orang yang secara mutlak &#8212; berdasarkan ketentuan permanen dari Allah &#8212; telah ditetapkan sebagai sarana untuk mengenali Allah, mengimani mereka merupakan suatu bagian Tauhid. Tanpa keimanan itu, Tauhid yang sempurna tidak dapat [dicapai]. Sebab, Tauhid murni yang timbul dari mata air keyakinan kamil, yang diperlihatkan nabi melalui Tanda-tanda Samawi dan penampakan-penampakan keajaiban qudrat, dan yang mengantarkan sampai kepada ma’rifat, tidaklah mungkin dapat diperoleh. Itulah suatu golongan yang menampakkan Allah. Melalui mereka, wujud Allah yang sangat halus, sangat terselubung, dan sangat ghaib, menjadi zahir. Dan selamanya Khazanah Terselubung yang bernama Allah ini, telah dikenali melalui para nabi. Jika tidak, Tauhid yang di sisi Allah dinamakan Tauhid itu, yang tampil secara sempurna dalam bentuk nyata, tidak dapat diraih tanpa melalui perantaraan nabi. Sebagaimana bertentangan dengan akal, demikian pula bertentangan dengan pengalaman-pengalaman para salikin .” (Haqiqatul Wahy, h.112-113).</p>
<p> ***</p>
<p> “Saudara-saudara warga Kristen hendaknya betul-betul ingat, bahwa contoh kiamat Almasih a.s. sama sekali tidak terbukti. Bukannya orang-orang Kristen bangkit hidup, justru mereka mati dan terbenam di dalam kubur-kubur yang sempit dan gelap, paling rendah dari sekalian orang mati. Dan mereka jatuh ke dalam jurang kemusyrikan. Di dalam diri mereka tidak terdapat ruh keimanan dan tidak pula keberkatan ruh iman. Bahkan Tauhid yang paling rendah derajatnya sekalipun &#8212; yakni menjauhi penyembahan makhluk &#8212; itu juga tidak mereka peroleh. Seorang insan seperti mereka, yang lemah dan tidak kuasa, mereka sembah-sembah sembari menganggapnya sebagai khaaliq/tuhan.</p>
<p>Hendaknya diingat, Tauhid itu memiliki 3 derajat. Derajat yang paling rendah adalah, jangan menyembah sesama makhluk. [Yakni], batu, api, manusia, maupun bintang tertentu. Derajat kedua adalah, jangan pula tergelincir pada sarana-sarana, seakan-akan memberikan hak campur-tangan yang permanen kepada sarana-sarana itu dalam tata-kerja Allah. Melainkan, selalulah tumpukan pandangan pada Sumber Sarana-sarana itu, jangan pada sarana-sarana tersebut. Derajat Tauhid yang ketiga adalah, menyaksikan secara sempurna manifestasi-manifestasi Ilahiah, lalu menganggap segala sesuatu selain Allah tidak ada sama sekali, termasuk diri sendiri. Ringkasnya, segala sesuatu tampak tidak abadi, kecuali Dzat Allah Ta&#8217;ala yang memiliki sifat-sifat kamil.<br />
 Inilah kehidupan rohani yang dicapai pada ketiga derajat Tauhid. Sekarang perhatikanlah dengan seksama bahwa seluruh mata air abadi kehidupan rohani, telah tampil di dunia hanya melalui berkat Yang Mulia Muhammad Mushthafa s.a.w..” (Ainah Kamalaat-e-Islam, h.223-224)</p>
<p> ***</p>
<p> “Setelah sempurnanya raga rohani, api kecintaan Dzati Ilahi akan muncul di dalam kalbu manusia bagai suatu ruh. Dan kepadanya dianugerahkan kondisi kebersamaan yang abadi. Ia mencapai kesempurnaannya, barulah keindahan rohani memperlihatkan penampakkannya secara sempurna. Namun, keindahan yang merupakan keindahan rohani ini, yang dapat dinamakan keindahan dalam bersikap, adalah suatu keindahan yang dengan daya tariknya jauh lebih hebat daripada keindahan wajah. Sebab, keindahan wajah hanya membuat jatuh cinta satu atau dua orang saja, yang dengan cepat akan pudar, dan daya tariknya sangat lemah. Namun, keindahan rohani, yang telah dinamakan sebagai keindahan dalam bersikap, dalam daya tariknya begitu kuat dan hebat sehingga dapat menarik satu dunia ke arahnya. Seluruh partikel bumi dan langit ditarik ke arahnya.</p>
<p>Pada hakikatnya ini jugalah yang merupakan falsafah pangabulan doa. Yakni, seorang insan pemilik keindahan rohani seperti itu &#8212; yang di dalam dirinya ruh kecintaan Ilahi telah merasuk &#8212; ketika memanjatkan doa untuk suatu hal yang tidak mungkin dan sangat sulit, serta dia dengan gencar memanjatkan doa itu, maka dikarenakan dia memiliki keindahan rohani dalam dirinya, oleh sebab itu atas perintah dan izin Allah Ta&#8217;ala setiap zarah alam ini ditarik ke arahnya. Jadi, terkumpullah sarana-sarana yang cukup untuk keberhasilannya.</p>
<p>Dari pengalaman dan dari Kitab Suci Allah Ta&#8217;ala terbukti bahwa setiap zarah dunia ini secara alami memiliki kecintaan terhadap orang seperti itu. Doa-doanya menarik seluruh zarah tersebut ke arah dirinya, seperti magnet yang menarik besi ke arahnya. Jadi, hal-hal luar biasa yang tidak disinggung dalam ilmu alam dan falsafah manapun, akan tampil sebagai faktor-faktor daya tarik tersebut. Dan daya tarik itu adalah alami. Semenjak Sang Pencipta menyusun alam ragawi dengan zarah-zarah, daya tarik itupun telah Dia tanamkan dalam setiap zarah. Dan setiap zarah merupakan pecinta sejati keindahan rohani. Seperti itu pula halnya setiap ruh yang baik, sebab ia merupakan wadah hakiki manifestasi keindahan. Itulah keindahan yang baginya difirmankan: ‘Usjuduu li aadama fa sajaduu illaa ibliis’ (Al-Baqarah:34). Dan sekarangpun banyak sekali iblis yang tidak mengenali keindahan tersebut. Namun, keindahan itu senantiasa saja menampakkan pekerjaan-pekerjaan yang besar.</p>
<p>Keindahan itu jugalah yang terdapat dalam diri Nuh a.s., yang untuknya Allah Ta&#8217;ala telah setuju, dan segenap pengingkar telah dihancurkan melalui azab banjir. Sesudah itu, Musa a.s. juga datang membawa keindahan rohani tersebut. Beliau menanggung penderitaan beberapa masa, lalu akhirnya menenggelamkan pasukan Fir’aun. Kemudian, sesudah semua itu, Sayyidul Anbiyaa wa Khairul Wara Maulana wa Sayyidina Yang Mulia Muhammad Mushthafa s.a.w., datang membawa suatu keindahan rohani yang sangat agung. Ayat suci ini cukup untuk menggambarkannya: ‘Danaa fa tadallaa, fa kaana qaaba qausaini au adnaa’ (An-Najm:8-9). Yakni, Nabi itu telah pergi sangat dekat kepada Allah Ta&#8217;ala, dan kemudian menunduk ke arah makhluk. Dengan demikian beliau telah memenuhi kedua hak, yakni hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Dan beliau telah memperlihatkan kedua macam keindahan rohani.” (Dhamimah Barahiin Ahmadiyyah, jilid V, h.61-62).</p>
<p>***</p>
<p>“Berkedudukan sebagai ‘Aalimulghaib berdasarkan kekuasaan pribadi dan sifat-sifat pribadi, merupakan keistimewaan yang hanya dimiliki Dzat Allah Ta&#8217;ala. Dari awal, orang-orang yang benar selalu menganut akidah mengenai ilmu ghaib Sang Wajibul Wujud sebagai suatu kemutlakan dalam Dzat-Nya. Sedangkan bagi segenap wujud lain-Nya, hal itu bukan merupakan unsur yang ada di dalam zat mereka. Dan memberlakukan segenap kemungkinan terhadap Sang Wajibul Wujud itu merupakan akidah yang menjunjung tinggi kemuliaan-Nya. Yakni, akidah bahwa bagi Dzat Allah Ta&#8217;ala, berkedudukan sebagai ‘Aalimulghaib adalah mutlak. Dan keistimewaan pribadi Dzat-Nya yang hakiki adalah ‘Aalimulghaib. Namun, wujud-wujud lain-Nya yang merupakan unsur hampa dan memiliki hakikat yang kosong, tidak dapat menyatu dalam sifat tersebut maupun dalam sifat-sifat lain yang dimiliki Allah Ta&#8217;ala. Sebagaimana dari segi Dzat tidak ada yang dapat menyamai Allah Ta&#8217;ala, demikian pula tidak ada yang menyamai-Nya dari segi sifat.</p>
<p>Jadi, bagi wujud-wujud lain-Nya, di dalam diri mereka tidak terdapat sifat ‘Aalimulghaib. Tidak peduli apakah itu nabi, muhaddats, ataupun wali. Ya, mengetahui rahasia-rahasia ghaib melalui ilham Ilahi, selamanya diperoleh  orang-orang yang istimewa dan suci. Dan sekarangpun masih tetap diperoleh, yaitu hal-hal yang kita terima dengan cara mengikuti Rasulullah s.a.w. semata.” (Tashdiqun-Nabi, h.26-27)</p>
<p> ***</p>
<p>“Kekuatan-kekuatan-Nya tidak terbatas. Pekerjaan-pekerjaan-Nya yang luar biasa, tidak pernah habis. Dan Dia juga merubah hukum-hukum-Nya sendiri bagi hamba-hamba-Nya yang istimewa. Namun, perubahan itupun memang sudah termasuk di dalam hukum-hukum-Nya. Tatkala seseorang hadir di singgasana-Nya membawa suatu ruh baru, dan dia menciptakan suatu perubahan istimewa dalam dirinya semata-mata untuk meraih keridhaan Allah, maka Allahpun menciptakan suatu perubahan bagi dirinya. Yakni, seolah-olah Tuhan yang zahir pada diri hamba tersebut merupakan suatu Tuhan lain, bukan Tuhan yang dikenal oleh orang-orang umum.</p>
<p>Di hadapan seorang yang imannya lemah, Dia zahir seperti sesuatu yang lemah. Namun, seseorang yang datang ke arah-Nya dengan suatu keimanan yang sangat kuat, Dia memperlihatkan pada orang itu bahwa, ‘Aku pun sangat kuat untuk menolong engkau.’ Beriringan dengan perubahan-perubahan manusia, sifat-sifat-Nya juga mengalami perubahan. Seseorang yang  kondisi imannya tidak memiliki kekuatan sedikitpun bagai mayat, Allah juga urung memberi dukungan dan bantuan kepada orang itu, lalu berdiam diri sedemikian rupa seolah-olah &#8212; na&#8217;udzubillaah &#8212; Dia telah mati.</p>
<p>Namun, seluruh perubahan ini Dia lakukan di dalam hukum-hukum-Nya sesuai kekudusan-Nya. Dikarenakan tidak ada orang yang dapat membatasi hukum-hukum-Nya, oleh sebab itu secara terburu-buru, tanpa suatu dalil qoth’i yang terang dan jelas, melontarkan kritikan bahwa suatu perkara tertentu bertentangan dengan hukum qudrat, adalah kebodohan nyata. Sebab, sesuatu yang belum dapat dijangkau batasannya dan tidak pula ada suatu dalil qoth’i yang menentangnya, siapa pula yang mampu memberikan tanggapan tentang itu ?” (Chasymah Ma’rifat, h.96-97)</p>
<p> “Wahai orang-orang yang mendengar, dengarkanlah! Tuhan menghendaki apa dari kamu ? Hanya ini, yaitu jadilah kamu kepunyaan-Nya. Janganlah kamu mempersekutukan Dia dengan siapapun, tidak di langit dan tidak pula di bumi. Tuhan kita adalah Tuhan yang sekarangpun masih hidup seperti dahulu Dia hidup. Sekarangpun masih berkata-kata seperti dahulu Dia selalu berkata-kata. Sekarangpun masih mendengar seperti dahulu Dia selalu mendengar. Kelirulah pendapat yang mengatakan bahwa di zaman ini Dia hanya dapat mendengar, tetapi tidak bisa berkata-kata. Melainkan, Dia tetap mendengar dan tetap pula berkata-kata. Semua sifat-Nya adalah azali abadi  Tiada suatu sifatpun yang berhenti atau tidak bekerja lagi, tidak sekarang dan tidak di masa mendatang. Dia Esa, Tunggal, tidak ada sekutu-Nya. Tidak beranak dan tidak pula beristri. Dia tidak bermisal, yaitu tidak ada dua-Nya. Tidak ada suatupun bersifat istimewa seperti Dia. Tidak ada yang menyerupai-Nya. Tidak ada kekuatan-Nya yang berkurang. Dia dekat meskipun jauh, dan Dia jauh meskipun dekat. Dia bisa menampakkan diri-Nya kepada ahli kasyaf (orang yang memperoleh kasyaf -peny.) dengan jalan tamats-tsul . Tetapi Dia tidak bertubuh dan tidak berupa. Dia paling atas, tetapi tidak juga dapat dikatakan bahwa ada pula sesuatu di bawah-Nya. Dia ada di ‘Arasy, tetapi tidak dapat dikatakan tidak ada di bumi. Dia adalah himpunan semua sifat kesempurnaan; tempat zahir semua pujian yang sebenarnya; sumber semua kebaikan; yang meliputi semua kekuatan; tempat terbit semua kurnia; tempat kembali segala sesuatu; yang memiliki semua kerajaan; bersifat semua keindahan; suci dari setiap aib dan kelemahan. Dia dikhususkan untuk disembah oleh segala penduduk bumi dan segala pengisi langit.</p>
<p>Tidak ada suatupun yang mustahil di hadapan-Nya. Semua ruh dengan segala kekuatannya dan segala zarah bersama potensi-potensinya, adalah ciptaan-Nya. Tanpa Dia, satu bendapun tidak dapat timbul. Dia menyatakan diri-Nya melalui kekuatan-kekuatan, kudrat-kudrat dan tanda-tanda-Nya. Kita dapat memperoleh-Nya dengan perantaraan Dia sendiri. Dia senantiasa menampakkan wujud-Nya kepada orang yang benar, dan memperlihatkan kudrat-kudrat-Nya kepada mereka. Dengan perantaraan itulah Dia dapat dikenal, dan dengan perantaraan-Nya juga jalan yang disukai-Nya dapat diketahui.<br />
Dia melihat tidak dengan mata jasmani dan Dia mendengar tidak dengan telinga jasmani. Dia berkata-kata tidak dengan lidah jasmani. Begitu pula mengadakan yang &#8216;tiada&#8217; kepada &#8216;ada&#8217; adalah pekerjaan-Nya. Seperti kamu lihat pemandangan dalam mimpi, tanpa suatu bahan dijadikan-Nya sebuah alam, dan tiap yang fana dan tidak berwujud itu dapat diwujudkan-Nya. Ringkasnya, begitulah semua kudrat-Nya. Amat bodohlah orang yang tidak percaya kepada kudrat-Nya, dan butalah orang yang tidak tahu tentang kekuatan-kekuatan-Nya yang amat dalam itu. Dia dapat mengerjakan apa saja asal tidak bertentangan dengan kemuliaan-Nya atau yang berlawanan dengan janji-Nya. Dia Tunggal dalam dzat-Nya, dalam sifat-Nya, dalam perbuatan-Nya dan dalam kudrat-Nya. Untuk sampai kepada-Nya semua pintu tertutup, kecuali sebuah pintu yang telah dibukakan oleh Quran Majid.&#8221; (Al-Washiyyat, h.14-17)</p>
<p>***</p>
<p>“Di dalam Alquran Suci terdapat ajaran-ajaran yang berusaha untuk membuat Allah menjadi tercinta. Di beberapa tempat menampilkan keindahan dan kemolekan-Nya. Dan di beberapa tempat mengingatkan kebaikan-kebaikan-Nya. Sebab, kecintaan terhadap seseorang tertanam  dalam kalbu adalah melalui keindahan, dan atau melalui kebaikan. Demikianlah tertulis bahwa Allah adalah Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dalam segenap keindahan-Nya. Di dalam-Nya tidak terdapat suatu cacat apapun. Dia adalah himpunan segenap sifat kamil. Dia adalah manifestasi seluruh kekuatan suci. Dia adalah sumber seluruh makhluk. Dia adalah mata air seluruh karunia. Dia adalah pemilik segala ganjaran dan hukuman. Dia adalah tempat bertumpu segenap perkara. Dia dekat, walaupun jauh. Dan dia jauh, walaupun dekat. Dia paling tinggi, tetapi tidak dapat dikatakan bahwa di bawah-Nya ada sesuatu yang lain. Dia paling terselubung dari segenap benda, tetapi tidak dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang lebih nyata dari-Nya. Dia hidup pada Dzat-Nya, dan bersama-Nya hidup setiap benda. Dia berdiri tegak pada Dzat-Nya, dan bersama-Nya segala benda berdiri tegak. Dia menopang setiap benda,  dan tiada suatu bendapun yang menopang-Nya. Tidak ada suatu benda yang tanpa-Nya telah tercipta sendiri, atau tanpa-Nya dapat hidup sendiri. Dia menjangkau seluruh benda, tetapi tidak dapat dikatakan bagaimana batasan-Nya. Dia merupakan nur bagi segala sesuatu di langit dan di bumi. Dan setiap nur bersinar dari tangan-Nya, serta merupakan refleksi Dzat-Nya. Dia adalah Rabb seluruh alam. Tidak ada suatu ruh yang tidak memperoleh pemeliharaan dari-Nya dan timbul sendiri. Tidak ada sesuatu kekuatan pada suatu ruh, yang bukan berasal dari-Nya dan timbul dengan sendiri.</p>
<p>Rahmat-rahmat-Nya terdiri dari dua jenis. (1) Pertama, yang sudah ada sejak awal, tanpa didahului amal perbuatan seseorang pelaku. Misalnya bumi, langit, matahari, bulan, dan bintang-bintang, air, api, udara, dan segenap partikel alam ini, yang telah diciptakan untuk kesejahteraan kita. Begitu pula benda-benda yang kita butuhkan, telah disediakan untuk kita sebelum kelahiran kita. Dan kesemuanya ini telah dilakukan ketika kita belum ada. Saat itu tidak pula ada suatu amal perbuatan kita. Siapa yang dapat mengatakan bahwa, &#8216;Matahari telah diciptakan karena amal perbuatan saya.&#8217; Atau, &#8216;Bumi telah diciptakan akibat suatu kebaikan saya.&#8217; Ringkasnya, inilah rahmat yang telah tampil sebelum adanya manusia dan amal-amal perbuatannya, yang bukan merupakan hasil perbuatan seseorang.  (2) Kedua adalah, rahmat yang bergantung pada amal perbuatan. Dan hal ini tidak perlu dirinci lagi.</p>
<p>Demikian pula di dalam Alquran Suci tertera bahwa Dzat Allah suci dari segala aib, serta terlepas dari segala cacat. Dan Dia menghendaki supaya manusiapun suci dari aib-aib dengan cara mengikuti ajaran-Nya. Dan Dia berfirman, ‘Man kaana fii haadzihi a’maa fa hua fil aakhirati a’maa.’ Yakni, seseorang yang buta di dunia ini dan tidak menyaksikan Dzat yang tiada bandingan-Nya itu, maka setelah matipun dia akan tetap buta. Kegelapan tidak akan berpisah darinya. Sebab, untuk menyaksikan Allah, di dunia ini juga diperoleh indera-indera. Dan seseorang yang tidak membawa indera-indera tersebut dari dunia ini, di akhiratpun dia tidak akan dapat menyaksikan Allah. Di dalam ayat ini dengan jelas Allah telah mengungkapkan, kemajuan apa yang diinginkan-Nya bagi manusia dan sampai kemana manusia dapat mencapai, setelah mengikuti ajaran-Nya.</p>
<p>Kemudian, di dalam Alquran Suci Dia memaparkan ajaran berikut ini, yang melaluinya dan dengan cara mengamalkannya, Allah dapat disaksikan di dunia ini juga. Sebagaimana Dia berfirman: ‘Man kaana yarjuu liqaa-a rabbihii fal ya’mal ‘amalan shaalihaw wa laa yusyrik bi ‘ibaadati rabbihii ahadaa’ (Al-Kahfi:110). Yakni, seseorang yang ingin menyaksikan Allah di dunia ini juga &#8212; yang merupakan Tuhan hakiki dan pencipta &#8212; maka hendaknya dia melakukan amal perbuatan baik yang tidak mengandung keburukan jenis apapun. Yakni, amal perbuatan yang bukan untuk dipamerkan kepada orang-orang lain, dan tidak menimbulkan ketakaburan di dalam hati bahwa, ‘Aku begini, dan aku begini.’ Bukan pula amal perbuatan yang pincang dan tidak sempurna. Di dalamnya tidak terdapat bau busuk yang bertentangan dengan kecintaan terhadap Dzat [Allah]. Melainkan, dipenuhi oleh kejujuran dan kesetiaan. Dan orang itupun hendaknya menghindari segala macam kemusyrikan. Tidak menjadikan matahari, bulan, bintang-bintang di langit, angin, api, air, maupun suatu benda bumi lainnya sebagai sesuatu yang disembah. Tidak memberikan kehormatan sedemikian rupa terhadap sarana-sarana dunia serta tidak bertumpu kepadanya seolah-olah sarana-sarana itu merupakan sekutu Allah. Dan tidak pula menganggap kemampuan serta upayanya sebagai sesuatu yang berarti, sebab itupun merupakan sejenis kemusyrikan. Melainkan, setelah melakukan segala sesuatu, dia beranggapan bahwa dia tidak melakukan suatu apapun. Tidak pula dia berlaku sombong atas ilmunya dan tidak angkuh atas amal perbuatannya. Melainkan, dia menganggap dirinya sungguh tidak tahu apa-apa dan tidak melakukan upaya apapun. Dan ruhnya setiap saat menjatuhkan diri di hadapan singgasana Allah Ta&#8217;ala. Melalui doa-doa dia menarik karunia Allah ke arahnya. Dia bagaikan seseorang yang sangat dahaga, tidak memiliki tangan serta kaki, sedangkan di hadapannya muncul sebuah mata air yang sangat jernih dan bening. Jadi, dengan jatuh bangun dia menyeretkan dirinya sampai ke mata air itu. Dan dia menyentuhkan bibirnya ke mata air tersebut, serta tidak berhenti sebelum puas.</p>
<p>Kemudian Tuhan kita berfirman di dalam Alquran tentang keindahan-keindahan-Nya: ‘Qul huwallaahu ahad. Allaahush shamad. Lam yalid wa lam yuulad. Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad’ (Al-Ikhlaash: 1-4). Yakni, Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa dalam Dzat maupun sifat-sifat-Nya. Tiada suatu dzat yang azali dan abadi seperti Dzat-Nya, yakni, kekal dan selamanya. Tidak pula sifat-sifat suatu benda, menyerupai sifat-sifat-Nya. Ilmu manusia membutuhkan seorang mu’allim (pengajar), dan terbatas. Namun, ilmu-Nya tidak membutuhkan suatu mu’allim, dan sama sekali tidak terbatas. Pendengaran manusia membutuhkan udara, serta terbatas. Namun, pendengaran Allah bertumpukan pada kekuatan pribadi-Nya, serta tidak terbatas. Penglihatan manusia membutuhkan matahari atau cahaya lainnya, dan terbatas. Namun, penglihatan Allah bertumpu pada cahaya pribadi-Nya, serta tidak terbatas. Demikian pula kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu, membutuhkan suatu bahan dasar. Kemudian membutuhkan waktu, dan terbatas. Namun, kemampuan Allah untuk menciptakan, tidak membutuhkan suatu bahan apapun. Tidak membutuhkan waktu, dan tidak pula terbatas. Sebab, seluruh sifat-Nya tidak ada tandingan dan bandinganya. Sebagaimana tidak ada yang menyerupai [Dzat]-Nya, sifat-sifat-Nya juga tidak ada yang menyerupai. Jika di dalam satu sifat terdapat kelemahan, maka di seluruh sifat-Nya akan timbul kelemahan. Oleh sebab itu ketauhidan-Nya tidak dapat berdiri tegak selama ada bandingan dan tandingannya dalam seluruh sifat-Nya, sebagaimana dalam Dzat-Nya.</p>
<p>Selanjutnya makna ayat tersebut di atas adalah, Allah bukanlah anak seseorang dan tidak pula ada anak-Nya. Sebab, Dia berkecukupan pada Dzat-Nya. Dia tidak membutuhkan bapak, dan tidak pula anak. Inilah Tauhid yang telah diajarkan Alquran Suci, yang merupakan landasan iman.” (Lekcher Lahore, h.9-13)</p>
<p>“Ruh kita dan setiap zarah wujud kita bersujud kepada Allah Yang Maha Kuasa, Maha Benar, dan Maha Sempurna itu. Melalui tangan-Nya lah setiap ruh dan setiap zarah makhluk-makhluk beserta segenap kekuatannya, telah lahir. Karena dengan Wujud-Nya setiap wujud dapat berdiri. Tidak ada suatu benda pun yang berada di luar pengetahuan-Nya; di luar jangkauan kekuasaan-Nya, maupun di luar penciptaan-Nya.</p>
<p>Dan ribuan shalawat serta salam dan rahmat serta berkat turun pada Nabi Suci Muhammad Mushthafa s.a.w., yang melalui perantaraan beliaulah kita telah menemukan Tuhan yang hidup itu, yang Dia sendiri berkata-kata membuktikan keberadaan Wujud-Nya. Dia memperlihatkan Tanda-tanda yang luar biasa, memperlihatkan kepada kita Wajah berkilauan yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan dan tenaga yang kamil itu. Jadi, kita telah menemukan Rasul yang memperlihatkan Tuhan itu kepada kita. Dan kita menemukan Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu dengan kekuatan-Nya yang kamil. Kekuasaan-Nya mengandung keagungan hebat, yang tanpa itu benda apapun tidak akan terwujud, dan yang tanpa pertolongan-Nya tidak ada suatu bendapun dapat bertahan. Tuhan hakiki kita itu adalah Tuhan yang memiliki berkat-berkat tak terhingga; memiliki kekuasaan-kekuasaan yang tak terhitung; memiliki keindahan-keindahan yang tak terhingga; dan Yang Maha Pengasih. Selain Dia, tidak ada Tuhan lagi.” (Nasim Da’wat, h.3)</p>
<p> ***</p>
<p>&#8220;Ketika saya melihat benda-benda langit yang besar ini, memperhatikan keagungan dan keajaiban-keajaiban-Nya, dan menyaksikan bahwa segala sesuatunya itu telah tercipta hanya atas kehendak Ilahi dan isyarah-Nya, maka ruh saya, tanpa terkendali lagi, bangkit mengatakan, &#8216;Wahai Tuhan kami yang Maha Kuasa! Betapa agungnya kekuasaan-kekuasaan Engkau. Pekerjaan-pekerjaan-Mu sangat menakjubkan dan jauh di atas jangkauan akal. Bodohlah orang yang mengingkari kekuasaan-kekuasaan Engkau. Dan tolollah orang yang mengajukan kritikan mengenai Engkau, bahwa dari bahan apa pula Engkau telah menciptakan benda-benda ini?&#8217;&#8221; (Nasim Da’wat, h.60, catatan kaki).</p>
<p>“Kemudian hendaklah diketahui bahwa Al-Qur’an Suci menghimbau kita ke arah Tuhan yang, sifat-sifat-Nya telah ia terangkan sebagai berikut:</p>
<p>Yakni, Dia itulah Tuhan Yang Esa, dan tiada sekutu bagi  Nya, tidak ada yang patut disembah dan ditaati kecuali Dia (al-Hasyr:22). Hal itu dikatakan karena seandainya Dia bukan sesuatu yang tanpa sekutu, mungkin saja kekuatan-Nya dapat ditaklukkan oleh kekuatan musuh Nya. Dalam keadaan demikian, posisi Ketuhanan akan tetap berada dalam ancaman bahaya. Dan yang difirmankan bahwa, &#8216;Tidak ada yang patut disembah kecuali Dia,&#8217; artinya adalah, Dia merupakan Tuhan Yang Sempurna sedemikian rupa yang sifat-sifat, kelebihan kelebihan serta potensi-potensi Nya demikian tinggi dan agung sehingga jika kita ingin memilih satu Tuhan dari segala wujud yang ada berdasarkan sifat-sifatnya yang sempurna, atau kita dalam hati membayangkan sifat sifat tuhan yang paling indah dan paling tinggi, maka Dia-lah yang paling tinggi, selain-Nya tidak ada yang dapat lebih tinggi dari Dia. Dia-lah Tuhan yang dalam penyembahan-Nya menyekutukan sesuatu yang lebih rendah merupakan suatu keaniayaan.</p>
<p>Lebih lanjut Dia berfirman, bahwa Dia ‘Aalimul Ghaib. Yakni, hanya Dia-lah yang mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Tidak ada satupun yang mampu meliputi batas Dzat Nya. Kita dapat melihat matahari, bulan dan tiap makhluk seutuhnya, akan tetapi kita tidak dapat melihat Tuhan secara utuh. Kemudian firman-Nya bahwa Dia ‘Aalimusy Syahaadah. Yakni, tak ada suatu bendapun tersembunyi dari pandangan-pandangan Nya. Tidaklah layak apabila Dia dikatakan sebagai Tuhan, lalu Dia tidak memiliki pengetahuan tentang benda benda. Dia memiliki penglihatan atas partikel-partikel alam ini, sedangkan manusia tidak memilikinya. Dia mengetahui kapan Dia akan menghancurkan tatanan alam ini dan akan mendatangkan Kiamat. Dan selain-Nya tidak ada yang mengetahui kapan hal itu akan berlangsung. Jadi, Dia itulah Tuhan Yang Mengetahui semua waktu tersebut.</p>
<p>Kemudian firman Nya: &#8216;Hua rahmaanu,&#8217; yakni sebelum ada wujud makhluk-makhluk hidup dan usaha-usaha mereka, semata mata karena Dia senang, bukan karena suatu maksud tertentu, dan bukan sebagai balasan bagi suatu perbuatan, Dia telah menyediakan sarana-sarana kemudahan bagi mereka. Contohnya, Dia telah menciptakan matahari, bumi, dan segala benda lain sebelum adanya wujud serta perbuatan-perbuatan kita. Di dalam Kitab Ilahi anugerah demikian itu dinamakan rahmaaniyyat dan karena pekerjaan-Nya itulah Allah Ta&#8217;ala disebut Rahmaan.</p>
<p>Kemudian firman-Nya lagi, &#8216;Ar-rahiim,&#8217; yakni Dia lah Tuhan yang memberikan ganjaran terbaik bagi amal per¬buatan yang baik, dan Dia tidak menyia nyiakan upaya gigih seseorang. Berdasarkan pekerjaan Nya ini, Dia disebut Rahiim, dan sifat itu disebut rahiimiyyat . (al-Hasyr:22)</p>
<p>Kemudian firman-Nya: &#8216;Maaliki yaumiddiin,&#8217; yakni, Dia-¬lah Tuhan Yang menyimpan di tangan-Nya balasan bagi segala sesuatu. Dia tidak memiliki petugas yang kepadanya Dia serahkan pemerintahan langit dan bumi, sedangkan Dia sendiri tidak campur-tangan duduk tanpa pekerjaan; hanya si petugas itu sajalah yang memberikan segala ganjaran maupun hukuman di alam ini atau di Hari Kemudian. ( Al-Fatihah :4)</p>
<p>Kemudian firman Nya: &#8216;Almalikul-qudduus,&#8217; Yakni, Tuhan itu Dia lah Raja Yang tiada bernoda dan tiada ber¬cacat (Al-Hasyr:23) . Adalah jelas bahwa kerajaan manusia tidak bersih dari aib. Seandainya seluruh penduduk suatu negeri meninggalkan negeri mereka beramai ramai dan mengungsi ke negeri lain, niscaya kerajaan itu tidak akan dapat berdiri. Atau, andaikata seluruh rakyat di¬landa musim kemarau, dari manakah akan diperoleh upeti bagi raja ? Sekiranya rakyat mulai mempersoalkan apa kelebihan raja dari mereka, maka kekuasaan apa yang dapat dibuktikan oleh sang raja ? Jadi, kerajaan Allah Ta&#8217;ala tidaklah demikian. Dia dalam sekejap mata dapat melenyapkan seluruh negeri, dan Dia dapat menciptakan makhluk makhluk. Sekiranya Dia bukan Maha Pencipta dan Maha Kuasa, maka tatanan kerajaan Nya tidak dapat berjalan kecuali dengan menggunakan cara cara kezaliman. Sebab, satu kali Dia memberikan pengampunan dan ke¬selamatan kepada dunia, maka dari mana Dia akan mendatangkan dunia yang lain ? Apakah orang orang yang sudah mendapat keselamatan itu harus ditangkapi untuk diturunkan lagi ke dunia dan dengan cara aniaya Dia menarik kembali ampunan serta keselamatan yang telah dilimpahkan-Nya ? Jika demikian, pasti terdapat cela pada ketuhanan Nya, dan Diapun tak ubahnya seperti raja raja dunia mempunyai noda. Raja raja membuat undang undang bagi dunia, lalu murka pada hal hal kecil, dan jika untuk kepentingan pribadi mereka tidak melihat cara lain kecuali berbuat zalim, maka mereka akan mengangap perbuatan zalim itu halal bagaikan susu ibu. Misalnya, undang undang kerajaan mengizinkan agar sebuah perahu bersama penumpang-penumpangnya dibiarkan tenggelam untuk menyelamatkan sebuah kapal. Akan tetapi, ketidak-berdayaan seperti itu tidak berlaku pada Tuhan. Jadi, seandainya Tuhan bukan merupakan Penguasa penuh dan bukan Pencipta dari sesuatu yang tidak ada, maka Dia akan bertindak seperti raja raja lemah yang menggunakan kezaliman untuk menegakkan kekuasaan; atau berlaku adil tetapi melepaskan Ketuhanan-Nya. Justru Bahtera Tuhan beserta segala kodrat Nya melaju dengan anggun di atas keadilan sejati.</p>
<p>Kemudian firman-Nya, &#8216;Assalaam,&#8217; yakni Dia lah Tuhan Yang terpelihara dari segala aib, musibah dan kesulitan. Justru Dia lah Pemberi keselamatan. Maksudnyapun jelas, sebab seandainya Dia sendiri tertimpa musibah-musibah, dipukuli orang orang dan rencana-rencana Nya tidak berjaya, maka dengan melihat contoh buruk itu bagaimana mungkin manusia akan merasa tenang hatinya bahwa tuhan yang semacam itulah yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah ? Berkenaan dengan sembahan sembahan palsu, Allah Ta&#8217;ala berfirman dalam Surah Al-Hajj: 73, 74,</p>
<p>Mereka yang kamu anggap sebagai Tuhan, keadaannya adalah demikian, jika mereka semua bersatu lalu ingin menciptakan seekor lalat, sampai kapanpun mereka tidak akan dapat ciptakan, walaupun mereka saling membantu. Bahkan jika lalat itu meram¬pas sesuatu milik mereka, maka mereka tidak kuasa untuk mengambilnya kembali dari lalat itu. Orang orang yang menyembah mereka, akalnya lemah dan yang disembahpun kekuatannya tidak berdaya. Apakah Tuhan itu demikian ? Tuhan adalah Dia yang lebih perkasa dari segala yang perkasa dan unggul atas semuanya; tidak ada yang dapat menangkap-Nya maupun memukul-Nya. Orang orang yang jatuh dalam kesalahan-kesalahan serupa itu tidaklah mengenal nilai Tuhan dan tidak tahu Tuhan itu seharusnya yang bagaimana .</p>
<p>Kemudian firman-Nya, &#8216;Almu&#8217;min,&#8217; bahwa Tuhan adalah Sang Pemberi Keamanan dan yang menegakkan dalil-dalil tentang kesempurnaan-kesempurnaan dan Tauhid Nya. Hal ini mengisyaratkan bahwa orang yang beriman kepada Tuhan sejati tidak akan malu di hadapan orang banyak, dan tidak pula akan malu di hadapan Tuhan. Sebab, ia memiliki dalil dalil yang kuat. Akan tetapi orang yang percaya kepada tuhan palsu, berada dalam kesulitan besar. Bukannya dia mengemukakan dalil dalil, justru dia memasukkan seluruh perkara sia-sia itu sebagai rahasia supaya jangan sampai diter¬tawakan, dan dia ingin menyembunyikan kekeliruan-kekeliruan yang telah terbukti nyata.</p>
<p>Dan kemudian firman-Nya:</p>
<p>Dia merupakan pelindung bagi semua dan unggul atas segala sesuatu serta memperbaiki apa yang rusak, dan Dzat Nya sangat berkecukupan (Al-Hasyr: 23).</p>
<p>Dan difirmankan:</p>
<p>Yakni, Dia adalah Tuhan yang menciptakan tubuh-tubuh dan juga yang menciptakan ruh-ruh. Dia yang membentuk rupa di dalam rahim. Segala nama baik yang dapat terlintas di pikiran, semua itu hanyalah bagi-Nya (Al-Hasyr: 24).</p>
<p>Kemudian firman-Nya:</p>
<p>Yakni, para penghuni langit menyanjung nama Nya, demikian pula para penghuni bumi  (Al-Hasyr: 24). Di dalam ayat ini diisyaratkan bahwa di benda benda langit ada penghuni dan merekapun terikat dengan petunjuk petun¬juk Tuhan.</p>
<p>Dan kemudian firman Nya pula:</p>
<p>Yakni, Tuhan adalah Maha Kuasa (Al-Baqarah: 20). Ini merupakan ketenteraman bagi para penyembah, sebab jika Tuhan itu lemah dan tidak kuasa, maka apalah yang dapat diharapkan dari tuhan seperti itu ?</p>
<p>Dan kemudian firman-Nya:</p>
<p>Yakni, Dia lah Tuhan Pemelihara sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, serta Dia sendirilah Pemilik Hari Pembalasan. Wewenang itu tidak diserahkan-Nya kepada siapapun (Al-Fatihah:2-4). Dia mendengar dan menjawab seruan setiap penyeru-Nya, yakni mengabulkan do’a do’a  (Al-Baqarah: 186).</p>
<p>Kemudian firmannya:</p>
<p>Yakni, Dia lah Yang Hidup selama lamanya dan Sumber segala kehidupan serta Tumpuan segala wujud (Ali &#8216;Imran: 2). Hal ini dikatakan karena seandainya Dia tidak kekal abadi, maka berkenaan dengan hidup Nya akan tetap diragukan, jangan-jangan Dia telah mati sebelum kita. Dan kemudian difirmankan bahwa, Dia lah Tuhan Yang Esa; bukan anak siapapun, dan tidak pula ada anak Nya; tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada yang sejenis dengan-Nya (Al-Ikhlas: 1 4).</p>
<p>(Islami Ushul ki Filasafi, h.158-162)</p>
<p>***</p>
<p>Betapa nyatanya cahaya Sang Sumber Cahaya ini.<br />
Seluruh alam terbentuk sebagai mata untuk melihat.<br />
Kemarin setelah melihat bulan aku menjadi sangat gelisah.<br />
Sebab, di situ samar-samar tampak tanda Sang Kekasih Jelita.<br />
Di dalam kalbuku terdapat gejolak keindahan itu.<br />
Jangan sebut-sebut sedikitpun kepadaku tentang Turki ataupun Tatar.<br />
Wahai kekasih, dimana-mana tampak manifestasi qudrat-Mu yang menakjubkan.<br />
Kemana mata memandang, di situ tampak penjelmaan-Mu.<br />
Di sumber matahari tampak gelombang-gelombang-Mu.<br />
Di setiap bintang kelihatan kasih-sayang-Mu.<br />
Engkau sendiri yang telah membangunkan ruh-ruh melalui tangan-Mu.<br />
Dari itu muncul kesemarakan cinta di kalangan pencinta.<br />
Betapa menakjubkan bahwa Engkau telah menanamkan berbagai khasiat dalam setiap unsur.<br />
Siapa pula yang mampu membaca seluruh rahasia ini.<br />
Qudrat Engkau tidak mempunyai batas.<br />
Dengan apa pula simpul rahasia yang sulit ini dapat dibuka.<br />
Di dalam keindahan-keindahan terdapat cita-rasa keindahan Engkau ini.<br />
Di dalam setiap bunga dan kebun  terdapat warna kebun bunga Engkau.<br />
Setiap keindahan, dalam kefanaannya, senantiasa memperlihatkan Engkau.<br />
Setiap rambut halus yang mengeriting, mengarah kepada Engkau.<br />
Orang-orang yang buta mata, ratusan tabir telah menghalangi  mereka.<br />
Jika tidak, qiblat orang kafir maupun orang beragama adalah ke arah Engkau.<br />
Sorotan-sorotan pandangan kecintaan Engkau bagaikan pedang kecintaan yang sangat tajam.<br />
Yang memotong jantung kehidupan segenap lawan.<br />
Untuk menemukan-Mu, kami telah menyatu dengan debu.<br />
Supaya terobati sedikit rasa perih keterpisahan ini.<br />
Satu detikpun saya tidak punya apa-apa selain Engkau.<br />
Jiwa semakin mengecut seperti mengecutnya hati orang yang sakit.<br />
Cepatlah bawa kabar bagaimana semaraknya di tempat Engkau.<br />
Jangan sampai meleleh darah dari luka seseorang yang tergila-gila.</p>
<p>             (Surmah Chasyam Aryah, p. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=23&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/irfan-ilahi-dalam-ungkapan-ungkapan-pendiri-jemaat-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemuliaan &amp; Keagungan Alquran Pada Pandangan Pendiri Ahmadiyah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kemuliaan-keagungan-alquran-pada-pandangan-pendiri-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kemuliaan-keagungan-alquran-pada-pandangan-pendiri-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[“Kata Khaataman Nabiyyiin yang telah digunakan terhadap Rasulullah s.a.w., kata itu sendiri menghendaki dan secara substansial di dalamnya telah ditanamkan [isyarah] bahwa Kitab yang telah turun kepada Rasulullah s.a.w. (Alquran) juga merupakan Khaatamul Kutub dan semua potensi terdapat di dalamnya. Dan potensi-potensi itu secara hakikat memang terdapat di dalam Kitab itu. Sebab, kaidah dan prinsip [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=21&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Kata Khaataman Nabiyyiin yang telah digunakan terhadap Rasulullah s.a.w., kata itu sendiri menghendaki dan secara substansial di dalamnya telah ditanamkan [isyarah] bahwa Kitab yang telah turun kepada Rasulullah s.a.w. (Alquran) juga merupakan Khaatamul Kutub dan semua potensi terdapat di dalamnya. Dan potensi-potensi itu secara hakikat memang terdapat di dalam Kitab itu.</p>
<p>Sebab, kaidah dan prinsip turunnya Kalaam Ilahi adalah, seberapa besar quwwat qudsi (potensi kesucian) dan kamaal baathini (potensi batin) yang dimiliki oleh orang yang kepadanya turun Kalaam Ilahi, maka sebesar itu pula kekuatan dan kehebatan Kalaam itu. Dikarenakan quwwat qudsi dan kamaal baathini Rasulullah s.a.w. menempati derajat paling tinggi yang belum pernah ada sebelumnya dan tidak akan pernah dicapai oleh manusia di masa mendatang, oleh sebab itu Quran Syarif juga menduduki tempat dan derajat paling tinggi dibandingkan segenap kitab sebelumnya dan shahifah-shahifah terdahulu, yaitu derajat yang tidak pernah dicapai oleh kalaam lainnya. Sebab, kemampuan-kemampuan dan quwwat qudsi Rasulullah s.a.w. adalah yang paling tinggi. Dan segenap posisi kemampuan/potensi telah berakhir pada beliau s.a.w.. Dan beliau s.a.w. telah mencapai titik paling puncak.</p>
<p>Pada posisi itu, Quran Syarif yang turun kepada beliau s.a.w., telah mencapai titik kesempurnaan. Dan sebagaimana potensi-potensi kenabian telah berakhir pada beliau s.a.w., demikian pula potensi-potensi mukjizat Kalaam telah berakhir pada Quran Syarif.  Beliau s.a.w. dinyatakan sebagai Khaataman Nabiyyiin, sedangkan Kitab beliau s.a.w. dinyatakan sebagai Khaatamul Khutub. Sejauh derajat-derajat dan faktor-faktor yang paling mungkin bagi mukjizat Kalaam, berdasarkan kesemua itu Kitab beliau s.a.w. telah mencapai titik puncak penghabisan. Yakni, dari segi fashaahat dan balaaghat. Dari segi urutan kandungan. Dari segi potensi-potensi ajaran. Dari segi hasil-hasil ajaran. Ringkasnya, dari aspek manapun kalian melihat akan tampak dari aspek itu kehebatan Quran Syarif serta terbukti kemukjizatannya.  Itulah sebabnya Quran Syarif tidak meminta contoh terhadap suatu perkara khusus tertentu saja, melainkan contoh itu diminta terbuka secara umum. Yakni, dari aspek manapun yang kalian inginkan, tandingilah [Alquran]. Tidak peduli adakah itu dari segi fashaahat dan balaaghat, dari segi makna dan kandungan, dari segi ajaran, dari segi nubuatan-nubuatan dan aspek ghaib yang terdapat di dalam Quran Syarif. Ringkasnya, dalam corak apapun kalian mencermatinya, yang ada ialah mukjizat.” (Malfuzhat, jld. 3, h. 36, 37).</p>
<p>***</p>
<p>“Quran Syarif adalah suatu mukjizat yang contoh sepertinya belum pernah ada di masa awal maupun di masa akhir. Pintu karunia dan berkat-berkatnya senantiasa terbuka. Dan Quran itu di setiap zaman tetap zahir serta bercahaya seperti ketika di masa Rasulullah s.a.w.. Selain itu hal inipun hendaknya diingat, bahwa kalaam (ucapan) setiap orang bersesuaian dengan ketangguhannya. Seberapa besar ketangguhan tekad, dan cita-citanya yang tinggi, sedemikian pula keadaan kalamnya. Jadi, demikian jugalah warna yang terdapat dalam wahyu Ilahi. Yakni, seseorang yang memperoleh wahyu dari Ilahi, seberapa tinggi ketangguhan yang dimiliki orang itu, sesuai itulah  dia akan memperoleh kalam. Dikarenakan lingkup ketangguhan, kemampuan-kemampuan dan tekad Rasulullah s.a.w. sangat luas, oleh sebab itu Kalam yang telah beliau peroleh, merupakan kalam yang memiliki ukuran dan derajat sedemikian rupa yang mana tidak akan pernah lahir seseorang dengan ketangguhan dan semangat seperti itu. Sebab, penda’waan beliau s.a.w. tidak diperuntukkan bagi suatu zaman tertentu atau bagi suatu kaum tertentu saja, seperti halnya nabi-nabi sebelum beliau. Melainkan, bagi beliau s.a.w. telah difirmankan:</p>
<p>Katakanlah…. Sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian. (Al-A’raf: 158)</p>
<p>Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al-Anbiya: 107</p>
<p>Seseorang dengan lingkup pengutusan dan risalah yang begitu luas, siapa yang dapat menandinginya. Pada waktu sekarang ini, jika seseorang memperoleh ilham berupa suatu ayat Quran Syarif, maka saya yakin bahwa ilhamnya itu tidak memiliki lingkup seluas yang diperoleh Rasulullah s.a.w., pada masa dahulu maupun sekarang.” (Malfuzhat, jld. 3., h. 57)<br />
***</p>
<p>“Ini merupakan pengalaman ratusan ribu orang suci, bahwa dengan mengikuti Quran Syarif maka berkat-berkat Ilahi akan turun ke dalam kalbu, dan akan terjadi suatu keterpaduan yang menakjubkan dengan Allah Ta’ala. Dan cahaya-cahaya serta ilham Allah Ta’ala  turun ke dalam kalbu-kalbu mereka. Dan makrifat-makrifat serta kebijakan mengalir dari mulut mereka. Kepada mereka dianugerahkan suatu kekuatan tawakal. Dan kepada mereka diberikan keyakinan yang kokoh. Dan suatu kecintaan Ilahi yang lezat – yang dipenuhi oleh nikmat perjumpaan dengan-Nya – ditanamkan ke dalam kalbu-kalbu mereka. Jika wujud-wujud mereka digiling di dalam gilingan bala musibah dan diperas di dalam mesin peras yang kuat, maka sari pati yang keluar dari mereka tidak lain hanyalah kecintaan terhadap Ilahi. Dunia tidak mengenali mereka, dan mereka sangat jauh serta sangat tinggi dari dunia. Perlakuan-perlakuan Allah terhadap mereka sangat luar biasa. Bagi mereka telah terbukti bahwa Allah itu ada. Dan kepada merekalah telah dibukakan bahwa Dia adalah Esa. Ketika mereka berdoa, Dia mendengarkan mereka. Ketika mereka menyeru-Nya, Dia menjawab. Ketika mereka memohon perlindungan, maka Dia berlari ke arah mereka. Dia menyayangi mereka melebihi [kasih-sayang] para orangtua. Dia mencurahkan hujan berkat kepada mereka di segala arah. Jadi, mereka dikenali melalui dukungan-dukungan-Nya yang berlangsung secara zahir dan batin, serta secara rohani maupun jasmani. Dan Dia menolong mereka di setiap arena. Sebab, mereka adalah milik-Nya, dan Dia adalah milik mereka. Hal-hal ini bukanlah sesuatu yang tanpa bukti.” (Surmah Chasyam Aryah, h. 24 – 31, catatan kaki).</p>
<p>***</p>
<p>“Jalan paling lurus dan sarana paling besar yang dipenuhi cahaya-cahaya keyakinan dan berkesinambungan, dan yang merupakan penuntun sempurna bagi kebaikan rohani kita serta bagi kemajuan ilmu kita, adalah Quran Karim. Yaitu yang telah datang untuk menyelesaikan seluruh perselisihan agama yang ada di dunia ini. Dan yang setiap ayat serta kata-katanya mengandung bentuk kesinambungan dari ribuan aspek. Dan yang dipenuhi oleh air kehidupan kita. Dan yang di dalamnya secara terselubung terkandung banyak sekali permata yang langka dan tak ternilai harganya, serta yang setiap hari terus saja bermunculan. Inilah timbangan terbaik yang melaluinya kita dapat membedakan antara kebenaran dan kekeliruan. Inilah lampu bercahaya yang secara tepat memperlihatkan jalan-jalan kebenaran. Tidak diragukan lagi, orang-orang yang terkait dengan jalan lurus/benar, dan memiliki semacam hubungan dengannya, maka kalbu mereka terus ditarik ke arah Quran Syarif. Dan Allah Maha Pengasih telah membuat kalbu mereka sedemikian rupa sehingga mereka bagaikan orang-orang yang dimabuk cinta tunduk ke arah kekasih mereka ini. Dan tanpa-Nya, mereka di manapun tidak akan tenteram. Suatu hal jelas dan nyata yang mereka dengar darinya, lalu mereka tidak mau mendengar dari pihak lain. Setiap kebenarannya dengan senang hati dan dengan berlari mereka terima. Dan akhirnya [Alquran] itulah yang mengakibatkan bercahaya dan cemerlangnya pikiran, serta menjadi sarana yang menimbulkan penguakan-penguakan yang sangat menakjubkan. Dan setiap orang diantarkannya ke puncak kemajuan, sesuai kemampuan masing-masing. Orang-orang yang benar selalu butuh untuk berjalan di bawah cahaya Quran Karim. Dan kapan saja kondisi baru suatu zaman telah membuat Islam berhadapan dengan agama lain, maka Quran Karim jugalah yang tampil sebagai senjata tajam dan ampuh serta langsung membantu. Demikian pula, bila saja pemikiran-pemikiran filosofis yang bertentangan menyebar, maka Quran Karim jugalah yang akhirnya mencabut tumbuhan buruk itu dan membuktikan kehinaan serta kenistaannya, lalu menjelaskan kepada para pemerhati bahwa inilah [Alquran] falsafah yang benar, sedangkan yang itu tidak.</p>
<p>Pada zaman sekarang inipun ketika para misionaris Kristen bangkit dan menarik orang-orang yang tidak memiliki pemahaman baik serta yang bodoh, untuk menjauhi Tauhid, lalu ingin menjadikan mereka sebagai penyembah seorang manusia lemah, dan membaluti cara-cara penipuan mereka dengan cara-cara menarik, dan mereka telah menggelar sebuah topan di negeri Hindustan ini, akhirnya Quran Karim jugalah yang telah memukul mundur mereka. Sehingga, sekarang orang-orang itu tidak berani menemui orang yang memiliki informasi tentang mereka. Dan mereka mengenyampingkan dalih-dalih mereka yang bertele-tele itu seperti sehelai kertas yang dilipat-lipat.” (Izalah Auham, h. 281, 282)</p>
<p>***</p>
<p>“Adalah penting bagi manusia supaya suci dari dorongan-dorongan fatal dosa, dan supaya keagungan Allah tertanam di dalam kalbunya sedemikian rupa sehingga keinginan nafsu syahwat yang membuat tak berdaya, yang menerpanya bagai halilintar dan dalam seketika membakar hangus modal ketakwaannya, menjadi jauh. Namun, apakah dorongan-dorongan kotor yang berkali-kali menyerang bagai penyakit sawan itu dan yang menghilangkan kesadaran akan ketakwaan itu dapat hapus begitu saja melalui bayangan tentang Parmesyar (Tuhan) yang diupayakan sendiri? Atau, dapat dilenyapkan melalui pemikiran-pemikiran yang dirancang sendiri? Atau, dapat dihentikan melalui suatu penebusan dosa yang penderitaannyapun tidak menyentuh jiwa manusia? Sama-sekali tidak ! Ini bukanlah perkara biasa. Justru, menurut orang berakal, inilah perkara yang paling patut diperhatikan dari seluruh perkara yang ada. Yakni, kehancuran yang bakal muncul akibat [perbuatan] tak bermalu dan pemutusan hubungan [dengan Tuhan] ini, yang bersumber pada dosa dan maksiat, bagaimana cara untuk menghindarkan diri darinya ?</p>
<p>Ini sudah jelas, bahwa manusia tidak dapat meninggalkan kelezatan yang diyakini pasti, hanya dengan mengandalkan pemikiran-pemikiran yang dibayangkan saja. Ya, sesuatu yang diyakini dapat ditinggalkan dengan menggunakan hal lain yang juga diyakini. Misalnya, ada suatu keyakinan mengenai sebuah belantara, bahwa di sana kita dapat dengan mudah menangkap beberapa ekor rusa. Dan atas dorongan keyakinan itu kita siap untuk mengambil langkah. Namun, ketika timbul keyakinan lain, bahwa di sana juga terdapat limapuluh ekor singa ganas dan ribuan ular mematikan yang siap dengan mulut menganga, maka kita pun akan menarik kembali niat itu. Demikian pulalah, tanpa keyakinan setingkat itu maka dosa pun tidak dapat dijauhkan.  Besi hanya dapat dipatahkan oleh besi. Yang dibutuhkan adalah keyakinan akan keagungan dan kehebatan Tuhan yang dapat memporak-porandakan tabir-tabir kelalaian, serta yang dapat membuat badan jadi gemetar, dan yang menampakkan maut itu mendekat, serta yang menanamkan rasa takut di dalam kalbu sedemikian rupa sehingga segenap tumbuhan nafs amarah menjadi patah. Dan melalui sebuah tangan ghaib, manusia semakin ditarik ke arah Tuhan. Dan kalbunya jadi dipenuhi keyakinan bahwa pada hakikatnya Tuhan itu ada, yang tidak akan membiarkan pelaku dosa yang tak bermalu itu begitu saja tanpa hukuman. Jadi, apalah yang dapat dilakukan oleh pencari suatu kesucian hakiki terhadap suatu kitab yang melaluinya kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi.</p>
<p>Oleh karena itu saya menzahirkan hal ini kepada setiap orang bahwa kitab yang memenuhi semua kebutuhan tersebut adalah Quran Syarif. Melaluinya pada diri manusia timbul suatu daya yang menarik manusia ke arah Tuhan, dan kecintaan terhadap dunia menjadi sirna. Dan Tuhan yang sangat terselubung itu, dengan mengikuti [kitab] tersebut maka akhirnya Dia memperlihatkan Wujud-Nya sendiri. Dan Sang Mahakuasa yang  qudrat-qudrat-Nya tidak diketahui oleh umat-umat lain, Tuhan memperlihatkan sendiri kepada manusia yang mengikuti Alquran. Dan Dia membawa manusia itu mengelilingi alam kekuasaan-Nya. Dan melalui suara &#8216;Anal maujud&#8217; (&#8216;Aku ada&#8217;), Dia mengabarkan kepada manusia itu tentang Wujud-Nya. Namun, kemampuan seperti itu tidak didapati dalam Weda. Sama-sekali tidak!</p>
<p>Weda adalah bagai sebundel kertas yang tidak diketahui siapa pemiliknya. Parmesyar (Tuhan) yang ke arahnya Weda mengimbau [manusia], tidaklah terbukti bahwa parmesyar itu hidup.  Bahkan Weda tidak menegakkan suatu dalil bahwa parmesyar-nya memang benar ada. Dan ajaran Weda yang menyesatkan itu telah mengacaukan hal ini, yakni bahwa melalui karya-karya cipta akan dapat diketahui siapa penciptanya. Sebab, berdasarkan ajaran Weda, ruh-ruh dan parmanu yakni partikel-partikel, kesemuanya adalah qadim  dan bukan makhluk (hasil ciptaan), bagaimana mungkin dapat diketahui siapa penciptanya. Demikian pula Weda menutup pintu Kalaam Ilahi, dan mengingkari tanda-tanda yang baru dari Tuhan. Dan menurut Weda, Parmesyar tidak mampu menzahirkan suatu tanda untuk mendukung hamba-hamba-Nya yang khusus, yaitu suatu tanda yang lebih tinggi dari pengetahuan dan pengalaman manusia-manusia biasa. Jadi, kalaupun diambil sikap yang sangat berprasangka baik terhadap Weda, maka dapat sekedar dikatakan bahwa Weda menyatakan tentang keberadaan Wujud Tuhan seperti [yang dapat dinyatakan oleh] manusia-manusia dengan kemampuan pemahaman yang biasa-biasa saja, dan Weda tidak memaparkan suatu dalil yang meyakinkan tentang Wujud Tuhan. Ringkasnya, Weda tidak mampu menganugerahkan makrifat yang datang dalam bentuk segar/baru dari Tuhan dan yang mengangkat manusia dari bumi lalu mengantarkannya sampai ke Langit. Namun, kesaksian dan pengalaman kami, serta kesaksian dan pengalaman segenap orang yang telah berlalu sebelum kami, merupakan saksi bahwa Quran Syarif melalui khasiat rohaninya dan melalui cahaya substansinya, menarik pengikutnya yang sejati ke arah-Nya. Dan Quran Syarif menyinari kalbunya, kemudian memperlihatkan Tanda-tanda besar, lalu menganugerahkan kepada pengikutnya itu hubungan-hubungan kokoh sedemikian rupa dengan Tuhan sehingga tidak dapat diputuskan oleh pedang yang ingin mencincang-cincangnya. Tuhan membukakan mata kalbu, dan menutup mata-air kotor dosa. Dan Dia menganugerahkan mukaalamah mukhaathabah (percakapan) yang nikmat dengan-Nya. Dia menganugerahkan ilmu-ilmu ghaib. Dan atas terkabulnya suatu doa, Dia memberitahukan hal itu melalui Kalam-Nya.  Dan setiap orang yang melawan orang tersebut, yakni orang yang merupakan pengikut sejati Quran Syarif, maka melalui Tanda-tanda-Nya yang sangat mengerikan, Tuhan menzahirkan bahwa Dia menyertai hamba-Nya itu, yang mengikuti Kalam-Nya.” (Chasymah Ma’rifat, h. 291– 295).</p>
<p>***</p>
<p>“Yakni, anugerah-anugerah yang diraih para pengikut Alquran Suci dan pemberian-pemberian istimewa yang mereka peroleh, walaupun semua itu tidak dapat diuraikan dan diungkapkan, tetapi di antaranya terdapat beberapa anugerah agung yang tepat untuk dituliskan di sini secara rinci sebagai contoh bagi para pencari kebenaran. Hal-hal yang dimaksud dituliskan di bawah ini.</p>
<p>Dari sekian ilmu dan makrifat-makrifat yang diraih para pengikut sempurna dari hidangan nikmat Al-Furqan adalah sebagai berikut. Tatkala manusia mengikuti Furqan Majid secara benar dan menyerahkan jiwanya secara total kepada perintah dan larangan Alquran, dan memperhatikan petunjuk-petunjuknya dengan kecintaan dan ketulusan yang sempurna, dan tidak tersisa lagi suatu kecaman secara zahir maupun secara makna, barulah pandangan dan pemikiran manusia itu dianugerahi suatu nur dari Sang Pemberi Anugerah Mutlak. Dan kepadanya dianugerahkan suatu akal yang halus/mendalam, yang membuat kedalaman-kedalaman luar biasa dan langka, serta rahasia-rahasia ilmu Ilahi yang tersembunyi di dalam Kalam Ilahi menjadi terbuka baginya. Dan makrifat-makfirat halus bercurahan di atas kalbunya bagai awan tebal mengandung hujan. Itulah makrifat-makrifat halus yang dalam Furqan Majid telah dinamakan hikmah, sebagaimana difirmankan:</p>
<p>Yakni, Allah menganugerahkan hikmah/kebijaksanaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Yaitu hikmah yang mencakup kebaikan berlimpah-ruah. Dan barangsiapa memperoleh hikmah, berarti dia telah mendapatkan berlimpah-limpah kebaikan. (Al-Baqarah:269).</p>
<p>Jadi, ilmu-ilmu dan makrifat-makrifat yang dalam kata lain dinamakan hikmah, dikarenakan mencakup kebaikan berlimpah-ruah, tampil dalam corak samudra yang diberikan kepada para pengikut Kalaam Ilahi. Dan di dalam pemikiran serta pandangan mereka ditanamkan suatu berkat sedemikian rupa dalam bentuk hakikat-hakikat kebenaran yang terus-menerus membekas di dalam cermin sifat jiwa mereka, dan shadaqat-shadaqat yang kamil senantiasa terbuka pada mereka. Dukungan-dukungan Ilahi menyediakan sarana-sarana sedemikian rupa bagi mereka ketika melakukan setiap penelitian dan penelaahan sehingga uraian mereka tidak lagi lemah dan timpang serta tidak keliru sedikit pun.</p>
<p>Jadi, apa saja ilmu-ilmu, makrifat-makrifat, kedalaman-kedalaman, hakikat-hakikat, kehalusan-kehalusan, rahasia-rahasia, dalil-dalil, dan argumentasi-argumentasi yang mereka raih, secara kuantitas dan kualitas berada pada derajat kesempurnaan sedemikian rupa yang luar biasa, yang tidak mungkin disamai serta ditandingi orang-orang lain. Sebab, mereka tidak dengan sendirinya, melainkan pengajaran dari Sang Ghaib dan dukungan dari Sang Shamad (Yang Tidak Bergantung Pada Apapun dan segala sesuatu bergantung pada-Nya) menuntun mereka dari depan. Dan melalui kekuatan pengajaran itulah terbuka pada mereka rahasia-rahasia serta cahaya-cahaya Alquran, yang tidak dapat terbuka dengan hanya mengandalkan jangkauan jauh akal saja. Ilmu-ilmu dan makrifat-makrifat yang dianugerahkan kepada mereka, yang melaluinya atas mereka jadi terbuka hal-hal mendalam dan halus serta hakikat-hakikat yang sangat dalam mengenai Dzat dan sifat-sifat Ilahi serta tentang alam akhirat.</p>
<p>Ini adalah keajaiban-keajaiban rohaniah yang dalam pandangan orang-orang berpikiran matang jauh lebih tinggi dan lebih mulia dari keajaiban-keajaiban jasmaniah. Bahkan dengan menyimaknya akan diketahui bahwa nilai dan kedudukan orang-orang yang memperoleh makrifat Ilahi (‘aarif billaah) serta yang dekat dengan Allah, pada pandangan orang-orang bijak justru diketahui melalui keajaiban-keajaiban tersebut. Itulah keajaiban-keajaiban yang merupakan ornamen dan hiasan bagi kedudukan tinggi mereka, serta yang merupakan keanggunan dan kecantikan wajah kemampuan mereka. Sebab, sudah termasuk dalam fitrat manusia bahwa kehebatan ilmu-ilmu serta makrifat-makrifat-hakiki/kebenaranlah yang paling banyak memberikan pengaruh kepada manusia. Dan kebenaran serta  makrifatlah yang lebih manusia sukai dibandingkan setiap benda lainnya. Dan seandainya ada seorang  zaahid (yang menjauhi dunia) serta ‘aabid (yang melakukan penghambaan), yang menyaksikan kasyaf-kasyaf serta mengetahui kabar-kabar ghaib dan menerapkan upaya-upaya gigih, dan dia juga menampilkan berbagai jenis keajaiban lainnya, namun dia sangat tidak tahu tentang ilmu Ilahi – sampai-sampai dia tidak mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, bahkan dia terkurung dalam pemikiran-pemikiran yang tidak benar serta tenggelam dalam akidah-akidah keliru, mentah dalam setiap perkara, dan melakukan kesalahan nyata dalam setiap pendapat – maka manusia semacam itu pada pandangan orang-orang berfitrat baik akan dianggap sangat rendah dan hina. Sebabnya adalah, bagi seorang bijak jika mencium bau busuk kejahalatan/ketidaktahuan dari diri orang tertentu, dan dari mulut orang itu  dia mendengar suatu kata yang bodoh, maka langsung kalbu orang bijak tersebut tidak suka kepadanya. Lalu orang itu pada pandangan manusia berakal, dalam bentuk apapun tidak dapat dianggap layak dihormati. Dan betapapun dia merupakan zaahid serta ‘aabid, tetap saja dianggap hina.</p>
<p>Jadi, dari kebiasaan fitrati manusia ini jelas bahwa keajaiban-keajaiban rohaniah – yakni ilmu-ilmu dan makrifat-makrifat – pada pandangan manusia, merupakan syarat mutlak bagi seorang ahliullah (yang memperoleh kedekatan dengan Allah) serta merupakan tanda-tanda istimewa dan penting untuk mengenali orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam bidang diniah/rohaniah.</p>
<p>Demikianlah, tanda-tanda ini secara sempurna dan lengkap dianugerahkan kepada para pengikut sempurna Alquran Suci. Dan walau pun ke-ummi-an lebih mendominasi karakter kebanyakan mereka, dan mereka tidak menguasai ilmu-ilmu umum lainnya, tetapi dalam hal rahasia-rahasia dan kedalaman-kedalaman ilmu Ilahi mereka jauh lebih maju sedemikian rupa dari orang-orang yang sezaman dengan mereka sehingga kadang-kadang para musuh besarpun setelah mendengar ucapan-ucapan mereka, atau setelah membaca tulisan-tulisan mereka dan setelah tenggelam dalam lautan keheranan, tanpa dapat dibendung lagi para musuh itu langsung berdiri mengatakan bahwa ilmu-ilmu dan makrifat-makrifat orang-orang tersebut berasal dari alam lain, yang dipenuhi oleh warna khusus dukungan-dukungan Ilahi.</p>
<p>Dan satu lagi buktinya adalah, jika ada pengingkar sebagai lawan dalam suatu perdebatan mengenai Allah ingin menandingi ucapan-ucapan mereka yang penuh kebenaran dan kearifan, maka pada akhirnya si pengingkar itu – dengan syarat dia bersikap adil dan jujur – akan terpaksa mengakui bahwa kebenaran hakiki terdapat di dalam ucapan yang keluar dari mulut mereka. Dan semakin dalam perdebatan/pembahasan itu berjalan semakin banyak pula dalil halus dan mendalam akan terus bermunculan sedemikian rupa yang kebenarannya akan terus terbuka begitu gamblangnya bagai matahari. Demikianlah bahwa saya sendiri bertanggung-jawab untuk menampakkan buktinya bagi setiap pencari kebenaran.</p>
<p>Dari sekian banyak terdapat satu lagi kemuliaan yang dinamakan perlindungan Ilahi. Dan kemuliaan inipun secara mukjizat dianugerahkan kepada para pengikut sejati Furqan Majid. Dan di sini yang saya maksudkan dengan kemuliaan adalah, mereka terpelihara dari adat kebiasaan dan pemikiran-pemikiran serta moral-moral maupun perbuatan-perbuatan yang tidak patut serta buruk, yang mana orang-orang lain siang malam bergelimang dan tenggelam di dalamnya. Dan kalaupun terjadi juga ketergelinciran, maka rahmat Ilahi secepatnya akan menanggulangi-nya.</p>
<p>Hal ini jelas bahwa kemuliaan ini sangat renik/halus dan sangat jauh dari dorongan-dorongan nafs amarah, yang tidak mungkin dapat diperoleh tanpa perhatian khusus dari Allah. Misalnya, jika dikatakan bahwa seseorang secara tegas hanya berhenti dari sebuah kebiasaan berdusta dan bohong dalam segenap urusannya, uraian-uraiannya, kata-katanya dan usaha-usahanya, maka hal itu akan menjadi sulit serta menjadi penghalang baginya. Bahkan kalaupun dia berusaha dan berupaya gigih untuk melakukan pekerjaan itu, maka baginya akan tampil hambatan-hambatan serta kendala-kendala sedemikian rupa sehingga akhirnya yang menjadi pegangan bagi dirinya adalah: menghindarkan diri dari dusta dan bohong dalam urusan-urusan duniawi tidaklah mungkin. Namun, orang-orang yang berupaya gigih ini, yang berkemauan untuk berjalan di atas petunjuk-petunjuk Furqan Majid dengan kecintaan hakiki serta dengan keinginan-keinginan yang penuh gejolak, tidak hal itu saja yang dipermudah, yakni terhindar dari kebiasaan buruk berdusta, melainkan mereka memperoleh karunia dari Sang Mahakusa Mutlak untuk meninggalkan setiap hal yang tidak patut dikerjakan maupun yang tidak patut diucapkan. Dan Allah Ta&#8217;ala dengan rahmat-Nya yang sempurna melindungi mereka dari kejadian-kejadian buruk yang dapat mencelakakan mereka. Sebab, mereka merupakan cahaya bagi dunia. Di dalam keselamatan mereka terdapat keselamatan dunia. Dalam kehancuran mereka terletak kehancuran dunia. Dari segi inilah mereka dalam setiap pemikiran, pengetahuan, pemahaman, kemarahan, dorongan syahwat, rasa takut, keinginan, dalam kesempitan dan kelapangan, dalam kegembiraan dan kesedihan, dalam kesulitan dan kemudahan, mereka dihindarkan dari segenap hal yang tidak layak, dari pemikiran-pemikiran buruk, pengetahuan-pengetahuan yang tidak benar, ilmu-ilmu yang batil, pemahaman-pemahaman yang tak berguna, serta dari setiap sisi ekstrim nafsu. Mereka tidak menetap pada suatu hal buruk manapun. Sebab, Allah Yang Maha Pengasih itu sendiri yang mencukupi tarbiyyat mereka, dan dahan apa saja pada pohon suci mereka yang Dia lihat kering, langsung Dia kerat dengan tangan-Nya yang penuh pemeliharaan. Dukungan Ilahi selalu dan setiap saat menaungi mereka. Dan anugerah perlindungan/pemeliharaan yang dianugerahkan kepada mereka ini, bukanlah tanpa bukti. Melainkan, manusia bijak dapat mengetahuinya secara penuh melalui kebersamaan dengannya dalam kadar tertentu.</p>
<p>Dari sekian yang ada, terdapat satu kedudukan, yakni tawakal. Di atasnyalah mereka ditegakkan dengan sangat kokoh. Sedangkan orang-orang lain sama-sekali tidak dapat memperoleh mata-air bening ini. Melainkan, hanya untuk merekalah mata air tersebut dibuat nikmat dan serasi. Dan cahaya makrifat sedemikian rupa digenggamkan kepada mereka sehingga kadang-kadang dalam kondisi tidak memiliki apa-apa sekalipun dan betul-betul jauh dari sarana-sarana yang lumrah, mereka tetap saja menjalani hidup dengan begitu bahagia dan lapang dada serta menjalani hari-hari mereka dengan kegembiraan demikian rupa seolah-olah mereka memiliki ribuan khazanah harta. Di wajah mereka tampak kesemarakan hartawan, yang memperlihatkan kemantapan sebagai orang yang kaya raya. Dan dalam kondisi-kondisi sulit, mereka bertumpu pada Sang Majikan Maha Pengasih mereka dengan lapang hati dan keyakinan penuh. Sikap mereka yang rela berkorban [untuk orang lain] merupakan suatu mata air. Dan pengkhidmatan terhadap umat manusia merupakan kebiasaan mereka. Dan penyusutan tidak pernah terjadi pada kondisi mereka kalaupun seluruh alam merupakan keluarga mereka.</p>
<p>Dan pada hakikatnya sifat sattaari Allah Ta&#8217;ala wajib untuk disyukuri, yaitu sifat yang dimana-mana menyelubungi [kekurangan-kekurangan] mereka. Dan sebelumnya, suatu musibah yang turun di luar kemampuan, mereka pandang sebagai anugerah. Sebab, Allah-lah yang melindungi/mencukupi bagi mereka dalam segenap pekerjaan mereka. Sebagaimana Dia sendiri telah berfirman:</p>
<p>“Dan Dia melindungi orang-orang saleh ].</p>
<p>Namun, orang-orang lain ditinggalkan dalam sarana-sarana keduniawian yang menyakitkan hati. Dan perilaku luar biasa yang ditampilkan khusus pada orang-orang tersebut tadi tidak ditampilkan pada orang-orang lain. Dan keistimewaan mereka inipun sangat cepat dapat terbukti melalui kebersamaan dengan mereka.</p>
<p>Dari sekian yang ada, terdapat sebuah kedudukan, yakni kecintaan terhadap Dzat [Ilahi] yang di atasnyalah ditegakkan para pengikut sempurna Alquran Suci. Dan di dalam segenap urat nadi mereka kecintaan terhadap Allah sedemikian rupa memberikan pengaruh sehingga menjadi hakikat wujud mereka, bahkan menjadi jiwa bagi jiwa mereka. Dan suatu kecintaan yang luar biasa terhadap Sang Kekasih Hakiki bergelora dalam kalbu-kalbu mereka. Dan suatu kesenangan serta kesukaan yang luar biasa [terhadap-Nya] memenuhi kalbu-kalbu suci mereka, yang membuat mereka sepenuhnya terlepas dan terputus dari unsur-unsur selain Allah. Dan api kecintaan Ilahi berkobar sedemikian rupa sehingga pada waktu-waktu tertentu orang-orang yang sepergaulan dengan mereka secara jelas menyaksikan dan merasakan hal itu. Bahkan jika para pencipta sejati itu dengan suatu dalih dan upaya tertentu ingin menyembunyikan gejolak kecintaan tersebut, maka hal itu tidak mungkin bagi mereka. Sebagaimana bagi para pencinta biasapun tidak mungkin dapat menutup-nutupi kecintaan mereka terhadap kekasih mereka dari para sahabat dan dari  orang-orang yang sepergaulan dengan mereka, yaitu kecintaan yang untuk menyaksikannya mereka mati-matian siang malam. Bahkan kecintaan yang telah merasuk di dalam kalaam mereka, rupa mereka, mata mereka, bentuk mereka, dan fitrat mereka, serta yang sedang menetes-netes dari rambut-rambut mereka, sama-sekali tidak dapat mereka sembunyikan. Ribuan tandapun mereka sembunyikan, tetap saja ada tandanya yang muncul. Dan tanda yang paling mulia bagi langkah sejati mereka adalah, mereka menyerahkan sepenuhnya segala sesuatu ke dalam ikhtiar Kekasih Hakiki mereka. Dan apabila mereka mendapatkan keperihan dari-Nya, maka karena dikuasai kecintaan terhadap Dzat Allah, mereka menyaksikan hal itu dalam bentuk anugerah. Dan penderitaan mereka anggap seperti syarbat yang lezat.</p>
<p>Ketajaman suatu pedang tidak mampu memisahkan mereka dari Kekasih mereka. Dan tidak ada suatu bencana besar yang dapat menghalangi mereka mengingat Kekasih mereka itu. Dialah yang mereka anggap sebagai jiwa mereka. Di dalam kecintaan terhadap-Nyalah mereka mendapatkan kelezatan. Wujud-Nyalah yang mereka anggap sebagai wujud. Dzikir/mengenang terhadap-Nyalah yang mereka nyatakan sebagai buah kehidupan mereka. Jika ada yang mereka inginkan, itu hanyalah Dia. Jika ada ketenteraman yang mereka raih, itu hanyalah dari-Nya. Seluruh alam ini mereka peruntukkan hanya bagi-Nya, dan tetap untuk-Nya. Untuk Dialah mereka hidup, dan untuk Dialah mereka mati. Mereka hidup di alam ini tetapi berada di alam lain. Mereka memiliki diri tetapi kemudian hampa dari diri. Mereka melakukan pekerjaan bukan untuk kehormatan dan bukan pula untuk nama, bukan untuk jiwa mereka dan bukan pula untuk ketenteraman mereka. Melainkan, segala sesuatu itu mereka lenyapkan hanya untuk Satu, dan segala sesuatu mereka peruntukkan guna mendapatkan Yang Satu itu. Mereka terus terbakar oleh api yang tidak diketahui, dan sedikitpun mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka terbakar. Mereka menjadi shummun bukmun (bisu dan tuli) terhadap pemahaman maupun upaya memberikan pemahaman. Dan mereka senantiasa siap menanggung setiap penderitaan serta kehinaan, dan mereka merasakan kelezatan dari itu.</p>
<p>Dari sekian [tanda] yang ada, ialah akhlak fadhilah. Seperti kemurahan hati, keberanian sejati, rela berkorban untuk orang lain, semangat tinggi, kecintaan mendalam, kelembutan hati, rasa malu, dan kasih-sayang. Segenap akhlak ini dalam bentuk sangat indah dan sangat baik, tampil dari diri mereka. Dan orang-orang inilah yang berkat mengikuti Alquran Suci dengan setia hingga akhir hayat dalam setiap kondisi, menerapkan akhlak-akhlak tersebut dengan sangat baik dan penuh santun. Dan tidak ada kemerosotan menimpa mereka yang dapat menghalangi mereka menerapkan akhlak-akhlak mulia.</p>
<p>Sebenarnya, segala kehebatan yang dapat timbul dari manusia dalam bidang ilmu, amal perbuatan, ataupun akhlak, itu semua tidak dapat terwujud hanya melalui kekuatan-kekuatan manusia semata. Justru faktor sebenarnya yang membuat hal-hal itu terwujud adalah fadhal/karunia Ilahi. Jadi, dikarenakan orang-orang ini paling banyak memperoleh karunia Ilahi, oleh sebab itu Allah Yang Maha Penyayang sendiri yang menganugerahkan segenap kehebatan kepada mereka melalui karunia-karunia-Nya yang tak terhingga. Atau, dalam kata lain pahamilah bahwa secara hakiki selain Allah tidak ada yang baik. Seluruh akhlak fadhilah dan segenap kebaikan hanya bagi-Nya. Kemudian sejauh mana seseorang menghapuskan jiwa dan kehendaknya lalu ingin meraih kedekatan Dzat Yang Maha baik itu, maka sejauh itu pulalah akhlak-akhlak Ilahi memantul pada dirinya. Jadi, kehebatan-kehebatan dan adab/budaya sejati yang diperoleh manusia, semua itu diperoleh hanya melalui kedekatan pada Allah. Dan memang seharusnya demikian, sebab makhluk pada zatnya sendiri tidak ada artinya sedikitpun.</p>
<p>Jadi, pantulan-pantulan akhlak-akhlak fadhilah Ilahi hanya terjadi pada kalbu orang-orang yang memilih untuk mengikuti Alquran Suci secara sempurna. Dan pengalaman/kenyataan hakiki dapat membuktikan bahwa tampilnya akhlak-akhlak fadhilah pada diri mereka dengan kebeningan mata-air dan dengan dipenuhi kesukaan serta kecintaan rohani itu, tidak ditemukan contoh/tandingannya di dunia ini. Walaupun setiap orang dapat menda’wakan di mulut, serta dapat muncul dari lidah setiap orang sebagai omong kosong, tetapi adapun pintu sempit pengalaman/kenyataan sejati, yang dapat melewatinya dengan selamat hanyalah orang-orang ini. Sedangkan orang-orang lain kalaupun menampilkan beberapa akhlak fadhilah, itu mereka tampilkan dengan memaksakan diri dan dengan membuat-buat. Dan mereka memperlihatkan adab/budaya palsu dengan menutup-nutupi kekotoran mereka serta dengan menyelubungi penyakit-penyakit mereka. Dan kedok mereka menjadi terbuka hanya melalui cobaan-cobaan ringan. Dan mereka kebanyakan menampilkan akhlak-akhlak fadhilah yang dibuat-buat adalah karena mereka melihat di situlah terletak tatanan yang baik bagi dunia dan masyarakat mereka. Dan seandainya di setiap tempat mereka mengikuti kekotoran-kekotoran batiniah mereka, maka timbul kerusakan pada tatanan masyarakat. Dan walaupun pada diri mereka juga terdapat beberapa benih akhlak sesuai potensi fitrati yang ada, tetapi benih itu senantiasa tertekan di bawah [semak-semak] duri nafsu. Dan akhlak itu tidak tampil murni demi Allah tanpa dicemari kotornya dorongan-dorongan nafsu, maka bagaimana mungkin dapat mencapai kesempurnaannya. Sedangkan benih itu mencapai kesempurnaannya, yang semata-mata untuk Allah, hanya pada diri orang-orang  yang menjadikan diri mereka milik Allah. Yaitu orang-orang yang jiwanya didapati oleh Allah Ta&#8217;ala benar-benar suci dari kekotoran unsur-unsur selain-Nya lalu Dia sendiri yang memenuhi jiwa-jiwa mereka dengan akhlak-akhlak suci-Nya. Dan Allah Ta&#8217;ala menjadikan akhlak-akhlak itu begitu indahnya dalam kalbu-kalbu mereka sebagaimana Dia sendiri tampil sangat indah bagi mereka.</p>
<p>Jadi, dikarenakan kefanaan, mereka memperoleh derajat penyandangan akhlak-akhlak Allah demikian rupa sehingga seakan-akan mereka menjadi suatu alat milik Allah yang melaluinya Dia menzahirkan akhlak-akhlak-Nya. Dengan menemukan mereka dalam keadaan lapar dan haus, Allah meminumkan air murni kepada mereka dari mata-air-Nya yang khusus, yaitu mata-air yang mengenai keasliannya tidak ada satupun makhluk dapat menyekutui-Nya.</p>
<p>Dan dari sekian banyak anugerah itu, sebuah kehebatan agung yang diberikan kepada para pengikut sempurna Alquran Suci adalah penghambaan. Yakni, walaupun mereka memiliki banyak kehebatan, mereka senantiasa memperhatikan kekurangan pribadi mereka.</p>
<p>Dan di hadapan Allah Ta&#8217;ala yang Maha Agung mereka senantiasa hidup dengan menghinakan diri,  penghapusan wujud serta merendahkan diri. Dan mereka menganggap hakikat mereka yang sebenarnya sangat  hina,  miskin, tidak punya apa-apa, penuh kelemahan dan penuh kesalahan. Dan segala kehebatan yang telah  dianugerahkan kepada mereka itu mereka anggap sebagai cahaya sementara yang pada suatu waktu mengena pada dinding dari arah matahari, yaitu yang sedikitpun tidak ada kaitannya secara hakiki dengan dinding, serta bagai baju yang diperoleh melalui hutang, [cahaya] itu dapat tenggelam.</p>
<p>Jadi, segenap kebaikan dan kehebatan tersebut mereka peruntukkan hanya bagi Allah. Dan mereka menetapkan bahwa Dzat Kamil-Nyalah yang merupakan sumber segala kebaikan. Dan penyaksian sempurna sifat-sifat Ilahi memenuhi kalbu mereka dalam bentuk haqqul yaqin, sehingga mereka menyadari bahwa mereka tidak ada artinya sedikitpun. Sampai-sampai mereka secara total lenyap dari wujud dan kehendak serta keinginan mereka. Dan lautan keagungan Ilahi yang penuh gejolak memenuhi kalbu-kalbu mereka sehingga mereka mengalami ribuan bentuk kepunahan. Dan mereka betul-betul menjadi suci serta bersih dari segala pengaruh syirik yang terselubung.” (Barahin Ahmadiyah jld. IV, sub-catatan kaki no. 3 h. 532-543).</p>
<p>***</p>
<p>“Nur Furqan (Alquran)  adalah  nur  yang  terbukti paling terang dari segenap cahaya.<br />
Mahasuci Dzat yang dari-Nya lautan cahaya ini telah mengalir.<br />
Pohon  Tauhid  Kebenaran sudah lama layu.<br />
Tiba-tiba saja dari  keghaiban telah muncul mata-air bening ini.<br />
Ya Ilahi, Furqan (Alquran) Engkau  merupakan sebuah alam.<br />
Segala sesuatu yang diperlukan, telah tersedia di dalamnya.<br />
Seluruh alam raya telah ditelusuri, dan semua tempat sudah diperiksa.<br />
Wahai sekalian, hanya inilah satu-satunya cermin Irfan.<br />
Apa pula yang mampu menyamai Nur ini di dunia.<br />
Ia telah terbukti tiada tara dalam segala hal dan segala keindahan.<br />
Dulunya tongkat Musa yang telah dianggap Furqan.<br />
Kemudian yang terpikir ialah setiap sabda Almasih.<br />
Adalah kesalahan orang-orang buta sendiri jika mereka tidak melihatnya.<br />
Nur ini begitu  bercahaya bagai  ratusan matahari yang berbinar-binar.<br />
Betapa hinanya kehidupan orang-orang seperti itu di dunia ini.<br />
Yaitu  orang-orang yang kalbunya tetap saja buta walaupun ada Nur demikian.<br />
 (Barahiin Ahmadiyyah, jld III, sub catatan kaki no. 2, h. 305-306).</p>
<p>“Keindahan dan kemolekan Alquran merupakan cahaya jiwa setiap Muslim.<br />
Qomar adalah bulan bagi orang-orang lain, sedangkan bulan kami adalah Alquran.<br />
Setelah jauh merenung dan melihat, tidak ditemukan bandingannya.<br />
Ya, mengapa tidak, ini adalah Kalaam Suci Sang Rahman yang tiada duanya.<br />
Dalam setiap kalimatnya muncul musim bunga abadi<br />
Keindahan itu tidak ditemukan di kebun bunga atau di taman bunga manapun.<br />
Sama-sekali tidak ada tara bagi Kalaam Suci Ilahi.<br />
Tidak perduli walaupun ada mutiara Amman, dan walaupun ada permata ruby Badakhsyan.</p>
<p>Bagaimana mungkin firman Tuhan setara dengan ucapan manusia.<br />
Disana qudrat, disini penderitaan dan keperihan, demikianlah perbedaan yang nyata.<br />
Para malaikat saja di hadapan-Nya menyatakan ketiadaan ilmu mereka.<br />
Siapa pula manusia berkuasa yang dapat menandingi-Nya dalam hal kalaam.<br />
Manusia sama-sekali tidak mampu menciptakan sepotong kaki serangga.<br />
Maka bagaimana mungkin mudah baginya untuk menciptakan cahaya kebenaran.<br />
Wahai orang-orang, hargailah sedikit kemuliaan Ilahi.<br />
Tahanlah lidah kalian sekarang juga, sekiranya ada sedikit aroma keimanan pada kalian.<br />
Menyetarakan Tuhan dengan  wujud lain adalah kekufuran besar.<br />
Takutlah sedikit kepada Tuhan, wahai sobat, betapa itu merupakan kedustaan.<br />
Jika kalian mengakui Dzat Esa Tuhan<br />
Maka mengapa kalian di dalam kalbu kalian menyembunyikan kemusyrikan demikian banyak.<br />
Bagaimana tabir kejahalatan telah terpasang di kalbu kalian.<br />
Kalian melakukan kesalahan. Berhentilah, jika ada sedikit rasa takut terhadap Tuhan.<br />
Wahai saudara-saudara! Tidak ada kedengkian sedikitpun pada kami. Ini hanyalah sebuah nasihat penuh kerendahan hati.<br />
Jika ada yang berkalbu suci, berkorbanlah untuk-Nya dengan sepenuh hati.</p>
<p>                 (Barahiin Ahmadiyyah, jld. 3, h. 198).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=21&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kemuliaan-keagungan-alquran-pada-pandangan-pendiri-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KALIMAH SYAHADAT AHMADIYAH BERBEDA DENGAN SYAHADAT UMAT ISLAM</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kalimah-syahadat-ahmadiyah-berbeda-dengan-syahadat-umat-islam/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kalimah-syahadat-ahmadiyah-berbeda-dengan-syahadat-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimat Syahadat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[HUJATAN 1: KALIMAH SYAHADAT AHMADIYAH BERBEDA DENGAN SYAHADAT UMAT ISLAM. JAWABAN: Setiap orang Ahmadiyah meyakini dan mengaku beragama Islam, maka Kalimah Syahadatnya sama persis dengan kalimah Syahadat yang dibaca dan diakui oleh kaum muslimin lainnya, yaitu “Asyhadu allaailaaha illallaahu Wa asyahadu anna muhamadarrasuulullaah”. Lafaz Syahadat itu pula yang dikumandangkan dalam adzan dari mesjid-mesjid Ahmadiyah di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=19&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HUJATAN 1: KALIMAH SYAHADAT AHMADIYAH BERBEDA DENGAN SYAHADAT UMAT ISLAM.</p>
<p>JAWABAN:</p>
<p>Setiap orang Ahmadiyah meyakini dan mengaku beragama Islam, maka  Kalimah Syahadatnya sama persis dengan kalimah Syahadat yang dibaca dan diakui oleh kaum muslimin lainnya, yaitu “Asyhadu allaailaaha illallaahu Wa asyahadu anna muhamadarrasuulullaah”.  Lafaz Syahadat itu pula yang dikumandangkan dalam adzan dari mesjid-mesjid Ahmadiyah di 190 negara di seluruh ketika datang  shalat wajib lima waktu. Demikian juga ketika seseorang bai’at masuk kedalam Ahmadiyah, ia wajib membaca dua Kalimah Syahadat tersebut. Jadi, kalimah Syahadat itu adalah harga mati untuk seorang muslim ahmadi yang  sejati.</p>
<p>Berkenaan dengan Kalimah Syahadat ini,  Pendiri Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menulis :</p>
<p>    “Inti dari kepercayaan kami adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-rasulullahu (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami inilah  yang menjadi tempat bergantung dalam hidup ini, dan yang padanya &#8211; dengan rahmat dan karunia Allah &#8211;  kami berpegang teguh sampai akhir hayat kami”. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=19&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/kalimah-syahadat-ahmadiyah-berbeda-dengan-syahadat-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tadzkirah Kitab Suci Ahmadiyah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/tadzkirah-kitab-suci-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/tadzkirah-kitab-suci-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 12:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/tadzkirah-kitab-suci-ahmadiyah/</guid>
		<description><![CDATA[HUJATAN 2: KITAB SUCI ORANG AHMADIYAH ADALAH AL-TADZKIRAH YAITU WAHYU YANG SUCI. (Dalam Tadzkirah hal.1.) (Selebaran Maklumat FPI). JAWABAN : Perhatikanlah baik-baik kalimat yang tertulis di halaman sampul buku Tadzkirah! Disitu tertulis: TADZKIRAH YAKNI WAHYU MUQADDAS RU’YA WA KUSYUF HAZRAT BANI SILSILAH AHMADIYAH“dan tidak tertulis “TADZKIRAH YAKNI KITAB MUQADAS……..dan seterusnya.” Bagi orang yang sedikit punya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=18&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HUJATAN 2: KITAB SUCI ORANG AHMADIYAH ADALAH AL-TADZKIRAH YAITU WAHYU YANG SUCI.</p>
<p>(Dalam Tadzkirah hal.1.) (Selebaran  Maklumat FPI).</p>
<p>JAWABAN :</p>
<p> Perhatikanlah baik-baik kalimat yang  tertulis di halaman sampul buku Tadzkirah! Disitu tertulis: TADZKIRAH YAKNI WAHYU MUQADDAS RU’YA WA  KUSYUF  HAZRAT BANI SILSILAH AHMADIYAH“dan tidak tertulis “TADZKIRAH YAKNI KITAB MUQADAS……..dan seterusnya.” Bagi orang yang sedikit punya ilmu bahasa Arab akan mengerti apa itu SIFAT MAUSUF. Jadi sifat Muqaddas yang artinya suci dari Allah Swt. serta terbebas dari syaitani adalah tertuju kepada sifat dari Wahyu, ru’ya dan kasyaf yang ada di dalamnya dan bukan sifat dari buku atau kitab itu! (harap maklum, bahwa kata ‘buku’ di dalam bahasa Arab dan Urdu adalah ‘kitab’). Jadi artinya yang TEPAT dan BENAR serta AKURAT adalah “ TADZKIRAH YAKNI (YAITU) WAHYU SUCI, RU’YA DAN KASYAF  PENDIRI SILSILAH AHMADIYAH. Alhasil, sangat KELIRU kalau diterjemahkan atau dikatakan  KITAB SUCI ATAU KITAB SUCI TADZKIRAH!! Pendek kata, sudah menjadi harga mati  bahwa Kitab suci orang Muslim Ahmadiyah adalah Al-Qur’an yang 30 juz. Satu ayat bahkan satu huruf atau satu titik pun tidak ada yang dikurangi atau ditambah. Dan Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam umurnya yang ke 119 tahun atau dalam Jublium 100 tahun Khilafatnya sedang menyelesaikan untuk menerjemahkan Alquran kedalam  100 bahasa dunia serta  telah berhasil   mengajarkan dan menyebarkannya di 190 negara di dunia.</p>
<p>Sedangkan tentang Tadzkirah, seperti diterangkan di halaman 1 diatas yang artinya TADZKIRAH YAKNI(YAITU) WAHYU SUCI, RU’YA, KASYAF DARI PENDIRI SILSILAH AHMADIYAH awalnya adalah berupa catatan-catatan pendiri  Ahmadiyah tentang kasyaf, ilham, wahyu dan mimpi-mimpi yang benar yang beliau terima sendiri dari Allah Ta’ala dan beliau catat di banyak buku, selebaran atau majalah-majalah yang diterbitkan di zaman beliau. Setelah 27 tahun beliau meninggal (jadi HADZRAT MIRZA GHULAM AHMAD a.s. juga tidak mengetahui), yaitu tahun 1935 catatan-catatan itu  dikumpulkan, dihimpun, dan diberi nama ‘Tadzkirah’. Sebelum tahun 1935 – saat Ahmadiyah telah berdiri di dunia selama 46 tahun – kumpulan catatan itu belum mempunyai nama. Jadi, nama Tadzkirah itu baru ada setelah dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1953. Sedangkan cetakan ke-2 dan ke-3 diterbitkan masing-masing pada tahun 1956 dan 1969. karena itu, mengatakan bahwa Tadzkirah adalah kitab sucinya Ahmadiyah adalah perkataan yang sangat janggal dan hujatan palsu yang sangat keji. Di India dan Pakistan sendiri tidak pernah ada hujatan semacam ini. </p>
<p>Pendiri Ahmadiyah HADZRAT MIRZA GHULAM AHMAD a.s. MENEGASKAN: “tidak ada yang masuk kedalam Jamaah kami kecuali orang yang telah masuk Islam dan mengikuti Kitab Allah Al-Qur’an dan Sunnah-sunnah junjungan kami, Muhammad Saw. yang merupakan sebaik-baiknya ciptaan serta telah yakin benar berkenaan dengan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pengasih dan Rasul-Nya, Hari Qiamat, Surga dan Neraka; dan ia (setiap Ahmadi) berjanji dan berikrar tidak akan memilih agama selain AGAMA ISLAM serta ia akan mati di atas agama ini, yaitu agama fitrah dengan berpegang teguh kepada Kitab Allah Yang Maha Tahu dan mengamalkan setiap apa yang terbukti sebagai sunnah, Al-Qur’an dan Ijma’ Sahabat yang mulia; dan siapa yang mengabaikan tiga hal ini, sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam Api Neraka”.  ( RUHANI KHAZAIN,19 : 315 )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=18&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/tadzkirah-kitab-suci-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Latar Belakang Berdirinya Jemaat Ahmadiyah</title>
		<link>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/latar-belakang-berdirinya-jemaat-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/latar-belakang-berdirinya-jemaat-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 11:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahli Sunnah Wal Jamaah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah Muslim Community]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Ahmadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/latar-belakang-berdirinya-jemaat-ahmadiyah/</guid>
		<description><![CDATA[Tokoh yang dijanjikan di dalam Alquran &#8220;Huwallazii arsala rasulahuu bilhudaa wa diinilhaqqi, liyuzh-hirahuu alad-diini kullihi walaw karihal-musyrikuwn&#8221; Dialah [Allah] yang mengirimkan Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama, betapapun orang-orang musyrik tidak akan menyukai (As-Shaf:10). Ayat ini mengisyaratkan pada kemenangan Islam atas seluruh agama lainnya. Dan kemenangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=17&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tokoh yang dijanjikan di dalam Alquran</strong><br />
&#8220;Huwallazii arsala rasulahuu bilhudaa wa diinilhaqqi, liyuzh-hirahuu alad-diini kullihi walaw karihal-musyrikuwn&#8221;</p>
<p>Dialah [Allah] yang mengirimkan Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama, betapapun orang-orang musyrik tidak akan menyukai (As-Shaf:10).</p>
<p>Ayat ini mengisyaratkan pada kemenangan Islam atas seluruh agama lainnya. Dan kemenangan tsb. dipakukan dibawah bendera Tauhid. Sebab Tauhid lah yang dapat mempersatukan seluruh umat manusia. Dan Tauhid itu sendiri merupakan ruh Islam. Kesempurnaan Syariat Islam telah terjadi di masa dan di tangan Rasulullah saw. 14 abad yang silam. Namun kesempurnaan penyebaran Syariat Islam, seperti yang diisyaratkan oleh Allah Ta&#8217;ala dan Rasulullah saw., adalah pada masa dan di tangan tokoh yang dijanjikan sebagai Masih Mau&#8217;ud dan Imam Mahdi</p>
<p>&#8220;Huwallazii ba&#8217;atsa fil-ummiyyina rasulanm-minhum yatluw alaiihim aayaatihii wayuzakkiihim wayu&#8217;allimuhumul-kitaaba wal-hikmah, wain kaanuw min-qoblu lafii dholalinm-mubiin. Wa&#8217;aakhoriina minhum lammaa yalhaqquw bihim wahuwal-aziizul hakiim&#8221;</p>
<p>Dialah [Allah] yang telah mengutus di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan Dia akan membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al-Jumu&#8217;ah:3-4).</p>
<p>Ayat ini mengisyaratkan pada kebangkitan rohaniah Rasulullah saw. (the second spiritual advent) dalam wujud seseorang yang menyatu sepenuhnya dengan beliau dan merupakan cerminan rohaniah atau bayangan kamil Rasulullah saw., namun belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa beliau hidup. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabi saw. yang termasyhur tertuju kepada pengutusan Rasulullah saw. sendiri untuk kedua kali dalam wujud Masih Mau&#8217;ud di akhir zaman.</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Prolog<br />
Jemaat Ahmadiyah adalah suatu gerakan dalam Islam yang didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. pada tahun 1889, atas perintah Allah Ta&#8217;ala. Ahmadiyah bukanlah suatu agama. Agamanya adalah ISLAM. Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Kalimah Syahadat &#8220;Laa ilaha Illallah, Muhammadur-rasulullah&#8221;. Jemaat Ahmadiyah bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah rasul Allah.</p>
<p>Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi kitab suci Al-Quran sebagai Kitab Syariat terakhir yang paling sempurna, hingga kiamat.</p>
<p>Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Sayyidina Muhammad Mustafa Rasulullah shallallahu alaihi wa&#8217;aalihi wassallam sebagai Khataman-nabiyyiyn yang merupakan penghulu dari sekalian nabi dan nabi yang paling mulia. Beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir. Penutup pintu kenabian tasyri&#8217;i. Tidak ada lagi nabi pembawa syariat baru sesudah Rasulullah saw..</p>
<p>Nama Ahmadiyah berasal dari nama sifat Rasulullah saw. &#8212; Ahmad (yang terpuji). Yakni yang menggambarkan suatu keindahan/kelembutan. Zaman sekarang ini adalah zaman penyebar-luasan amanat yang diemban Rasulullah saw. dan merupakan zaman penyiaran sanjungan pujian terhadap Allah Ta&#8217;ala. Era penampakkan sifat Ahmadiyah Rasulullah saw.. (Da&#8217;watul Amir, M.Bashiruddin Mahmud Ahmad, edisi terj.Bhs.Indonesia, 1989,h.2)</p>
<p>Tujuan Jemaat Ahmadiyah adalah Yuhyiddiyna wayuqiymus-syariah. Menghidupkan kembali agama Islam, dan menegakkan kembali Syariat Qur&#8217;aniah.</p>
<p>Dalam arti yang lebih mendalam adalah untuk menghimbau ummat manusia kepada Allah Ta&#8217;ala dengan memperkenalkan mereka sosok sejati Rasulullah saw., dan menciptakan perdamaian serta persatuan antar berbagai kalangan manusia. Ahmadiyah berusaha menghapuskan segala kendala yang timbul karena perbedaan ras dan warna kulit sehingga umat manusia dapat bersatu dan mengupayakan perdamaian semesta.</p>
<p>Kami beriman bahwa Allah itu Mahaesa dan tidak mempunyai sekutu dalam zat-Nya maupun dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dilahirkan maupun melahirkan. Dia bebas dari segala jenis kekurangan dan kelemahan dan sempurna di dalam segala sifat-Nya. Dia mengabulkan doa-doa para hamba-Nya dan membantu mereka dalam memenuhi segala keperluan mereka. Nikmat-nikmat-Nya, baik secara materi ataupun rohani, tidak terbatas, dan tidak hanya dilimpahkan kepada suatu bangsa atau kaum tertentu. Jemaat Ahmadiyah menganggap sebagai kewajibannya untuk mengimbau umat manusia menerima Tauhid Ilahi, sebab, penerimaan Tauhid Ilahi dapat mewujudkan perdamaian dan persatuan diantara umat manusia.</p>
<p>Kami percaya bahwa semua agama besar pada awalnya mempunyai landasan kebenaran dan masih mengandung banyak nilai keindahan. Kami menolak dan menyangkal sikap yang menyatakan bahwa tidak ada agama selain agamanya sendiri yang mengandung suatu kebenaran atau nilai keindahan. Kendatipun demikian, kami menganggap sebagai kewajiban kami untuk mengumandangkan bahwasanya Islam mengandung tuntunan Samawi dengan bentuknya yang utuh dan sempurna guna membimbing umat manusia mencapai hubungan kedekatan dengan Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Kami menjunjung tinggi kebebasan suara hati lebih dari segala kemerdekaan dan sebagai hak-hidup setiap makhluk manusia. Kami memandang tidak ada dosa yang begitu keji seperti tindakan paksa atau kekerasan dalam urusan agama. Kami memandang haram untuk berperang atau memerangi pemerintah atau bangsa yang memberi kemerdekaan penuh kepada penyuaraan kata hati dan agama orang-orang yang menghuni wilayah-wilayahnya. Kami memandang orang-orang Islam yang mensahkan perang disebabkan perbedaan dalam urusan agama adalah sebagai kesalahan besar dalam memegang akidah yang sama-sekali tidak sesuai dengan jiwa agama Islam yang hakiki ini.</p>
<p>Kami menganggap sebagai kewajiban agama yang pokok untuk mentaati sepenuhnya undang-undang dan peraturan pemerintah tempat kami bernaung. Kami memandang pemberontakan dan pembangkangan terhadap pemerintah yang berkuasa sebagai sesuatu yang sama-sekali tidak dibenarkan dan bertentangan dengan ajaran Islam. Kami memegang prinsip ini dengan seteguh-teguhnya dimana pun kami berada.</p>
<p>Kami percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan-Nya kepada umat manusia melalui semua agama besar mengenai turunnya seorang nabi di akhir zaman telah menjadi kenyataan di dalam diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah. Beliau adalah Almasih yang ditunggu-tunggu oleh umat Kristen; Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam; dan Krishna yang dinanti-nantikan oleh umat Hindu. (Dikutip dari: Akidah Dan Tujuan Jemaat Ahmadiyah; Suvenir Peringatan Seabad Gerhana Bulan &amp; Gerhana Matahari 1894-1994, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1994, h.46-47).</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Latar Belakang Keluarga Hz.Mirza Ghulam Ahmad<br />
Hz.Mirza Ghulam Ahmad berasal dari suatu rumpun keluarga yang merupakan pendatang dari Samarqand, sebuah kota di Asia Tengah. Nenek-moyang beliau hijrah dari Samarqand menuju Punjab, India pada awal abad keenambelas, di masa kekuasaan Emperor Babar dari Dinasti Moghul. Mereka memohon untuk dapat berkhidmat kepada dinasti tsb. dan mendapat kepercayaan di kawasan Punjab. [Lihat karangan-karangan Lepel H. Griffin: The Punjab chiefs (Lahore,1865),h.380-381; The Panjab chiefs (edisi baru, Lahore,1890),vol.2,h.49-50; Chiefs and families in the Panjab..., dikoreksi dan direvisi oleh W.L.Conran dan H.D.Craik (Lahore,1910),vol.2,h.40-41. Tentang silsilah keturunan keluarga tsb. lihat: Revised pedigree tables of the families mentioned in Griffin's "Punjab chiefs" and Massy's "Chiefs and families of note in the Punjab" (Lahore,1899),h.76. Sumber:Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.2]</p>
<p>Beliau adalah keturunan dari Haji Barlas, yang merupakan paman Amir Timur. Timur berasal dari suku Barlas yang terkenal dan yang menguasai kawasan Kish selama 200 tahun. Kawasan ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana, yangmana ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari Bhs.Farsi. Barlas juga demikian, artinya: pemuda gagah berani dari kalangan terhormat. Mirza Hadi Beg memimpin hijrah dari Samarkand tsb. menuju Punjab, India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka membangun sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari sungai Bias, dan menamakannya Islampur. Emperor Babar memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi disana. Sehingga kampung kediaman beliau itu dikenal dengan nama Islampur Qazi. Akhirnya nama ini tinggal Qazi dan lebih dikenal dengan sebutan Qadi yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.7-8)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Kelahiran &amp; Pendidikan Awal<br />
Hz.Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan kembar di Qadian pada tahun 1835. Saudara kembar beliau (perempuan) wafat beberapa hari setelah lahir. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.27)</p>
<p>Semenjak kecil beliau tidak pernah belajar di sekolah/madrasah ataupun suatu institusi pendidikan formal. Pada usia sekitar 7 tahun (sekitar thn.1841) beliau dididik oleh seorang guru privat yang bernama Fazl Ilahi. Ia seorang penduduk Qadian dan penganut mazhab Hanafiah. Ia mengajarkan Al-Quran dan beberapa dasar buku pelajaran bahasa Farsi. Pada usia 10 tahun Hz.Mirza Ghulam Ahmad dididik oleh guru privat bernama Fazl Muhammad. Ia berasal dari Feroze-wala, Gujran-wala, dan dari kelompok Ahli-Hadis. Ia mengajarkan dasar-dasar tata-bahasa Arab. Dan pada usia 17 atau 18 tahun beliau dididik oleh seorang guru Shiah, bernama Gul Ali Shah. Guru ini mengajarkan lebih lanjut tata-bahasa Arab dan juga mantik/logika. Selain itu ayah beliau adalah seorang tabib yang mahir, maka beliau pun memperoleh pendidikan dalam bidang ilmu ketabiban ini. Dan beliau mempunyai kecenderungan banyak menelaah buku-buku. Terutama dari perpustakaan keluarga yang masih terpelihara sejak turun-temurun. (Lihat: Sirrul-Khilafa, Mirza Ghulam Ahmad, Amritsar,1894,h.7; Life ofAhmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.29; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.3)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Zaman Pergolakan &amp; Perubahan Dunia<br />
Banyak perubahan dan pergolakan sosio-politik dunia pada masa-masa itu. Imperialisme Barat menampakkan warnanya. Inggris Raya sedang jaya-jayanya hampir di seluruh belahan bumi ini. Namun sejauh yang berkaitan dengan masalah agama Kerajaan Inggris memberikan jaminan kebebasan beragama, khususnya dalam toleransi beragama. Yaitu dengan disahkannya rancangan undang-undang Emansipasi Katolik (Catholic Emancipation Bill) pada tahun 1829, yangmana dasarnya adalah penghapusan diskriminasi dalam perkara-perkara sipil dan kesama-rataan dalam hak-hak politis.</p>
<p>Banyak hal yang merubah pola pikir dan cara hidup dunia. Rancangan pembuatan terusan Suez sudah mulai dijajaki semenjak tahun 1833. Dan Terusan Suez itu selesai dibuat pada tahun 1865. Mesin cetak plat baja sudah ditemukan pada akhir abad ke-18. Dan mesin cetak praktis yang menggunakan tenaga uap pertama kali diproduksi dan digunakan pada tahun 1814. Kenderaan-kenderaan atau alat-alat transportasi praktis yang menggunakan tenaga uap dirancang pada tahun 1802, dan pada tahun 1824 sudah banyak yang beredar dengan sukses. Daimler menemukan internal-combustion-motor pada tahun 1885 yang menggunakan minyak/petroleum spirit. Kapal uap pertama mulai menjelajahi jarak antara Liverpool dan Glasgow pada tahun 1815. Jaringan kereta-api pun mulai dibuka di Inggris pada tahun 1825. Electric telegraphy mulai digunakan pada tahun 1820 sebagai sarana komunikasi antar berbagai tempat di seluruh dunia. Mesin elektro-magnetik mulai digunakan pada tahun 1832. Pada tahun 1846 telah ditemukan sistim anaesthetik. Dan sistim antiseptik dalam perawatan luka mulai diakui pada tahun 1867. Penelitian Pasteur tentang teori kuman pada penyakit-penyakit infeksi dimulai pada tahun 1850. Dan malaria serta tuberculosis ditemukan pada tahun 1880. Penggunaan listrik secara komersial untuk sarana penerangan telah dimulai pada tahun 1879. Dan telephone ditemukan pada tahun 1876. Demikian pula X-ray ditemukan pada tahun 1895. Ringkasnya banyak sekali penemuan-penemuan baru yang mengubah pola pikir dan pola hidup manusia. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Kebangkitan Kristen<br />
Selain itu di bidang keagamaan, missi-missi Kristen mulai bergerak dengan gencarnya di seluruh dunia semenjak tahun 1804, khususnya ketika British &amp; Foreign Bible Society terbentuk. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)</p>
<p>Bahkan kurun waktu antara tahun 1815 hingga 1914 telah ditetapkan oleh kelompok Kristen sebagai The Great Century of World Evangelization (Abad Agung Penginjilan Dunia). Dan anak-benua India merupakan sebuah sasaran yang dijadikan sebagai proyek besar bagi gerakan penginjilan/kristenisasi itu. Dan jutaan orang masuk ke dalam agama Kristen melalui gerakan-gerakan missionaris Kristen disana. Misalnya: missi-missi Kristen dari Inggris antara lain Methodists masuk ke India pada tahun 1819; Scottish Presbyterians masuk pada tahun 1823. Sedangkan missi-missi Kristen dari Amerika antara lain: Congregationalist (American Board) masuk ke India pada tahun 1810; Presbyterians pada tahun 1834; Baptists pada tahun 1836; Lutherans pada tahun 1840; dan Methodists pada tahun 1856. Kemudian German Gossner Mission masuk pada tahun 1839. Dan Scandinavian Lutherans pada tahun 1867. Dan uniknya Ratu Victoria memproklamirkan kebebasan beragama serta sikap tidak memihak Kerajaan Inggris Raya pada suatu agama, di India pada tahun 1858. (Lihat: World Christian Encyclopedia, David B.Barrett, Oxford,1982,p.23-30)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Kebangkitan Gerakan Neo-Hindu<br />
Bersamaan dengan itu di anak-benua India pun bermunculan kelompok-kelompok Neo-Hindu yang gencar menghadapi perkembangan zaman. Diantaranya yang paling militan dan agressif adalah sekte Arya Samaj(Aryan Society) yang didirikan pertama kali pada tahun 1875 di Bombay oleh Swami Dayananda Saraswati (1824-1883). Ini adalah suatu gerakan yang ingin mengembalikan kemurnian agama Hindu dan menampilkannya sebagai suatu kebanggaan nasional India. Swami Dayananda Saraswati ini mulai mengembangkan ajaran Neo-Hindu-nya sejak tahun 1865. Alirannya banyak menentang pemahaman-pemahaman Hindu Brahma yang ortodox. Selain itu mereka melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kristen maupun Islam. Swami Dayananda Saraswati yang digelari &#8220;Hindu Luther&#8221; oleh penentangnya, juga menulis sebuah &#8216;Bible&#8217; Arya Samaj yang bernama Satyarth Prakash, yang berisikan penafsiran/terapan-terapan ayat Veda yang menggambarkan sikap Hindu terhadap agama-agama lainnya dan terhadap permasalahan-permasalahan sosial kontemporer. Sekte ini berkembang menjamur di India dengan cepat, khususnya di wilayah Punjab. (Lihat:The Raj, India &amp; the British 1600-1947, C.A.Bayly, National Potrait Gallery Publications, London,1990,p.305-306; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.61; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,foot note p.4)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Buku Barahiin Ahmadiyyah<br />
Kondisi Islam pada saat itu benar-benar menyedihkan. Di satu sisi gerakan Kristenisasi sedang gencar-gencarnya berjalan di India dan menarik ratusan ribu orang masuk ke dalam agama Kristen dan di sisi lain serangan-serangan pihak Hindu terhadap Islam, Al-Quran dan terhadap wujud suci Nabi Muhammad Mustafa saw..</p>
<p>Kondisi inilah yang banyak mewarnai kehidupan awal daripada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Beliau banyak menelaah literatur-literatur yang berkaitan dengan agama-agama tersebut. Beliau secara personal banyak terlibat dalam upaya-upaya untuk membela Islam dari serangan-serangan di kedua arah tsb.. Disamping itu beliau sendiri mengalami perkembangan rohaniah.</p>
<p>Sejak tahun 1872 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sudah giat membela Islam membalas serangan-serangan dari kelompok Kristen dan kelompok Hindu khususnya Arya Samaj dan Brahmu Samaj. Beliau banyak menulis artikel-artikel berkenaan dengan itu di berbagai media massa. Antara lain jurnal Manshur Muhammadi yang terbit dari Bangalore, Maysore, India Selatan, setiap 10 hari sekali. Kemudian pada beberapa surat-kabar yang terbit dari Amritsar a.l: Wakil; Safir Hind; Widya Prakash; dan Riaz Hind. Demikian pula pada Brother Hind (Lahore), Aftab Punjab (Lahore), Wazir Hind (Sialkot), Nur Afshan (Ludhiana) dan Isyaatus-Sunnah (Batala). Begitu juga pada Akhbar-e-Aam (Lahore). (Lihat: Ahmadiyyat, The Renaissance of Islam, Muhammad Zafrullah Khan, Tabshir Publications, London,1978,h.16; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.63)</p>
<p>Melihat serangan terhadap Islam semakin menjadi-jadi, dan tidak ada upaya berarti yang dilakukan oleh pemuka-pemuka Islam, maka berdasarkan bimbingan dari Allah Ta&#8217;ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. mulai menulis buku Barahiin Ahmadiyya. Jilid 1 dan 2 diterbitkan pada tahun 1880; jilid 3 terbit pada tahun 1882; dan jilid 4 pada tahun 1884. Intinya beliau memaparkan bukti-bukti keunggulan dan hidupnya agama Islam serta ketinggian/kemuliaan Kitab Suci Al-Quran dan Rasulullah saw. sebagai perbandingan dengan agama Hindu, Kristen dan agama-agama lainnya.</p>
<p>Pada jilid pertama beliau lebih memfokuskan pada balasan serangan terhadap ajaran Arya Samaj yang menghina Rasulullah saw., Nabi Isa as., dan Nabi Musa as. serta yang menuduh kitab-kitab suci para nabi tsb. adalah palsu. Disamping itu beliau menyerang akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan, melainkan telah ada dengan sendirinya sejak awal-permulaan. (Barahiin Ahmadiyyah, Rohani Khazain vol.1,h.72; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70)</p>
<p>Jilid kedua masih berkenaan dengan akidah-akidah Arya Samaj. Kemudian mengenai kedudukan dan perlunya wahyu. Mengenai keunggulan Kitab Suci Al-Quran atas kitab-kitab agama lainnya. Dan juga beliau menekankan kaidah dasar pembuktian kebenaran suatu agama yang harus berdasarkan pada kitab suci yang diakui oleh agama itu sendiri. Pada jilid ketiga beliau merinci keindahan dan kemuliaan Al-Quran. Beliau menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada Al-Quran. Dan beliau menyatakan bahwa beliau menerima wahyu-wahyu dari Allah Ta&#8217;ala dan beliau bersedia untuk membuktikan kebenarannya. Pada jilid keempat beliau membahas tentang bentuk asli bahasa umat manusia; tentang kedudukan mukjizat dan pentingnya nubuatan-nubuatan/ khabar-ghaib seorang nabi berkenaan masa mendatang. Beliau memaparkan konsep-konsep agama Budha, Kristen dan Hindu Arya Samaj tentang Tuhan, dan membuktikan keunggulan ajaran Islam. Dan kitab-kitab Yahudi pun beliau paparkan sebagai perbandingan dengan Al-Quran. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70-76)</p>
<p>Salah satu aspek yang sangat beliau tekankan dan beliau tampilkan sebagai bukti tetap hidupnya agama Islam hingga hari Kiamat adalah adanya hubungan komunikasi yang hidup antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya. Beliau paparkan sendiri pengalaman-pengalaman rohaniah beliau dalam bentuk wahyu, ilham, rukya-rukya, maupun kasyaf.</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Reaksi &amp; Dukungan Ummat Bagi Barahiin Ahmadiyyah<br />
Sebelumnya, Hz.Mirza Ghulam Ahmad tidak begitu dikenal. Dan beliau berjuang sendirian. Namun setelah penerbitan buku Barahiin Ahmadiyyah, keadaan menjadi berubah dan beliau mulai dikenal dan tampil secara terbuka. Barahiin Ahmadiyyah mendapat sambutan yang sangat besar dari kalangan umat Islam. Buku ini telah menimbulkan suatu kejutan dan gejolak revolusi besar bagi pihak-pihak non-Islam maupun bagi kalangan Islam sendiri. Para pemuka Islam yang tadinya telah kehilangan nyali, seolah-olah mendapatkan seorang pembela Islam yang ulung sehingga mereka serentak berdiri di belakang beliau mendukung, dalam menghadapi serangan-serangan pihak non-Islam. Berikut ini beberapa kutipan sambutan dan dukungan tokoh-tokoh Islam India pada masa itu.</p>
<p>Mlv.Muhammad Hussein Batalvi, seorang tokoh terkemuka dari kelompok Ahli Hadis di India, banyak memberikan sanjungan terhadap buku Barahiin Ahmadiyyah maupun terhadap penulisnya. Beliau ini adalah seorang tokoh yang sangat mendukung perjuangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad a.s. pada mulanya, namun pada akhirnya beliau berubah menjadi penentang keras beliau as.. Di dalam salah satu risalahnya, Mlv.Muhammad Hussein Batalvi menuliskan kesaksian beliau tentang buku Barahin Ahmadiyah:</p>
<p>&#8220;Menurut pendapat saya &#8212; pada zaman sekarang dan sesuai kondisi yang berlaku &#8212; buku ini adalah sedemikian rupa, yangmana sampai saat ini di dalam Islam tidak ada bandingannya yang telah ditulis, dan tidak pula ada khabar di masa mendatang&#8230;. Penulisnya pun &#8212; dalam hal memberikan bantuan kepada Islam dari segi harta, jiwa, tulisan maupun lisan &#8212; sangat teguh dan kukuh pada langkah-langkahnya. Sehingga sangat sedikit ditemukan contoh yang seperti beliau, walau dari kalangan umat Islam terdahulu sekali pun&#8230;&#8221; (Risalah Isyaatus-Sunnah jld.7, no.6-11; Swanah Fazl Umar, Jld.I, hal.20)</p>
<p>Kemudian berikut ini ulasan dari seorang tokoh sufi terkenal di India yang berasal dari Ludhiana. Yaitu Hz.Sufi Ahmad Jaan r.a.. Banyak murid maupun pengikut beliau yang menjadi tokoh-tokoh pemuka agama Islam saat itu. Sang sufi ini menuliskan ulasan tentang buku Barahiin Ahmadiyyah di dalam sebuah selebaran beliau yang berjudul Isytihar Wajibul Izhar:</p>
<p>&#8220;Di zaman abad ke empatbelas telah berkecamuk sebuah tofan kebobrokan di dalam setiap agama. Seperti yang dikatakan orang: orang-orang kafir baru banyak bermunculan, dan orang-orang Islam baru pun banyak bermunculan. Tidak diragukan lagi, diperlukan sebuah buku dan seorang mujaddid seperti Barahiinn Ahmadiyah serta penulisnya Maulana Mirza Ghulam Ahmad Sahib. [Yaitu] yang dengan berbagai cara siap untuk membuktikan da&#8217;wah Islam atas para penentang. Beliau bukanlah berasal dari kalangan ulama maupun cendekiawan umum. Melainkan secara khusus [datang] untuk tugas ini sebagai utusan dari Allah; penerima ilham dan yang bercakap-cakap dengan Allah&#8230;. Sang penulis adalah mujaddid, mujtahid, muhaddats bagi abad-keempat belas ini, dan merupakan seorang yang kamil dari kalangan umat ini. Hadis Nabawi ini pun mendukung beliau: &#8216;Ulama ummati kalanbiyaa Bani Israil&#8217;&#8230; Wahai para penelaah! Dengan niat yang benar serta dengan semangat kebenaran yang sempurna saya menyampaikan hal ini, bahwa tidak diragukan lagi bahwasanya Mirza Sahib adalah mujaddid era ini. [Beliau merupakan] &#8216;pedoman&#8217; bagi para pencari jalan [kebenaran]; matahari bagi orang-orang yang berhati batu; penunjuk jalan bagi orang-orang yang sesat; pedang nyata bagi para pengingkar Islam; hujjah sempurna bagi para pendengki. Yakinilah bahwa tidak akan datang lagi masa yang seperti ini. Ketahuilah, bahwa masa ujian telah tiba. Dan Hujjah Ilahi telah tegak. Dan bagaikan matahari jagat raya, telah diutus seorang Haadi Kamil (pemberi petunjuk yang sempurna), supaya ia menganugerahkan nur kepada orang-orang yang benar dan mengeluarkan [mereka] dari kegelapan dan kesesatan. Serta akan menghujjat para pendusta&#8221;. (Swanah Fazl Umar, jld.I, hal.21-22)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Reaksi Pendukung &amp; Permintaan Untuk Menerima Baiat<br />
Banyak dari kalangan umat Islam yang berkeinginan untuk menjadi murid beliau dan meminta agar beliau mau menerima bai&#8217;at mereka.</p>
<p>Pada bulan Maret 1882 pertama kali Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperoleh perintah dari Allah Ta&#8217;ala bahwasanya beliau dijadikan Ma&#8217;mur Minallah (Utusan Allah). Dari itu juga beliau menyatakan diri sebagai Mujaddid. Wahyu ini beliau terbitkan di dalam Barahiin Ahmadiyyah jilid I edisi pertama pada cat.kaki pd.cat.kaki hal.238. (Adapun bunyi wahyu tsb. adalah: &#8220;Qul inny umirtu wa&#8217;anaa awwalul-mu&#8217;miniyn &#8212; [Katakanlah, aku telah diutus/diperintahkan, dan akulah yang pertama beriman]&#8220;. (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h.44; Rohani Khazain jld.1,h.265)</p>
<p>Semenjak awal tahun 1883 sudah banyak orang yang mengutarakan keinginan mereka untuk bai&#8217;at di tangan beliau. Namun beliau belum dapat menerimanya sebab belum ada petunjuk dari Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Akhirnya setelah ada petunjuk dari Allah Ta&#8217;ala pada bulan Februari atau Maret 1888, maka pada akhir tahun 1888 beliau menyebarkan selebaran undangan untuk bai&#8217;at, yang beliau tujukan kepada para pencahari kebenaran.</p>
<p>Dan pengambilan bai&#8217;at yang pertama berlangsung di Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889. Pada bai&#8217;at pertama ini sebanyak 40 orang menyatakan ikrar bai&#8217;at mereka di tangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Inilah yang dinyatakan sebagai peletakan fondasi pertama dari Jemaat Ahmadiyah (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.139-140, 151-159)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Reaksi &amp; Penentangan Dari Pihak Non-Islam<br />
Sebaliknya, Barahiin Ahmadiyyah telah membangkitkan reaksi keras dari kalangan non-Islam, terutama Hindu Arya Samaj, yang kemudian diikuti oleh kelompok Kristen. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mulai menghadapi mereka langsung dengan mengadakan perdebatan-perdebatan.</p>
<p>Yang pertama berlangsung adalah perdebatan beliau dengan seorang guru dan anggota Arya Samaj, Lala Murli Dhar, pada bulan Maret 1886 di Hosyiarpur. Dhar menyerang pendapat Islam berkenaan dengan mukjizat Syaqqul-Qamar, sedangkan Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengecam akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan telah ada dari sejak awal. (Lihat: Surmah Chasm Arya &amp; Rohani Khazain jld.2,h.49-308; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,p.4-5)</p>
<p>Kemudian pada tahun 1886 itu juga Pandit Lekh Ram dari Arya Samaj menyerang Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Ia menerbitkan buku dan selebaran-selebaran yang mencaci maki Rasulullah saw. dan Islam serta menghina diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Terjadi polemik keras antara keduanya. Pandit Lekh Ram mengalami kematian yang tragis dan misterius pada tahun 1897 setelah adanya nubuatan-nubuatan dari Hz.Mirza Ghulam Ahmad.</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Penda&#8217;waan Hz.Mirza Ghulam Ahmad &amp; Gelombang Penentangan<br />
Pada akhir tahun 1890 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu yang menyatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat dan Almasih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman itu beliau lah orangnya. (Yakni: &#8220;Masih Ibnu Maryam Rasulullah faot hocuka he, aor uske rangg me ho kar wa&#8217;dah ke muwafiq tu aya he &#8212; [Masih ibnu Maryam rasul Allah, telah wafat. Sesuai dengan janji, engkau datang dengan menyandang warnanya." (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h,183; Izalah Auham, Mirza Ghulam Ahmad,jld.2,h.561-562; Rohani Khazain, Add.Nazir Ishaat, London, jld.3,h.402)</p>
<p>Dan pada awal tahun 1891 beliau menda'wakan diri beliau sebagai Almasih yang dijanjikan atau Masih Mau'ud, dan juga sebagai Imam Mahdi. (Da'watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xii)</p>
<p>Semenjak itu gelombang penentengan semakin marak. Yakni dari kalangan umat Islam sendiri dan juga dari kalangan Kristen. Semenjak itu banyak terjadi perdebatan-perdebatan seputar hidup matinya Nabi Isa. Beberapa perdebatan penting antaranya adalah sbb..</p>
<p>Dari kalangan umat Islam yang menentang justru bekas sahabat beliau yang memberikan dukungan sepenuhnya terhadap karya beliau Barahiin Ahmadiyyah, yaitu Muhammad Hussein Batalwi, seorang tokoh Ahli Hadis terkemuka di India pada masa itu. Sebab Muhammad Hussein Batalwi berakidah bahwasanya Nabi Isa as. masih hidup di langit dan akan turun ke bumi. Perdebatan ini berlangsung di Ludhiana pada bulan Juli 1891.</p>
<p>Kemudian masih mengenai Nabi Isa, berlangsung perdebatan di Delhi pada bulan Oktober 1891 antara Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. dengan Muhammad Nazir Hussein dan Abu Muhammad Abdul Haq.</p>
<p>Dari kalangan Kristen yang tampil adalah Henry Martin Clark, seorang tokoh Kristen yang mendirikan missi kesehatan dari Church Missionary Society di Amritsar pada tahun 1892. Pada bulan April 1893 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. menerima tantangannya untuk mengadakan perdebatan. Perdebatan itu sendiri berlangsung selama 15 hari pada bulan Mei 1893. Dalam perdebatan tsb. Clark dibantu oleh Abdullah Atham, seorang tokoh Kristen yang berasal dari Islam. Inti perdebatan adalah tentang ketuhanan Jesus.</p>
<p>Pada tahun 1891 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menulis buku Izalah Auham dimana beliau memaparkan sebanyak 30 dalil Al-Quran berkenaan dengan telah wafatnya Nabi Isa as..</p>
<p>Pada tahun 1898 diperoleh informasi bahwasanya kuburuan Nabi Isa ada di Srinagar, Kashmir, India. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan expedisi untuk menyelidiki hal itu. Dan pada tahun 1899 beliau menulis buku Masih Hindustan Me (Almasih di India). Di dalam buku ini beliau memaparkan kesaksian-kesaksian Bible bahwa Nabi Isa itu tidak mati di tiang salib, melainkan selamat dari kematian di tiang salib yang terkutuk itu. Dan dari bukti-bukti sejarah Hz.Mirza Ghulam Ahmad memaparkan bahwasanya setelah peristiwa penyaliban itu Nabi Isa pergi mencari domba-domba Bani Israil yang hilang ke kawasan Asia tengah. Mulai dari Syiria, Iraq, Iran, Afghanistan, sampai ke India. Dan akhirnya wafat dan dikebumikan di Srinagar, Kashmir, India.</p>
<p>Pada tahun 1901 Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperjelas penda'waan beliau sebagai nabi zilli (bayangan) dan ummati (selaku umat Nabi Muahammad saw.) yang merupakan berkat mengikuti dan mematuhi sepenuhnya Syariat dan Sunnah Rasulullah saw.. (Lihat: Da'watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xiii)</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Karya-karya Tulis Hz.Mirza Ghulam Ahmad<br />
Disamping beliau menghadapi polemik-polemik tsb. dengan berbagai kalangan tokoh agama, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sangat giat menulis buku-buku. Tercatat sebanyak 88 judul buku yang beliau tulis di dalam beberapa bahasa, antara lain Bhs.Urdu, Arab, dan Farsi. Kumpulan karya tulis beliau ini kini diterbitkan dalam satu set dengan nama Rohani Khazain yang terdiri dari 23 volume.</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Media-media Massa Yg Diterbitkan Oleh Hz.Mirza Ghulam Ahmad<br />
Selain itu Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. di masa hidup beliau juga menerbitkan media-media massa untuk menyebar-luaskan misi pertablighan Islam. Mingguan Al-Hakam (Urdu) mulai terbit sejak tahun 1897. Kemudian Al-Badr mulai terbit sejak tahun 1902, juga dalam Bhs.Urdu. Sedangkan The Review of Religions dalam Bhs.Inggris mulai terbit pada tahun 1902.</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Gerakan Al-Wasiyyat &amp; Kewafatan<br />
Pada tahun 1905, berdasarkan petunjuk Allah Ta&#8217;ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad mencanangkan suatu gerakan yang dinamakan Al-Wasiyyat. Yakni suatu gerakan pengorbanan harta dalam bentuk wasiyat, untuk memajukan dan menyebar-luaskan Islam ke seluruh dunia. Beliau membentuk sebuah badan utama yang dinamakan Sadr Anjuman. Yaitu yang akan mengelola segala permasalahan sekular missi tsb.. Dan beliau mewasiatkan tentang akan adanya silsilah khilafat yang akan menggantikan beliau dan akan memimpin missi tsb..</p>
<p>Dan Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat di Lahore pada tanggal 26 Mei 1908. Jenazah beliau dibawa ke Qadian dan dikebumikan disana.</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Silsilah Khilafat &amp; Perkembangan Ahmadiyah Di Seluruh Dunia<br />
Setelah Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat, beliau digantikan oleh Khalifatul Masih I, yaitu Hz.Mlv.Hafiz Hakim Nuruddin ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke Eropa sudah dimulai pada masa beliau ini.</p>
<p>Khalifatul Masih I wafat pada tahun 1914 dan digantikan oleh Khalifatul Masih II, yaitu Hz.Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke seluruh dunia lebih terorganisir. Pengorganisiran itu beliau wujudkan pada tahun 1935 dalam bentuk suatu gerakan yang dikenal dengan nama Tahrik Jadid (Gerakan Baru). Di dalam gerakan ini beliau menghimpun dana sukarela dari para anggota dan mengumpulkan tenaga-tenaga sukarela yang mewakafkan diri mereka untuk pengembangan Islam ke seluruh dunia. Pada masa Khalifatul Masih II ini Jemaat Ahmadiyah telah berkembang di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.</p>
<p>Setelah memimpin selama lebih-kurang 50 tahun, Khalifatul Masih II wafat pada tahun 1965 dan digantikan oleh Khalifatul Masih III, yaitu Hz.Mirza Nasir Ahmad. Beliau wafat pada tahun 1982 dan digantikan oleh Hz.Mirza Tahir Ahmad sebagai Khalifatul Masih IV yang memimpin Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia pada saat sekarang ini.</p>
<p>Kini Jemaat Ahmadiyah telah tersebar di lebih dari 140 negara di dunia. Program-program penyebaran Islam ke seluruh dunia dan pengkhidmatan kepada umat manusia dalam bentuk penghimbauan kepada Allah Ta&#8217;ala (Da&#8217;wah Ilallah), dijadikan sebagai prioritas utama. Misalnya pengiriman muballigh-muballigh ke manca-negara; penerjemahan Al-Quran dan tafsirnya ke dalam berbagai bahasa (target:100 bahasa dunia). Pembangunan mesjid-mesjid dan sarana-sarana lainnya. Pengembangan literatur-literatur yang menyinggung berbagai aspek. Pengembangan sarana dakwah Islam melalui satelit dalam program MTA (Muslim Television Ahmadiyya) dsb..</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Ahmadiyah Di Indonesia<br />
Missi Jemaat Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Latar-belakangnya adalah sikap keingin-tahuan beberapa pemuda Indonesia yang berasal dari pesantren/madrasah Thawalib, Padang Panjang, Sumatra Barat.</p>
<p>Thawalib yang beraliran modern, berbeda dengan institusi-institusi Islam ortodox pada masa itu. Misalnya, para santrinya tidak hanya mendalami Bhs.Arab maupun Arab Melayu tetapi juga sudah diperkenankan membaca tulisan Latin.</p>
<p>Beberapa santrinya membaca di dalam sebuah surat-kabar tentang orang Inggris yang masuk Islam di London melalui seorang da&#8217;i Islam berasal dari India, Khwaja Kamaluddin. Hal ini sangat menarik perhatian mereka. Dan inilah yang mendorong beberapa santri tsb. untuk mencari tokoh itu. Zaini Dahlan, Abu Bakar Ayyub, dan Ahmad Nuruddin adalah tiga orang santri Thawalib yang berangkat untuk tujuan tsb.. Mereka sampai di Lahore (masa itu masih India, kini masuk wilayah Pakistan) pada tahun 1923.</p>
<p>Dari Lahore mereka lebih dalam masuk ke Qadian dan berdialog dengan pimpinan Jemaat Ahmadiyah pada saat itu, Khalifatul Masih II ra.. Dan akhirnya mereka bai&#8217;at dan belajar di Qadian mendalami Ahmadiyah.</p>
<p>Atas permohonan mereka kepada Khalifatul Masih II, maka dikirimlah utusan pertama Jemaat Ahmadiyah ke Indonesia pada tahun 1925. Yaitu Hz.Mlv.Rahmat Ali ra..</p>
<p>Pertama-tama beliau masuk dari Aceh ke Tapaktuan. Tahun 1926 beliau menuju Padang. Dan tahun 1929 Jemaat Ahmadiyah sudah berdiri di Padang. Pada tahun 1930 beliau menuju Batavia/Jakarta, dan tahun 1932 Jemaat Ahmadiyah telah berdiri di Batavia/Jakarta. Mulai dari itu banyak jemaat/cabang-cabangnya berdiri di Jawa Barat dan kawasan-kawasan lainnya. Saat ini Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan 181 jemaat-lokalnya (cabang) telah berdiri di seluruh provinsi di Indonesia.</p>
<p>Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak tahun 1935 berada di Jakarta. Dan pada tahun 1987 pindah ke Parung, Bogor.</p>
<p>[Kembali ke Atas]</p>
<p>Penyusun: MI &amp; Ir.Syarif Ahmad Lubis MSc</p>
<p>Revisi: 1994</p>
<p>http://www.alislam.org/indonesia/latar.html#Media</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tabahmadiyahjf.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tabahmadiyahjf.wordpress.com&amp;blog=10479006&amp;post=17&amp;subd=tabahmadiyahjf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabahmadiyahjf.wordpress.com/2009/11/21/latar-belakang-berdirinya-jemaat-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
